Rabu, 01 November 2006
Empat Cara Penyelundupan Hukum Bagi Pasangan Beda Agama
Meskipun sudah dilarang, perkawinan beda agama masih terus dilakukan. Berbagai cara ditempuh, demi mendapatkan pengakuan dari negara.
M-3/M-1/Tif
Dibaca: 58036 Tanggapan: 34

Dalam satu seminar di Depok, Guru Besar Hukum Perdata Universitas Indonesia Prof. Wahyono Darmabrata, menjabarkan ada empat cara yang populer ditempuh pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dilangsungkan. Empat cara tersebut adalah meminta penetapan pengadilan, perkawinan dilakukan menurut masing-masing agama, penundukan sementara pada salah satu hukum agama dan menikah di luar negeri.

 

Meminta penetapan pengadilan terakhir kali dilakukan oleh Andi Vonny Gani pada 1989. Jika RUU Adminduk yang saat ini sedang dibahas DPR disahkan, akan lebih banyak lagi penetapan pengadilan dimohonkan. Ketua Konsorsium Catatan Sipil Lies Sugondo menyatakan bahwa solusi penetapan pengadilan yang disarankannya turut dimasukkan dalam RUU Adminduk.

 

Perkawinan menurut masing-masing agama merupakan interpretasi lain dari pasal 2 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pagi menikah sesuai agama laki-laki, siangnya menikah sesuai dengan agama perempuan. Masalahnya adalah perkawinan mana yang sah? Terhadap cara ini, Prof Wahyono menyatakan perlu penelitian lebih jauh lagi.

 

Penundukan diri terhadap salah satu hukum agama mempelai mungkin lebih sering digunakan. Dalam agama Islam, diperbolehkan laki-laki Islam menikahi wanita non-Islam, yang termasuk ahlul kitab. Ayat Al-Quran inilah yang dipraktekkan sungguh oleh lembaga-lembaga seperti Paramadina, Wahid Institute, dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), bahkan diperluas jadi memperbolehkan kawin beda agama bagi wanita muslim.

 

Kasus yang cukup terkenal adalah perkawinan artis Deddy Corbuzier dan Kalina, pada awal 2005 lalu. Deddy yang Katolik dinikahkan secara Islam oleh penghulu pribadi yang dikenal sebagai tokoh dari Yayasan Paramadina.

 

Untuk perkawinan beda agama, mantan Menteri Agama Quraish Shihab berpendapat agar dikembalikan kepada agama masing-masing. Yang jelas dalam jalinan pernikahan antara suami dan istri, pertama harus didasari atas persamaan agama dan keyakinan hidup. Namun pada kasus pernikahan beda agama, harus ada jaminan dari agama yang dipeluk masing-masing suami dan istri agar tetap menghormati agama pasangannya.  Jadi jangan ada sikap saling menghalangi untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya, kata Quraish.

 

Pernyataan Quraish ternyata senada dengan pernyataan Romo Andang Binawan SJ., dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya. Romo Andang juga menerangkan hukum gereja Katholik memperbolehkan perkawinan beda agama selama calon mempelai non-Katholik bersedia berjanji tunduk pada hukum perkawinan Katholik, monogami dan tidak bercerai seumur hidup, serta membiarkan pasangannya tetap memeluk Katholik.

 

Sudhar Indopa, pegawai Kantor Catatan Sipil DKI Jakarta, Mei lalu di depan seminar tentang perkawinan beda agama yang diselenggarakan Lembaga Kajian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Indonesia terang-terangan menyatakan negara bukannya tidak mau mengakomodir perkawinan beda agama. Larangan tersebut tidak datang dari negara melainkan dari agama. Sepanjang tidak ada pengesahan agama, adalah tidak mungkin catatan sipil mencatat sebuah perkawinan, tandas Sudhar.

 

Pendapat berbeda disampaikan pengajar hukum Islam di UI Farida Prihatini. Farida menegaskan bahwa MUI melarang perkawinan beda agama. Pada prinsipnya, lanjut Farida, agama-agama lain juga tidak membolehkan, bukan hanya agama Islam. Semua agama tidak memperbolehkan kawin beda agama. Umatnya saja yang mencari peluang-peluang. Perkawinannya dianggap tidak sah, dianggap tidak ada perkwianan, tidak ada waris, anaknya juga ikut hubungan hukum dengan ibunya. Itu zina, tandas Farida.

 

Ketua Program Kenotariatan UI ini menolak anggapan jika dikatakan lebih baik menikah daripada kumpul kebo. Ia menilai hukum tidak akan tegak dengan baik jika masih ada penyelundupan hukum. Menurut ia, jika peraturannya sudah tegas, cukup ditegakkan saja.

 

Solusi terakhir adalah menikah di luar negeri. Lies melihat banyak artis yang lari ke luar negeri seperti Singapura dan Australia untuk melakukan perkawinan beda agama. Ia menjelaskan jika melakukan perkawinan di luar negeri, berarti tunduk pada hukum di luar negeri. Pasangan tersebut mendapat akte dari negara itu, kemudian akte di bawa pulang untuk dicatatkan saja. Artinya tidak memperoleh akte lagi dari negara.

 

Masalahnya kalau nanti mau cerai, apakah bisa di sini di Pengadilan Negeri? Saya rasa sih bisa kalau di Pengadilan Negeri. Tapi kalau luar negerinya ada yang beragama KUA, karena di luar negeri tidak ada KUA. Di luar negeri semua perkawinan dicatatkan di catatan sipil. Kalau Islam ya paling-paling di mesjid sana, tidak ada KUA, kata Lies saat dihubungi hukumonline.

 

Farida menilai Pemerintah tidak tegas. Meskipun UU tidak memperbolehkan kawin beda agama, tetapi Kantor Catatan Sipil bisa menerima pencatatan perkawinan beda agama yang dilakukan di luar negeri. Padahal, lanjut ia, Kantor Catatan Sipil merupakan produk negara. Dengan demikian, seharusnya yang dicatat KCS adalah sesuai dengan hukum Indonesia.  Secara hukum tidak sah. Kalau kita melakukan perbuatan hukum di luar negeri, baru sah sesuai dengan hukum kita dan sesuai dengan hukum di negara tempat kita berada. Harusnya kantor catatan sipil tidak boleh melakukan pencatatan, kata Farida.

 

bagaimana caranya yang harus di tempuh pemerintahan RI agar tidak terjadinya penyeludupan
 - muhammad fachrul rozy
17.07.14 15:35
kita harus menjaga ketentraman negara kita di indonesia jangan sampek seperti di palestina,GAJA kita harus rukun sesama umat walaupun berbeda agama jangan saling membenci satu sama lain
bikin pusing aja
 - gontai
24.09.13 12:27
negara mengakui 5 agama, tapi menikah beda agama aja gk diatur dengan baik...bikin pusing orang aja.
Gitu aja kok repot...!!!
 - Yoga
29.07.12 01:55
Kalau misalnya agama atau keyakinan jadi yang prinsip fundamental...sebaiknya ya seagama....!!! Kl tidak prinsip ya...silahkan salah satu harusnya pindah ke agama yang satunya....! Kalau mau aman...ya dari awal kriteria cari jodohnya yang sealiran atau mau diajak untuk sealiran....gitu aja kok repot....!
nikah beda agama,,,,bisa ga??
 - greta_anis
13.06.12 13:43
aku cewek 24 tahun saya islam dan sedang pacaran dengan cowok saya 26 tahun dia kristen. kami punya rencana untuk nikah,cuma dari kami ga ada yang mau mengorbankan agama kita masing2.Tapi selama kami pacaran 2 tahun masalah agama ga menggangu hubungan kami,Dia tetep ke gereja dan saya tetep solat dan puasa< solusi terbaik nya apa? SEdangkan kami percaya setiap agama menyarankan saling mencintai dan di dunia sengaja di berikan perbedaan agar kita bisa menyatukan dengan cinta.. lantas kenapa karena kita berbeda harus mengorbankan rasa cinta kita?? mohon solusi untuk menuju ke pernikahan nya,,,
Tanggapan
 - Mai
04.07.12 08:55
Tuhan kita memang menciptakan makhluknya dengan berbagai perbedaan yang indah, ada rahasia Tuhan yang tak selamanya bisa kita pahami. Jangan lupa bahwa ada pesan yang jelas untuk kita lakukan, "lakukanlah ajaran agamamu". Kalau dalam ajaran agama dikatakan jangan lakukan, mengapa kita harus lakukan dengan berdasarkan dalih menyatukan perbedaan dengan cinta. Cinta dan menerima perbedaan agama antar manusia tak harus dipraktikkan dengan menikah. Itu kurang tepat, agama ibarat baju bagi manusia, kapanpun dimanapun dibawa, dan susah dipertemukan dengan keyakinan lain. yo, sederhananya adalah, ada pakem-pakem tersendiri untukmu dan untuk dia, dan juga anak-anak kita.
percaya firman Allah
 - pebri tuwanto
03.12.15 08:00
Kesulitan yg kk alami boleh jadi membuat kk kebingungan, berfikirlah matang sebelum bertindak, apabila masih belum menemui jalan keluarnya maka kembalilah fiman Allah SWT “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216). there's a rainbow after the rain, pastinya ada rencana indah tak terduga dibalik ini semua,
nikah beda agama
 - toni zhen
23.01.12 00:31
dalam memeilih pasangan, Rasul telah mengajarkan kita melalui sabdanya, bahwa agama harus diprioritaskan, so agam sangat urgen dan nomor satu, klo menurut agama tidak boleh ya, janagn dilakukan, dikit2 HAM, agama harus ngikutin HAm? padahal isi dari HAM banyak kepentingan pribadi dan golongan yang ingin mengkerdilkan agama, islam is only the solution, so, ajaran agama adalah sgalanya yang akan mengatur setiap umatnya demi tergapainya kebahagiaan dunia dan akhirat
menikah dengan 2 cara
 - lia
16.11.11 11:47
saya kristen dan pcr sy muslim. kami ingin menikah dengan dua tata cara tampa harus mengorbankan agama kami masing2. secara pemberkatan dan akad. apakah itu bisa dilakukan?? jika bisa kemana kami harus mendaftarkan pernikahan kami dan apa yang harus kami katakan kepada pendeta & penghulu yang akan membantu kami melangsukan pernikahan kami????
Kasus sama
 - hernanto
25.11.11 13:19
Dear B. Lia Kasus anda sama dengan saya, lalu bagaimana apakah anda sdh ada solusinya. Mohon kami bisa diberikan info agar kami bisa melangsungkan pernikahan. thank's
bagaimana menikah dengan dua cara?
 - tania
24.02.15 15:52
dear lia bagaimana? kasus kita sama sy katolik pacar muslim. lebih sulit lagi kami sama2 PNS apakah bs sah secara hukum jika menikah di singapore? atau ada cara lain?
Untuk Ibu Farida
 - Fbinaural
07.11.11 08:02
untuk Ibu Farida, anda mengajar Hukum Islam, tapi jawaban anda tidak mencantumkan dalil hukum positis maupun dalil agama. bagaimana pendapat anda tentang Q.S. Al-Maidah ayat 5?
lebih banyak belajar
 - Abi NIsa
25.02.12 05:03
saudaraku, memahami ayat jangan pakai nafsu dan parsial. harus lebih banyak lagi yg harus dipelajari dari Agama Islam yg mulia ini. mengenai Ahlul Kitab, apakah anda tahu pengertian Ahlul Kitab?siapa saja mereka?apakah mereka asih ada dizaman sekarang?apakah disamakan dengan Biarawati?kita sudah termakan hasutan JIL yg memahami ayat dengan nafsu. sukakah anda ketikan anak wanita anda meminta izin untuk menikah dengan Non Muslim seandainya anda sendiri seorang Muslim?
Tidak adal larangan perkawinan beda agama
 - Djawara Putra Bledeg
21.05.09 07:22
UU No. 1 TH 1974 Tentang Perkawinan masih memberi kesempatan perkawinan beda agama--baca--Titik Terang Perkawinan Beda Agama--- di Google dan kunjungi juga--www.asiakita.com/djawara
kok githu
 - dyah
09.12.12 16:43
knp hrus trpaku pada UU No.1 thn 1974 tentang perkawinan yg notaben adl bwtan orang2 yng memiliki kpentngan tertentu pdahal setiap agama pasti memiliki hukum2 yang mengatur tentang nikah beda agama
Kerukunan
 - Rossupanji Pribadi
11.05.09 14:23
Jika orang yang berbeda agama bisa rukun dalam suatu perkawinan itu suatu hal yang luar biasa. Mungkin itu buah dari budaya kerukunan dalam keanekaragaman yang ada di negara kita Republik Indonesia. Didasari kasih sayang dan menghormati semua agama. NKRI berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Apakah ada larangan Tuhan untuk hal ini? Jika tidak, Sebaiknya negara menyimpan energi untuk hal-hal lain yang perlu diperbaiki..
nikah beda agama
 - momi
27.09.09 17:31
aneh sekali jika kita hidup dalam negara yang mengakui sahnya beberapa agama, kemudian melarang perkawinan beda agama. Berhubungan dengan sesama yang beda agama, tentunya tidak bisa dihindari dalam kehidupan bangsa kita. Kalo memang tegas melarang nikah beda agama, sekalian saja akui 1 agama di Indonesia, ga akan ada masalah kawin campur lagi kan?
First Previous 1 2 3 4 Next Last
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.