hukumonline
Selasa, 28 April 2009
PT Hasta Mandiri Sejahteratama Dipailitkan
Perusahaan kontraktor PT Hasta Mandiri Sejahteratama terbukti berutang pada dua investor lantaran tidak mengembalikan suntikan modal dan keuntungan pada investor.
Mon
Dibaca: 1369 Tanggapan: 0

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menjatuhkan putusan pailit terhadap PT Hasta Mandiri Sejahteratama, Senin (27/4). Perusahaan tersebut terbukti berutang kepada dua investornya, Tan Marius Tanumihardja dan Cisca Tanumihardja. Utang kontraktor itu timbul dari perjanjian investasi atas proyek pembangunan Hasta Mandiri dengan perusahaan lain. Hasta Mandiri tidak pernah mengembalikan keuntungan dan modal yang disuntikan pemohon. Karena itu, awal Maret 2009 lalu, melalui kuasa hukumnya, John Sidi Sidabutar dan Burni, kedua investor mengajukan permohonan pailit ke pengadilan. 

 

Majelis hakim menilai permohonan pailit kedua investor telah memenuhi syarat pailit sesuai Pasal 2 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Syarat pailit telah dipenuhi sehingga berasalan hukum untuk dikabulkan, ujar Eli Mariani saat membacakan putusan.

 

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang beranggotakan Sulaeman dan Makmun Masduki, menunjuk Makassau sebagai hakim pengawas pailit. Selain itu, majelis juga menunjuk Yuhelson selaku kurator yang akan memimpin pembagian harta Hasta Mandiri kepada para krediturnya.

 

Perkara ini bermula ketika kedua investor membuat perjanjian investasi atas proyek pembangunan Hasta Mandiri dengan perusahaan lain. Yakni, proyek dengan PT Central Pertiwi Bahari, PT Satria Multi Sukses dan PT Cakrawala. Dari perjanjian itu Hasta Mandiri mengajukan permohonan utang untuk investasi dalam proyek tersebut. Investor sendiri akan mendapatkan presentase keuntungan dari modal investasi yang dimasukan pemohon atas proyek.

 

Menurut kuasa hukum investor, John Sidi, Hasta Mandiri tidak beritikad baik untuk membagi keuntungan dan mengembalikan suntikan modal para investor. Pemohon pailit sangat dirugikan, ujarnya dalam pemohonan pailit. Dari ketiga proyek itu Hasta Mandiri berutang pada Tan Marius Tanumihardja sebesar Rp 7,177 miliar. Sementara, utang kepada Cisca Tanumihardja sebesar Rp 31,5 juta. Para investor beberapa kali mengirimkan peringatan lisan dan tertulis ke Hasta Mandiri agar melunasi utangnya. Namun, hingga permohonan pailit diajukan kontraktor itu tidak jua membayar utangnya.

 

Sebelum dimohonkan pailit, Hasta Mandiri pernah berupaya untuk membayarkan utangnya dengan menyerahkan enam bilyet giro dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) senilai Rp 304 juta. Ternyata, saat dicairkan empat bilyet giro di antaranya ditolak bank lantaran saldo Hasta Mandiri tidak cukup. Karena itu, dua bilyet lainnya tidak jadi dicairkan.

 

Usai bersidang, John Sidi menyatakan puas atas putusan hakim. Saya rasa putusan sudah sesuai dengan fakta-fakta di persidangan, ujarnya. Menurutnya, dari bukti yang diajukan, terbukti bahwa Hasta Mandiri telah wanprestasi dan memiliki utang. Sementara kuasa hukum Hasta Mandiri dari kantor hukum Rivai, Susanto & partner belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi, Riwaldi Rivai sedang rapat dan belum bisa memberikan komentar atas putusan hakim.

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.