hukumonline
Kamis, 01 Pebruari 2001
Pembubaran DPR secara Konstitusional?
Ketegangan yang berkepanjangan antara DPR dan presiden belakangan ini semakin memuncak dan menimbulkan berbagai spekulasi politik di masayarakat. Salah satu spekulasi yang terdengar adalah bahwa presiden akan membubarkan DPR melalui suatu dekrit.
Rival G. Ahmad dan Bivitri Susanti
Dibaca: 34159 Tanggapan: 8

Begitu seringnya pernyataan-pernyataan kontroversial dikeluarkan oleh elite politik, hingga berita ini sudah tidak lagi mengejutkan. Namun demikian, fenomena ini perlu untuk ditelaah dari segi hukum untuk dapat menelusuri peluang hukum yang ada dalam spekulasi tersebut.

Wewenang pembubaran parlemen

Secara teoritis, dalam sistem presidensil, presiden tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen, begitu pula sebaliknya. Kekuatan utama dalam konsep sistem presidensil memang terletak pada prinsip pokok tersebut, terciptanya keseimbangan kekuasaan antara eksekutif dan legislatif.

Berbeda dengan yang terjadi dalam sistem parlementer dan sistem semi-parlementer di negara-negara non-monarki, presiden sebagai kepala negara (head of state) biasanya memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen dengan beberapa variasi prasyarat kondisi dan mekanisme prosedural. Pengaturan tersebut ditujukan untuk mengimbangi kekuasaan parlemen yang memiliki kewenangan untuk menjatuhkan kabinet, baik terhadap tiap anggota kabinet ataupun keseluruhan kabinet.

Prasyarat kondisi yang biasanya ditentukan dalam konsitusi adalah terjadinya kemacetan/kebuntuan politik antara eksekutif (kabinet) dan legislatif (parlemen). Gambaran sederhana di beberapa negara bila hal tersebut terjadi adalah, Perdana Menteri sebagai pimpinan kabinet, mengajukan permohonan kepada Presiden untuk membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan umum ulang bagi anggota parlemen.

Bila permohonan itu disetujui dan disahkan oleh Presiden, maka secara resmi anggota parlemen akan melepaskan jabatannya. Dan dalam waktu yang ditentukan, akan ada pemilihan ulang untuk memilih anggota parlemen yang baru. Administrasi pemerintahan rutin dan penyelenggaraan pemilu biasanya akan dipegang oleh kabinet demisioner sampai dengan parlemen baru terbentuk dan berhasil memilih perdana menteri dan kabinet yang baru. Prinsip yang dijunjung adalah keputusan akhir tetap ada di tangan rakyat.

Tiga model sistem pemerintahan yang utama, yakni presidensil, parlementer, dan semi-parlementer, dengan segala variannya merupakan konstruksi pengalaman sejarah politik yang panjang dari masing-masing negara demokrasi modern yang menganutnya. Walapun sebagian besar negara modern tetap mengacu pada model-model utama yang ada di negara penemunya, hampir bisa dipastikan tiap negara memiliki karakterisitk khas sesuai dengan sejarah dan dinamika sosial-ekonomi-politik dan budayanya masing-masing.

Namun demikian, masing-masing sistem memiliki latar belakang pemikiran dan orientasi politiknya yang secara prinsipil berlainan. Perbedaan ini pada gilirannya akan melahirkan kerangka sistem pemerintahan tertentu, yang diharapkan dapat menjamin seoptimal mungkin orientasi politik yang sudah ditetapkan. Jadi, sebuah model sistem pemerintahan tidak serta merta dapat dimodifikasi sesuai kepentingan politik jangka pendek, karena ia dibangun dalam satu kerangka yang utuh dan konsisten.

Dekrit Presiden di Indonesia

Secara tidak langsung spekulasi mengenai pembubaran DPR munujuk pada sejarah Dekrit Presiden Soekarno yang membubarkan konstituante. Apa referensi tersebut tepat?

Pada 5 Juli 1959 Presiden Soekarno, sebagai kepala negara, mengeluarkan Dekrit Presiden yang bertujuan menyelesaikan kebuntuan dalam merumuskan undang-undang dasar. Pernyataan utama dari Dekrit adalah dibubarkanya Badan Konstituante hasil Pemilihan Umum Desember 1955, kembalinya konstitusi kepada UUD 1945, penarikan UUD 1950, dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mendirikan lembaga-lembaga kenegaraan sesuai dengan UUD 1945. Saat itu pula, berakhirlah masa kerja Badan Konstituante dan sekaligus pula sistem pemerintahan parlementer.

Selama masa Orde Baru, sejarah lebih sering mengedepankan catatan mengenai apa yang disebut dengan kegagalan konstituante daripada dinamika politik di belakangnya. Terhadap hal ini, Yusril Ihza Mahendra menyatakan (terlepas hal itu otoriter atau demokratis-Pen.) bahwa tindakan Soekarno tersebut merupakan revolusi hukum yang secara politik berhasil dipertahankan olehnya (Kompas: 31 Januari 01).

Yang perlu dicermati dalam kasus ini adalah sistem pemerintahan pada saat itu yang memang berbeda dengan sistem pemerintahan yang dianut sekarang. Walaupun tidak secara langsung memberikan wewenang tertentu kepada presiden, UUDS 1950 mengatur suatu sistem pemerintahan parlementer yang menyebabkan presiden memiliki tempat yang sangat berbeda dalam struktur politik dan ketatanegaraan dengan yang berlaku saat ini.

Bila ditilik secara rinci dalam dinamika politik yang berkembang pada masa itu, ada beberapa pertanyaan yang menarik untuk diangkat, yakni aktor/lembaga mana yang berinsiatif, dan prosedur hukum apa yang dilakukan?

Inisiatif utama dari Dekrit ini sepertinya tidak hanya berasal dari Presiden Soekarno (yang dalam masa genting ini sebenarnya sedang berada di Jepang), walaupun sangat mungkin diinspirasikan oleh beberapa pidato Soekarno untuk membubarkan parlemen pada tahun 1956. Dalam catatan sejarah, yang paling menonjol mengambil inisiatif ini ada tiga kelompok, yakni Angkatan Darat (dengan tokohnya Nasution), partai yang disokong oleh militer (IPKI), dan partai-partai (berhaluan non-islam) yang ada dalam parlemen dan badan konstituante. Selain itu ada juga peran pembantu yang dilakonkan oleh PM Djuanda.

Hampir bisa dikatakan Presiden Soekarno terkesan pasif. Karena selama terjadi dead-lock di konstituante. Dan selama ia masih di luar negeri, Kasad Jendral Nasution sebagai pemegang kekuasaan pusat hukum darurat, telah mengeluarkan maklumat yang melarang semua kegiatan politik dan menangguhkan semua rapat-rapat konstituante, sampai Soekarno pulang dari luar negeri, maklumat darurat ini  disetujui oleh PM Djuanda tanpa rapat kabinet (Nasution: 1995).

Usaha yang paling penting dari pengkondisian bubarnya konstituante ini adalah mosi pembubaran konstituante yang diajukan oleh IPKI dalam sidang konstituante yang terakhir, serta usulan dekrit presiden yang diajukan oleh BKSPM (Badan Kerja Sama Pemuda dan Militer) dan kawat Jenderal Sungkono (Anggota terkemuka dari Persatuan Veteran 45) kepada Presiden Soekarno (ibid).

IPKI dengan 18 partai radikal kecil juga kemudian menyatakan bahwa mereka tidak akan datang ke dalam sidang konsitituante lagi. Begitu juga PNI dan PKI yang menyatakan hanya akan datang ke sidang konstituante di Bandung dalam rangka pembubaran konstiutante. 

Peluang pembubaran DPR

Pembubaran parlemen secara teoritis maupun dalam praktek di Indonesia ternyata hanya terjadi dalam sistem pemerintahan parlementer. Dan sepertinya tidak masuk akal dilakukan secara konstitusional dalam sistem presidensil.

Penting untuk dicermati bahwa kondisi politik maupun sistem ketatanegaraan Indonesia sangat berbeda dengan tahun 1959. Sehingga apabila Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tetap berkeras untuk mengeluarkan Dekrit dengan mengacu pada Dekrit 1959, tindakan itu tidak akan dapat dibenarkan secara legal maupun secara politis.

Secara legal, tidak ada wewenang apapun yang dimiliki oleh presiden untuk melakukan hal tersebut. Berbeda dengan UUDS 1950, UUD 1945 menyatakan bahwa hubungan DPR dan presiden adalah sejajar. Sementara undang-undang keadaan bahaya yang sempat diduga akan menjadi dasar hukum bagi tindakan ini juga ternyata tidak memberikan kewenangan kepada presiden untuk membubarkan DPR.

Sedangkan secara politis, harus terlebih dahulu diciptakan kondisi politik yang kemudian dapat melegitimasi tindakan tersebut. Tanpa adanya kondisi yang dapat melegitimasinya, maka sejarah akan mencatat tindakan itu sebagai tindakan inkonstitusional dari seorang diktator daripada suatu revolusi. Kondisi politik yang dapat melegitimasi tindakan itu adalah adanya keadaan darurat yang memaksa presiden untuk membubarkan DPR. Untuk itu, jelas dibutuhkan dukungan dari militer.

Reaksi langsung yang dapat dimunculkan oleh DPR adalah dengan melakukan pembangkangan, yang kemudian dapat berujung pada pengiriman memorandum kepada MPR untuk melaksanakan Sidang Istimewa (SI) guna menjatuhkan presiden dengan alasan melanggar konstitusi. Walaupun untuk sampai pada SI dibutuhkan waktu setidaknya empat bulan sejak dikirimkannya memorandum pertama,  implikasi politik yang ditimbulkannya akan cukup kuat untuk membalikkan kedudukan antara MPR dan Presiden.

Namun terhadap tindakan pembangkangan MPR ini, ada cara yang umum (berlaku di dunia ketiga) untuk mencegahnya, yaitu dengan penghentian secara militeristik segala aktivitas resmi parlemen dan mungkin juga aktivitas politik pada umumnya. Menurut para ahli tata negara, ini berarti suatu tindakan coup d'etat.

Hal yang paling mungkin dilakukan secara konstitusional adalah pembubaran DPR oleh para anggota DPR. Namun untuk sampai pada hal ini, perlu ada penggembosan di kalangan DPR sendiri untuk selanjutnya menyatakan mosi pembubaran DPR. Cara yang tidak umum terjadi dalam sistem presidensil, tapi juga tidak ada larangan yang menghambatnya secara konstitusional.

Selama masih ada kalangan anggota DPR yang tidak menyetujui pembubaran ini, maka DPR tidak dapat bubar secara institusional. Namun setelah ini, fungsi DPR tidak akan berjalan sebagaimana seharusnya, yang akhirnya akan menyebabkan DPR akan kehilangan legitimasi. Kemacetan politik yang dihasilkan akan mengarah pula pada kondisi yang memungkinkan presiden membubarkan DPR. Akibat sampingannya, konflik antara presiden dan DPR telah berhasil dipindahkan menjadi konflik internal DPR.

Apabila hal ini yang terjadi, maka akan terjadi konflik politik yang berkepanjangan. Dan karenanya, akan berujung pula pada nasib seluruh bangsa ini. Oleh karena itu, meski langkah ini memang  tidak mudah karena membutuhkan kekuatan politik yang besar, segala upaya politik yang menuju ke arah itu perlu dicermati.

Akhir dari seluruh uraian di atas, mungkin prinsip dasar demokrasi yang klasik perlu kembali diingat dalam hal ini. Keputusan akhir (harus) ada di tangan rakyat. Bukan hanya pemimpin dan wakil rakyat, bukan cuma rakyat yang terdidik dan terorganisir, melainkan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Rival G. Ahmad dan Bivitri Susanti  adalah peneliti pada Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia (PSHK).

Share:
tanggapan
pusingnurul muttoharoh 30.11.14 20:40
kalo ngga ada dpr siapa yang ngawal pemerintahan..... presiden bisa berbuat diktator... jadi raja dong.... tambah ngga paham dgn keadaan indonesia sekarang ini.... awut awutan.... presidenne sak karepe dewe.... dpr e ngga ada yang bener....malah ribut karepe dewe.... bukan lagi kerja untuk rakyat tapi kerja untuk partai....
Bubarkan DPR..?irfan 21.11.14 15:24
People power memang bisa membubarkan DPR. "siapa dalang / pembuat skrip skenario dibelakang itu? sampai terencana, tanpa bocor, massa booming? mahasiswa? atau ada penyusup dari luar? " klo ketemu siapa org itu? membubarkan DPR dgn people power akan terwujud atau... tidak usah dipiplih saja mereka yang mengaku wakil rakyat. Btw kenyataanya DPR cuma "media parpol, dan kepentingan pribadi" untuk menimbun bukan??
Lengsernya Soeharto karena intervensi ASedi 04.11.14 01:12
yep sejak Soeharto mimpin beliau tidak mau di Anjingi AS ( sorry kasar ). ya di selundupkan lah Amien Rais yang mempengaruhi mahasiswa untuk melakukan demo Reformasi. Padahal sekitar tahun 1998 telah terjadi krisis ekonomi dunia, selain masalah KKN yang mengakar waktu itu ... Singkatnya sejak itu Antek asing telah lama mengakar di Indonesia, cukup dengan melihat masa jabatan presiden nya. Yang lengser pasti Contra AS, dan yang bisa duduk nyaman pasti Antek AS. Dan tentu saja ada KMP yang di pimpin Prabowo yang kata adik nya sangat pro AS....
sejarah baru, dpr di bubarkan rakyatjacki onthoni 31.10.14 04:47
sudah terbukti !! rakyat mampu menumbangkan kepemimpinan presiden yang di pilih oleh dpr. maka bukan hal yang mustahil jika rakyatpun mampu membubarkan dpr yang dipilihnya. ibarat anda beli pisang, setelah di kupas ternyata dah mulai busuk, pasti anda akan segera membuangnya dan mengganti dengan yang baru. terlalu naif memang jika dpr di ibaratkan dgn pisang tadi. namun, cermatilah !!! masakkan bangsa ini hanya di atur oleh segelintir orang yang tidak mencapai BPP saat pemilu legislatif, secara terang-terangan bertindak seakan lebih tinggi legitimasinya daripada seorang presiden yang di pilih oleh jutaan rakyat. jika kita mau saja di 'bingungkan' oleh para ahli hukum, terus apa pendapat mereka ketika dpr menjatuhkan presiden (ke-4) yang mereka pilih sendiri ?? so,... rakyat (kita) dapat berbuat semau nya (kita) atas pilihan kita yang ternyata tidak sesuai dengan lagi.
bubar bubarrrruntumu 30.10.14 20:36
sebaiknya memang dibubarkan , toh kenyataannya manfaat sama kerugiannya lebih besar kerugiannya,.
bubarkan DPRhadi kristianto 03.10.14 13:00
Segala sesuatu harus ada resikonya. Hanya sampai sejauh mana tingkat keseriusan dari masyarakat, pemerintah maupun aparat keamanan. Apakah ke 3 elemen sepakat bubarkan DPR atau tidak? Jika ke 3 elemen setuju, maka sangat mudah untuk membubarkan DPR dan saya yakin tidak akan terjadi kerusuhan. Apakah masyarakat mau menderita SELAMA 5 TAHUN KEDEPAN? HUKUM di MK SUDAH MATI. Karena MK hanya melihat berdasarkan ketetapan hukum tertulis, tetapi tidak melihat asas dari berdirinya bangsa ini. Negara ini berdiri dari rakyat Indonesia, bukan hukum tertulis yang kaku. JADI SAYA HANYA BERTANYA DUA YAITU : 1. APAKAH MASYARAKAT SIAP MENGHADAPI KRISIS EKONOMI SELAMA 5 TAHUN KARENA INVESTOR LUAR PADA MENARIK DANANYA? 2. Apakah 3 elemen (masyarakat, presiden dan aparat keamanan) mau memajukan bangsa ini atau mau memajukan segelintir politikus? Salam
bubarkan dprpungky di caprio 29.10.14 14:36
dpr di isi oleh org2 partai yg di pilih oleh rakyat bukan partainya. selayaknya mreka hrs mementingkan rakyat ... bukan partainya.
bubarkan dpr!sunawi 14.12.12 17:35
Bubarkan dpr dengan people power secara aspek politis..Korupsi!!!!!!!!!!!!!
Pembubaran DPR dengan people power?iwan 14.12.12 17:31
[Sedangkan secara politis, harus terlebih dahulu diciptakan kondisi politik yang kemudian dapat melegitimasi tindakan tersebut]

Seperti thn 1998,dengan people power dalam hal ini mahasiswa melakukan demo besar2an lantang menyuarakan lengsernya Soeharto dari kursi kekuasaan serta menduduki gedung parlemen dan ditandai dengan berakhirnya era orde baru. Hal tersebut terjadi karena mengerucutnya permasalahan dari segi ekonomi,hukum dan keamanan. dan aspek tersebut 'mungkin' bisa dikategorikan dalam aspek politik yang terjadi. dan yang jadi pertanyaan adalah Korupsi yang menyeret beberap anggota dewan yang bahkan dilakukan secara gotong royong,pemborosan uang yang dalam hal ini adalah uang APBN / Uang RAKYAT serta ditandai dengan menurunnya rasa percaya masyarakat terhadap kinerja anggota dewan, bisakah hal tersebut dianggap sebagai Pe'legitimasi'an tindakan untuk MEMBUBARKAN DPR secara konstitusional?

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.