hukumonline
Rabu, 17 Desember 2008
Ketika Calon Hakim Agung Tak Tahu Putusan NO
Seorang calon menjelaskan NO itu artinya majelis hakim tak mau berpendapat atau beropini terhadap perkara yang sedang ditangani.
Ali
Dibaca: 4517 Tanggapan: 3

Bagi orang yang berkecimpung di dunia hukum dan peradilan pasti sering mendengar putusan pengadilan yang berbunyi Niet Ontvankelijk Verklaard atau NO. Putusan yang dalam bahasa Indonesia disebut Tidak dapat diterima ini dikeluarkan majelis hakim bila gugatan, permohonan atau dakwaan tak memenuhi syarat formal. Kadang-kadang masyarakat awam memang agak sulit membedakan antara putusan yang berbunyi tidak dapat diterima dengan ditolak.

 

Pertanyaan semacam inilah yang mengemuka dalam wawancara seleksi calon hakim agung yang dilakukan Komisi Yudisial (KY). Para komisioner KY secara bergantian menanyakan kepada masing-masing calon hakim agung. Komisioner KY Mustafa Abdullah memulai pertanyaan apa beda antara putusan tidak dapat diterima dengan ditolak kepada Calon Hakim Agung Henry Willem Batubara. Henry yang terakhir menjabat sebagai Kababinkum TNI AD ini sempat terdiam sejenak.

 

Henry pun mencoba untuk menjawab pertanyaan Mustafa itu. Menurut Henry, putusan akan berbunyi ditolak bila tak memenuhi syarat. Sedangkan putusan tidak dapat diterima bila ada ketidaklengkapan dalam dakwaan. Contohnya dalam kasus pidana penganiayaan. Bila terdakwa tak memenuhi unsur penganiayaan maka putusannya tak dapat diterima, tuturnya di KY, Selasa (16/12).

 

Mustafa kembali menelisik. Ia menanyakan apa pernah Henry mendengar Putusan NO atau Niet Ontvankelijk Verklaard. NO itu apa maksudnya? desak Mustafa. Henry sempat bingung mendengar istilah itu. Ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan itu. NO itu artinya majelis hakim tak mau berpendapat atau beropini terhadap perkara, ujarnya.

 

Mendengar jawaban itu, Mustafa sedikit kaget. Ia tak habis pikir bila Putusan NO disamakan dengan abstain. Masak majelis hakim abstain, katanya. Mustafa menilai Henry belum siap menjadi hakim agung. Buktinya, menjawab putusan NO ini pun jawaban Henry masih belum tepat. Padahal, membuat putusan, apapun jenisnya, merupakan tugas sehari-hari seorang hakim. Ini pekerjaan teknis hakim agung. Anda nanti kan (bila terpilih) akan membuat putusan, tegasnya.  

 

Nama

Jabatan Terakhir

Natsri Anshari

Kasubdit Pembinaan Kemampuan Hukum TNI AD

Salman Mulyana

Ditjen Badilmiltun

Christina Kristipurnami Wulan

Hakim Tinggi PT Bandung

Yulius

Hakim Tinggi PT TUN Jakarta

Sutoyo

Hakim Tinggi PT TUN Jakarta

Tumpak Sihombing

Hakim Tinggi PT Medan

Moerino

Wakil Ketua PT Maluku Utara

Burhan Dahlan

Kepala Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta

Celine Rumansi

Hakim Tinggi PT Jakarta

Arief Siregar

Tenaga Pengajar Non Organik Sekolah Tinggi Hukum Militer

Wijayanto Setiawan

Dosen FH Universitas Hang Tuah Surabaya

Henry Willem Batubara

Kababinkum TNI AD

Yutti Subarlini Halilin

Anggota Pokkiminmiltama

 

 

Lain lagi Calon Hakim Agung Arief Siregar. Entah karena tak tahu, entah karena canggung, Arief sempat keserimpet ketika menjawab perbedaan antara judex factie dan judex juris. Ia mengatakan MA adalah judex factie, sedangkan pengadilan di bawahnya judex yuris. Mendengar jawaban itu, Ketua KY Busyro Muqoddas hanya terdiam dan langsung memberikan catatan.

 

Tak hanya itu, Arief juga lupa menyebut nomor UU MA. Kontan, Wakil Ketua KY Thahir Saimima mempertanyakan kesiapan Arief untuk menjadi hakim agung. Anda belum baca UU Mahkamah Agung ya? Berarti anda tidak tahu tugas dan kewenangan MA, ujar Thahir. Ketika ditanya seputar kode etik hakim, Arief mengeluarkan jawaban yang serupa. Saya lupa, kata Arief.

 

Namun, tak semua calon hakim yang melontarkan jawaban lupa. Calon Hakim Agung Yutti Subarlini Halilin dengan fasih menjelaskan apa yang dimaksud dengan putusan NO. NO itu artinya tidak dapat diterima. Persyaratan formalnya tak terpenuhi, tuturnya.

 

Ditemui usai wawancara, Busyro mengatakan masing-masing komisioner akan mengumpulkan penilaiannya. Setelah itu, KY akan mengambil keputusan berdasarkan rekapitulasi penilaian itu. Terkait banyaknya calon hakim yang tak bisa menjawab, ia tak bisa langsung mengambil kesimpulan. Mungkin calon hakim itu lupa atau gugup, tuturnya.

Share:
tanggapan
KY harus betul-betul jeliAan 18.12.08 13:53
Ky hrs benar2 jeli dalam melakukan seleksi pendahuluan hakim agung. Tugas hkm agung sangat banyak&berat. OKI calon harus benar2 memiliki integritas keilmuan yang tidak diragukan lagi disamping intregritas moral yang baik. Banyak calon hakim agung non karier yang kurang memiliki integritas keilmuan yang baik, meskipun integritas moralnya menurut masyarakat cukup baik. Kedua integritas tersebut harus dimiliki oleh seorang hakim agung. So, be selected...
Asal tidak...fadli 18.12.08 13:45
Kalau memang lupa atau gugup masih bisa dimaklumi bos..tapi kalau ternyata di lapangan sewaktu mengambil keputusan masih juga lupa bagaimana...
QualityIdeal ??????????????????? 18.12.08 14:47
Ini tandanya kuantitas lulusan sarjana hukum di Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi, tetapi KUALITAS serta pengetahuan dan pengalamannya dalam hukum formil beracara di peradilan SUNGGUH SANGAT MENYEDIHKAN, sehingga calon hakim agung mau tidak mau harus disortir secara ketat (extra ordinary examination) , termasuk menguji mental dan moral calon hakim agung yang bersangkutan.

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.