hukumonline
Senin, 16 November 2009
Pengusaha Lokal Ajukan Verzet Atas Putusan Pembatalan Merek D&G
Pemilik merek D&G asal Indonesia ajukan perlawanan atas putusan pembatalan merek D&G. Majelis hakim dinilai tidak cermat dalam menjatuhkan putusan.
Mon
Dibaca: 1479 Tanggapan: 0

Pengumuman putusan pembatalan merek Dolce & Gabbana (D&G) membuat Sutedjo terhenyak. Lewat putusan majelis hakim Pengadilan Niaga, Sutedjo harus rela melepas mereknya. Sebab majelis hakim membatalkan pendaftaran merek D&G milik Sutedjo yang didaftar pada 1 Juni 2005 tanpa kehadiran Sutedjo.

 

Sutedjo lalu tak tinggal diam lantaran merasa tak pernah mengetahui mereknya dibatalkan pengadilan. Melalui kuasa hukumnya dari Stefanus & Rekan, Sutedjo mengajukan perlawanan (verzet) atas putusan verstek ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

 

Majelis hakim yang diketuai Syarifuddin menggelar persidangan perdana perkara No. 04/Plw.Merek/2009/PN.NIAGA.JKT.PST Ini, Senin (16/11). Bertindak selaku anggota majelis hakim Herdy Agusten dan Sugeng Riyono.

 

Kuasa hukum terlawan Christina Ruella Board, Mansyur Alwini juga hadir di persidangan. Mansyur menyatakan belum bisa memberikan jawaban atas verzet. “Klien kami minta waktu satu bulan,” ujarnya kepada majelis hakim. Persidangan pun ditunda hinga pertengahan Desember mendatang.

 

Sebelumnya, Christina melayangkan gugatan pembatalan merek D&G milik Sutedjo pada 6 Agustus 2009 lalu. Dalam gugatan disebutkan Christina Ruellia merupakan wakil direksi perusahaan yang berkedudukan di Milan Italia. Perkara ini teregister No. 51/Merek/2009/PN.NIAGA.JKT.PST.

 

Majelis hakim yang diketuai Sugeng Riyono mengabulkan gugatan Christina selaku pemilik merek D&G asal Italia. Merek Sutedjo dinilai memiliki kesamaan sehingga bisa menyesatkan konsumen. Selain itu, Sutedjo dinilai mendompleng ketenaran merek D&G.

 

Kuasa hukum Sutedjo, Adam J. Sembiring menerangkan verzet dilayangkan lantaran Christina dinilai tidak memiliki kualitas sebagai penggugat. Christina juga tidak berwenang mewakili Gado S.R.L dalam mengajukan gugatan. Sebab kapasitasnya hanya sebagai wakil direksi, seharusnya gugatan dilayangkan oleh direktur utama. Majelis hakim dinilai tidak cermat dalam menilai identitas Christina.

 

Alasan lain, kata Adam, majelis hakim bukan membatalkan sertifikat merek D&G versi Sutedejo, melainkan hanya perpanjangan sertifikat merek. Yakni, sertifikat merek Agno, D95-14183 yang didaftar pada 14 Maret 1996 di kelas 25, etiket merek: D&G. Setifikat itu kemudian diperpanjang pada 1 Juni 2005 di bawah No. IDM000040459. Dengan begitu, majelis hakim seharusnya menyatakan gugatan tidak dapat diterima. Sebab sudah lewat lima tahun sejak merek didaftarkan.

 

Menurut Adam, sebelum mengajukan gugatan, penggugat harus terlebih dahulu mengajukan permohonan pendaftaran merek ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan HAM. Hal ini sebagai syarat formil pengajuan gugatan. Sebelumnya, dalam gugatan Christina mendalilkan mendaftar merek D&G sejak 1997 di kelas 24, 24 dan 23.

 

Merek D&G milik Christina juga dinilai bukan merek terkenal di Indonesia. Merek D&G terkenal sejak Sutedjo menggunakan dan mempromosikannya di Indonesia pada 1995. Sutedjo bahkan memiliki beberapa outlet di Mangga Dua Mall dan beberapa gerai Carrefour, antara lain di Bekasi Mall, Lebak Bulus, Bandung.

 

Lagipula, pendaftaran merek Sutedjo telah diproses sesuai ketentuan hukum sehingga Ditjen HKI mengabulkan permohonan pendaftaran. Sutedjo mengklaim sebagai pemilik dan pendaftar pertama atas merek D&G di Indonesia. Karena itu dalam petitumnya, Sutedjo meminta majelis hakim agar membatalkan putusan pembatalan merek D&G miliknya.

 

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.