hukumonline
Selasa, 14 Agustus 2007
Bangunan Berjuluk Rumah Konstitusi
Ada satu bangunan yang tampak berbeda di lingkar Monas, Jakarta. Satu gedung nampak mencolok dibanding lainnya.
CRP
Dibaca: 799 Tanggapan: 0

Umumnya pagar berfungsi sebagai pembatas antara dunia luar dan dunia dalam. Tapi gedung baru Mahkamah Konstitusi (MK)  sama sekali tidak membuat batas jalanan dan dunia pengadilan. Hanya satu yang barangkali bakal menjadi membatasinya, keangkuhan arsitekturnya yang parlente dalam apitan dua gedung tua.

 

Ya, bangunan itu adalah gedung anyar MK yang dibangga-banggakan sang Ketua MK Jimly Asshiddiqie. Gedung yang kata Jimly, Akan menjadi sejarah di masa depan. Walhasil, dambaan para hakim konstitusi yang cukup tinggi itu membuahkan gedung super monumental. Gedung ini  akan menjadi sebuah rumah konstitusi yang akan diingat.

 

Di sebelah selatan, gedung lama MK milik Depkominfo dan Gedung Radio Republik Indonesia di sebelah utara nampak makin renta bersanding dengan gedung megah itu.

 

Maklum, lembaga penguji Undang-undang itu memang sudah lama mimpi punya gedung baru, berdikari tanpa harus meminjam lagi. Sebab, sejak awal berdiri MK memang sudah berpindah-pindah bak lembaga nomaden.

 

Mulanya menumpang ruangan di gedung milik DPR, menyewa ruangan di Hotel Santika, pindah ke Plaza Centris di bilangan Kuningan. Lalu akhirnya menempati gedung milik Depkominfo selama menunggu masa pembangunan gedung baru. Untuk pembangunan gedung  ini saja memakan waktu empat tahun dan total biaya Rp180 miliar.

 

Mengingat masa pilu itu, wajar jika kemudian MK seakan jor-joran membikin gedung buat mereka. Hebatnya, pembangunan gedung ini juga mendapat penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sebagai gedung negara ramah lingkungan. Selain sifatnya yang terbuka tanpa pagar, tak menyalahi aturan batas tinggi bangunan di seputaran Monas, bangunan mentereng itu juga memiliki cukup resapan air.

 

Saking bangganya atas hasil  imajinasi para hakim konstitusi yang mawujud itu, Jimly sampai-sampai merasa tidak tega kalau sampai peresmian hanya dilakukan dirinya sendiri. Itulah kenapa bertepatan dengan hari jadi MK, pada 13 Agustus 2007 rumah konstitusi itu diresmikan langsung oleh RI-1. Gedung ini bakal mulai dipakai untuk sidang perdananya pada 21 Agustus 2007.

 

Sayang, keberadaan gedung ini juga menjadi simbol kelemahan MK dalam mengestimasi anggaran. Dalam predikatnya sebagai lembaga negara penerima opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), MK masih kedodoran khusus dalam soal pembangunan gedung ini.

 

Gaya gothic yang simbolis

Rumah konstitusi itu berarsitektur gaya gothic, aliran yang berkembang di Eropa sekitar abad 16. Pilihan ini karena mengesankan kewibawaan dan sekaligus paling mungkin mendekati postmodernis seperti keinginan para hakim konstitusi. Gaya gothic yang merupakan aliran neo klasik ini juga dikawinkan dengan sebuah menara bernuansa moderen. 

 

Gedung  yang berdiri di atas lahan seluas 4.220 m2 bekas lahan Plasa Telkom tersebut terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah podium bergaya neo klasik yang difungsikan sebagai ruang sidang. Bagian keduanya adalah menara 16 lantai yang digunakan sebagai tempat perkantoran. Keseluruhan total lantai bangunan  mencapai luas 23.000 m2. Ruang sidang pun masih dibagi menjadi ruang sidang Pleno yang super lapang, dan dua ruang sidang panel.

 

Untuk mencapai podium seseorang mesti meniti 23 anak tangga dana akan berhadapan dengan sembilan pilar yang menyangga atap teras podium. Ketinggian bangunan itu setidaknya menjamin sidang konstitusi tidak akan terganggu kalau sewaktu-waktu banjir tiba-tiba menerpa.

 

Sebenarnya, pilar-pilar gaya gothic tidak lazim berjumlah ganjil, namun MK ngotot mendesain sembilan pilar sebagai simbol kesembilan hakim konstitusi. Rencana MK ini awalnya sempat diprotes tim arsitektur kota DKI Jakarta. Namun akhirnya mereka mengalah pada dalil MK bahwa tak ada hukum yang melarang pilar berjumlah ganjil. Dari balik sembilan pilar itulah konstitusi dikawal, ujar Jimly sumringah.

 

Di bagian atas podium, menyembul sebuah kubah (dome) mahkota berbahan tembaga ticuzink ex Germany yang konon bisa berubah warna dari semula kuning menjadi hijau dalam kurun waktu 16 tahun. Kubah yang idenya muncul belakangan ini, ungkap Jimly, melambangkan sebuah keagungan dan kewibawaan.

 

Melihat arsitektur yang demikian simbolik ini, para staf MK sendiri mengaku terpana saat kali pertama menyadari kemegahannya. Saya sendiri nggak percaya kalau gedungnya sebagus ini, ujar salah satu staf MK. Bahkan kesembilan hakim konstitusi juga mengaku sempat terkaget ketika 'rumah' dambaan lama mereka itu sudah ada di depan mata.

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.