hukumonline
Selasa, 18 Maret 2008
Kongres Advokat Indonesia di Ambang Pintu
KAI digelar semata-mata untuk menyelamatkan kredibilitas dan legitimasi PERADI selaku organisasi advokat sesuai amanat UU Advokat.
Rzk
Dibaca: 9270 Tanggapan: 14

Siang itu pada suatu hari di bulan Juli 2007 bertempat di Hotel Manhattan Jakarta, sejumlah advokat tampak berapi-api menyampaikan aspirasi mereka. Suasana forum menjadi panas karena semua advokat yang hadir berebut ingin bersuara. Walaupun aspirasi yang disampaikan beragam tetapi nada mereka pada intinya sama, yakni mempersoalkan keberadaan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) yang selama ini diketahui oleh masyarakat sebagai wadah tunggal advokat Indonesia.

 

Pertemuan Manhattan itu bisa dibilang menjadi cikal-bakal munculnya ide Kongres Advokat Indonesia (KAI). Mereka mendeklarasikan agar KAI segera digelar. Setelah itu, muncul deklarasi-deklarasi lanjutan hasil pertemuan di Rancabentang, Bandung dan Hotel Sultan Jakarta. Aspirasi yang muncul masih sama, KAI sebagai jalan untuk membentuk organisasi advokat sebagaimana diamanatkan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.

 

Minggu depan, tepatnya 27 Maret, langkah konkret menuju KAI akan mulai dirintis dengan menggelar pra-kongres. Sekretaris Panitia Nasional KAI Suhardi Sumomoeljono menjelaskan tujuan diadakannya pra-kongres adalah untuk konsolidasi dan penyamaan visi secara nasional. Oleh karenanya, undangan acara tersebut pun ditujukan kepada pimpinan organisasi dan advokat di seluruh Indonesia. Untuk sementara, panitia hanya berani mengklaim telah mendapat dukungan empat dari delapan organisasi advokat yang ada, yakni IKADIN, IPHI, HAPI, dan APSI.

 

Sisanya masih kami lakukan lobi, walaupun beberapa nama senior dari organisasi-organisasi tersebut sudah menyatakan dukungan, akunya. Lobi ternyata tidak hanya diarahkan ke empat organisasi yang dimaksud, tetapi juga PERADI yang notabene adalah ‘seteru' mereka. Langkah mendekati PERADI seolah-olah menyiratkan telah terjadi perubahan strategi dari para penggagas KAI yang sedianya ingin jalan sendiri-sendiri, kini mencoba merangkul PERADI.

 

Niat Panitia tidak main-main, advokat senior sekaliber Yan Apul, Rudy Lontoh, Sudjono, Frans Hendra Winarta dan bahkan Adnan Buyung Nasution pun diminta bantuannya untuk melakukan pendekatan dengan harapan PERADI berkenan mengambil-alih KAI. Hasilnya, lagi-lagi nihil. Namun, Panitia tidak patah arang, PERADI akhirnya diberikan waktu hingga 20 Mei untuk mengubah sikapnya. Penetapan tenggat waktu tersebut disamakan dengan tanggal penyelenggaraan KAI.

 

Menanti Keajaiban

Kami masih berharap ada keajaiban, PERADI mau mengambil-alih kongres ini. Ngapain juga kami capek-capek menyelenggarakan, ujar Suhardi terkesan pasrah. Dia membantah apabila dikatakan KAI diselenggarakan dalam rangka memusuhi PERADI. KAI, menurut Suhardi, justru perwujudan dari rasa mencintai PERADI. Oleh karenanya, tujuan khusus KAI sebenarnya adalah untuk menyelamatkan kredibilitas dan legitimasi PERADI selaku organisasi advokat sesuai amanat UU Advokat.

 

Bagi Suhardi, kredibilitas dan legitimasi lembaga memiliki peranan penting dalam merevitalisasi kedudukan advokat sebagai pilar keempat penegak hukum, setelah polisi, jaksa, dan hakim. Sejauh ini, Suhardi menilai peran itu belum maksimal bisa dilaksanakan oleh advokat. Salah satu pangkal masalahnya adalah ketidakjelasan organisasi advokat karena pembentukannya melalui mekanisme yang tidak demokratis. Alih-alih jadi penegak hukum, malah ikut menyuburkan mafia peradilan, tukasnya.

 

Harapan Suhardi sayangnya bertepuk sebelah tangan. Salah satu Ketua DPN PERADI Denny Kailimang menegaskan bahwa PERADI tetap pada sikapnya menolak kongres –atau musyawarah nasional dalam istilah anggaran dasar (AD)- sebelum 2010 yang bertepatan dengan habisnya masa kepengurusan DPN. Denny masih berkeyakinan pembentukan PERADI yang didasarkan pada mandat delapan organisasi advokat, sudah sesuai dengan UU Advokat.

 

Legitimasi kongres ini darimana, kabarnya mereka (panitia, red.) mencantumkan nama-nama advokat yang mereka sendiri tidak tahu, saya dengar daerah-daerah banyak yang protes, ujar Denny balik menuding. Sekali lagi, dia menegaskan apabila ada masalah ataupun ketidakpuasan terhadap PERADI sebaiknya disalurkan melalui Munas 2010 nanti.

 

Skenario Terburuk

Sikap PERADI sepertinya sudah dibayangkan oleh para penggagas KAI. Maka, skenario terburuk pun sudah disiapkan. Apabila sampai tenggat waktunya, PERADI tetap pada posisinya maka KAI akan tetap digelar. Episode lanjutannya pun sudah bisa ditebak, Kalau memang buntu, otomatis di Indonesia ini akan ada dua organisasi advokat, kata Suhardi memprediksi.

 

Lalu siapa yang paling berhak menyandang sebagai Organisasi Advokat sebagaimana disebutkan dalam UU Advokat? Suhardi mengajukan teori sederhana, yakni mekanisme pasar. Siapa yang paling legitimate, ya kita lihat saja animo anggota, tukasnya. Sementara, Denny bersikukuh PERADI yang paling berhak. Mereka sah-sah saja bentuk organisasi baru, tetapi nanti tidak ada bedanya dengan delapan yang ada, bisa jadi hanya paguyuban saja, ujarnya. Jauh-jauh hari, sebagaimana diberitakan hukumonline, PERADI selalu menyatakan siap menyambut organisasi tandingan.

 

Peribahasa mengatakan ‘gajah sama gajah berperang, pelanduk mati terjepit', kalau para advokat senior berseteru lalu bagaimana nasib para junior. Beny Lesmana, salah seorang advokat muda, berharap perseteruan yang terjadi tidak akan berimbas negatif terhadap advokat muda. Beny yang baru saja dilantik tahun lalu mengatakan pada dasarnya dirinya tidak terlalu khawatir perseteruan para senior akan mengganggu profesi yang dijalankannya.

 

Advokat profesi yang mulia dan independen, jadi saya yakin tidak akan dapat dipengaruhi oleh apapun, termasuk organisasi, kilahnya. Namun begitu, Beny memprediksi akan terjadi kerancuan apabila nanti terbentuk wadah tunggal tandingan. Advokat khususnya yang muda akan kebingungan, pada organisasi mana mereka harus berkiblat. Bisa terjadi ketidakpastian hukum, pungkasnya.

 

Menanggapi hal ini, Denny menegaskan bahwa PERADI akan menjamin anggotanya akan tetap dapat menjalankan profesinya sebagaimana mestinya. Dia mengatakan anggota PERADI tidak perlu khawatir legitimasi keanggotaannya akan dipertanyakan karena PERADI adalah organisasi yang sah. Sementara, Suhardi menyatakan organisasi apapun yang akan terbentuk nanti pasca KAI, advokat yang sudah terlanjur terdaftar di PERADI akan tetap diakui.

 

Sudah tertutupkah jalan damai?
Share:
tanggapan
hidup revisi uu advokat hudup kongresagus 03.12.14 17:19
hidup multi bar dan revisi uu advokat kami orang m,iskin revisi uu advokat cepat
multi bar oke yess permasari 03.12.14 17:16
rakyat menanti multi bar revisi uu advokat hidup multi bar dengan kode etik satu josss multi bar segera revisi dpr uuu advokat
lolomuardi hazim 28.01.13 10:46
kasian advokat muda, mau dibawa kemana para senior sdh bekelai trus, kapan kita bersatu. coba ikut model kepolisian, salah benar yang penting bersatu tooo
Libido KekuasaanSigop M. Tambunan 23.05.08 22:57
Luar biasa,.. ini berita menyedihkan sekali.Sejarah perjalanan organisasi profesi Advokat sekali lagi siap menorehkan kenyataan kelam di Republik ini. Kongres Advokat siap digelar apalagi kalau bukan untuk membentuk organisasi tandingan PERADI. Artinya para Advokat akan semakin tidak jelas (berjalan mundur)ke depan setelah selama ini sudah mulai tertatih-tatih untuk lebih maju selangkah demi selangkah. Ada beberapa kesimpulan menggelitik,membuat saya sedih sekaligus tertawa lucu dalam hati, menertawai manuver-manuver kotor para penggagas KAI ini, dibalik rencana KAI saya berpikir sederhana saja (tentu belum masuk ke substansi hukumnya), bahwa mereka-mereka yang menggagas KAI ini selama ini beracara baik di dalam/diluar pengadilan menggunakan kartu Advokat dari PERADI bahkan ada yang menjadi pengurus DPN, ironisnya lagi ada beberapa advokat yang jadi Kuasa Hukum PERADI dihadapan Mahkamah Konstitusi atas gugatatan Advokat Sudjono, Ronggur Hutagalung, yang sampai berbusa-busa berbicara membela PERADI yang menyatakan bahwa PERADI adalah organisasi Advokat yang sah dan akhirnya pembelaan mereka diterima MK yang akhirnya memutuskan menolak gugatan Sudjono, cs yang mempertanyakan eksistensi dan keabsahan PERADI. Kalau mereka mempertanyakan PERADI bukankah sepatutnya mereka selama atau sebelumnya ini berani tegas menyatakan saya tidak tunduk kepada apapun yang berbau PERADI,tapi nyatanya mereka berpraktek menggunakan kartu Advokat hasil verifikasi PERADI. Lantas, bukankah ini tindakan bodoh, tidak konsisten,rancu (kontradiktif). Lagi pula mereka-mereka penggagas KAI ini notabenenya adalah umumnya advokat senior,terpandang tetapi begitulah sikap yang mereka warisi, selalu mewarisi benih pertikaian. Saya mempertanyakan kredibilitas mereka, mereka suka bicara ini itu, tetapi lain di hati, arogan, gila hormat. Saya melihat persis bagaimana para advokat mengerubuni Adnan Buyung Nasution yang katanya tokoh Advokat senior itu bak selebritis saat mereka mengadakan pertemuan di hotel atlet century park belum lama ini, semua seperti mendewakannya,mengkultuskannya. Saya dulu pengagum Adnan Buyung tetapi sekarang tidak, ternyata beda yang saya dengar dan yang saya lihat. Selebihnya mereka-mereka penggagas KAI saya pandang adalah orang-orang yang haus kekuasaan, libido kekuasaannya tidak tersalurkan, sehingga berupaya mencari berbagai celah untuk menggapai tujuannya tanpa memperhitungkan bahwa tindakannya tersebut telah merugikan orang banyak. Kalau mereka melhat ada ketidak beresan dalam roda organisasi kan bisa diselesaikan lewat mekanisme organisasi dan upaya hukum, BUKAN LANTAS menyatakan PERADI tidak sah, tidak legitimate. Itu artinya semua produk PERADI berarti tidak sah, tidak legitimate di mata mereka. Saya mensupport PERADI agar tetap kokoh dan berwibawa, lumrah untuk menegakkan kebenaran itu memang harus banyak berkorban. Biarkan mereka menjustifikasi upaya mereka yang menurut saya manipulatif, arogan itu berjuang sampai mereka menyadari kekeliruan mereka. Bravo PERADI!!! JANGAN PERNAH MUNDUR SATU LANGKAH PUN!
Tolak Kongresromodalang 04.05.08 20:47
Wah,ini namanya ajang untuk cari kekuasaan untuk kepentingan kelompok nich. Bang Buyung, sudahlah. Kan udah enak jadi Watimpres, ngapain mesti ngurusi lagi. Biar aja yang muda-muda yang ngurusi. Nyantai aja bang
Moralitas SeniorJohan 19.03.08 09:21
Wahai kalangan senior advokat, hentikan perseteruan dengan menggunakan cara-cara yang tidak pantas dan tidak bermoral dengan mendirikan peradi tandingan, Peradi sudah sejalan dengan apa yang diamanatkan UU Advokat dengan memberikan kepastian bagi setiap anggota dan calon anggota dengan mengadakan berbagai event (pkpa, upa, dll) dengan baik bebas KKN. jangan nodai perjuangan/usaha yang dilakukan oleh kalangan senior yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap profesi advokat, hentikan sikap arogan dari bang buyung yang sudah uzur jangan meninggalkan "belang" yang tidak baik dimasa pensiun bagi kami penerus.........
advokat bersatulahskriptida 19.03.08 14:17
advokat muda khususnya advokat senior(katanya) umumnya....bersatulah.....jangan mau dipecah belah.....harusnya advokat senior(pangakuan sepihak) di uji ulang....biar ngerasain susahnya jadi advokat muda.....
Bagus!!!bob 19.03.08 16:53
Wah, ntar kalau PERADI jadi dua, sepertinya seru juga tuh... setidaknya : 1. Ujian advokat kan bisa double...Lucunya, ntar kalau di PERADI yang lama ga lulus, di PERADI yang muda mudah-mudahan bisa lulus...apalagi bagi mereka yang kemarin ngajuin class action...Boleh juga... 2. Lagian kan ga harus nunggu lama untuk ujian, apalagi nunggu pelantikan... 3.Untungnya lagi, semakin banyak pkpa, semakin banyak semakin banyak uang yang bisa dikeruk... 4. Banyak keuntungan lainnya lah...ada yang bisa nambahin??? Ayo, siapa yang mau mendukung PERADI muda??? hehehe...
kongres maju terus ! demi kepentingan demokrasidianyndra 20.03.08 11:13
saya heran, mengapa peradi tidak kerjasama saja dengan panitia kongres advokat indonesia. kantujuanya baik untuk kepentingan legitimasi oraganisasi advokat di indonesia. ini sangat aneh mengapa peradi tidak mau mempercepat kongres ??...hehehe..ternyataberkuasa itu memang enak, padahal UU advokat hanya mengamanatkan kepada para advokat di ind, untuk membentuk wadah tunggal advokat. saya kira peradi lebih baik bergabung saja dengan kongres advokat, tidak perlu takut dengan kemungkinan copotnya jabatan. jabatan itu kan amanah dari yang diatas jadi pasrah sajalah. selamat berkongres demi kejayaan advokat di indonesia, kita sebagai advokat junior tidak perlu khawatir karena tidak ada akibat hukum apapun bagi kita seperti yang dikatakan bpk suhardi somomoeljono.
Saya dukunglah Kongres !!!katrin 19.03.08 09:56
Kan dalam UU Advokat tidak ada nama Peradi, juga tidak menyebut wadah tunggal advokat !!! jadi saya dukung kongres asal jangan cari duit ujung2xnya, trus pembukuan keuangan terbuka, bertindak melindungi anggota , jangan pungutan ini-itu, trus jg permudah anggota untuk mendapatkan berkas, kartu, kartu dikirim langsung dan buku daftar anggota dll dikirim langsung ke anggota. Majulah kita ini. Jangan lupa, beli gedung (ruko atau apalah) untuk sekretariat, biar advokat bisa mudahberkumpul bertemu.
First Previous 1 2 Next Last

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.