hukumonline
Kamis, 17 Desember 2009
Pertarungan Ahli di Sidang Antasari
Walaupun rekaman gambar yang dipertontonkan di persidangan tidak terlampau jelas, jaksa tetap meyakini ada kesinambungan dengan rekaman suara. Pengacara menilai keterangan ahli dipaksakan.
Rfq
Dibaca: 1506 Tanggapan: 0

Jaksa penuntut umum perkara pembunuhan Nasrudin Zulkarnain dan tim pengacara terdakwa terus adu kekuatan. Pekan ini, kedua kubu diberi kesempatan mengajukan ahli. Menurut rencana, pada sidang Kamis (17/12), dalam perkara terdakwa Antasari Azhar, majelis akan mendengarkan keterangan satu orang ahli dari jaksa dan dua orang ahli dari penasihat hukum terdakwa. Jaksa menghadirkan M. Nuh, ahli digital forensik dari Polri. Pada sidang sebelumnya, jaksa sudah menghadirkan ahli serupa, Ruby Alamsyah.

 

Sebaliknya tim penasihat hukum berencana menghadirkan dua orang ahli teknologi informasi dari ITB Bandung, Agung Harsoyo dan Aldo Agusdian. Kehadiran para ahli digital forensi dan teknologi informasi tersebut diharapkan bisa membuka tabir pesan singkat berisi ancaman dalam telepon genggam korban, sekaligus memperjelas spy cam yang berhasil menangkap kehadiran Antasari ke rumah Sigit Haryo Wibisono (terdakwa dalam berkas terpisah).

 

Pada Selasa (15/12) lalu, majelis hakim PN Jakarta Selatan mendengarkan rekaman antara Rhani Juliany dengan Antasari, dan rekaman pembicaraan antara Antasari dengan Sigit, di kediaman Sigit di Jalan Pati Unus, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah mendengarkan rekaman itulah, ahli Ruby Alamsyah dihadirkan.

 

Rubi telah melakukan analisis terhadap kartu memori telepon genggam Nasrudin. Ia juga melakukan analisis terhadap 16 item barang bukti. Antara lain telepon genggam Nasrudin, kartu memori telepon genggam, dan kamera digital Nasrudin. “Dalam kasus ini voice recorder dalam bentuk digital. Sehingga masih dalam kapasitas saya untuk menganalisis,” ujarnya.

 

Hasil analisis Rubi menjelaskan saat Rhani sedang berada dengan Antasari, Nasrudin menghubunginya. Lalu, Nasrudin meminta kepada Rhani agar tidak mematikan telepon genggamnya. Kemudian, terjadi dialog antara Rhani dengan Antasari di Hotel Grand Mahakam. Oleh Nasrudin percakapan tersebut direkam lewat telepon genggam tipe Nokia E65. Meski rekaman yang diperdengarkan tidak terdengar jelas, sempat terdengar kata ‘buka’. “Rekaman mengenai masalah golf. Tetapi ujung-ujungnya ada kata buka. Tetapi saya tidak bisa menafsirkan itu apa,” ujarnya.

 

Rekaman pembicaraan antara Sigit dengan Antasari juga tidak terdengar jelas. Begitupun dengan spy cam milik Sigit di ruang kerjanya. Sayangnya rekaman gambar diambil dari kamera buatan negara China berformat av. Sehingga, kualitas gambar tidak terlalu bagus. “Rekaman gambar tidak bisa bergerak. Namun hanya bergerak 7 detik awal, selebihnya tidak bisa normal,” ujarnya. Namun bukan perkara sulit bagi ahli teknologi informasi untuk membuat rekaman suara yang tidak jelas. Dijelaskan Rubi, unutk membuat rekaman suara menjadi jelas dengan diberlakukan tekni normalize.  "Rekaman suara yang kurang jelas kita lakukan teknik normalize. Suaranya disamaratakan agar cukup jelas," ujarnya.

 

Rekaman pembicaraan Sigit dengan Antasari berdurasi 1,5 jam. Rubi menilai pembicaraan bos Harian Merdeka dengan mantan ketua KPK ini akan merencanakan sesuatu. “Seperti yang ditranskrip ada sebuah perencanaan sebuah kegiatan,” ujarnya

 

Selain itu, penyidik pernah menunjukan nomor terdakwa dalam kasus pembunuhan tersebut. Baik nomor Antasari, Sigit Haryo Wibisono, dan Williardi Wizard. Hasil analisa, menurut Rbi menunjukan bahwa terjadi beberapa kali transaksi percakapan antara berbagai pihak . Dijelaskan Rubi, pesan pendek dari nomor Antasari ke nomor Sigit sebanyak 43 kali. Sebaliknya, pesan pendek dari Sigit ke Antasari sebanyak 29 kali. Sementara itu, voice call antara Williardi  ke Antasari  sebanyak 7 kali. Sedangkan  voice call dari Williardi ke Sigit sebanyak 66 kali.

 

Angota penasihat hukum terdakwa, Hotma Sitompoel menggali penasaran dengan keterangan ahli.  "Apa bisa menganalisa, kalau rekaman tersebut memang tidak dimanipulasi," ujarnya. Menurut Rubi, rekaman tersebut asli dan saat diterima dari penyidik belum diperdengarkan. Segingga, Rubi meyakini rekaman tersebut tidak dimanipulasi. "Kalau dimanipulasi bisa ketahuan," ujarnya. Anggota penasihat hukum terdakwa lainnya, Ari Yusuf Amir dalam persidangan mengatakan tim penasihat hukum tidak memiliki transkrip rekaman antara pembicaraan Rhani dengan Antasari. Namun hanya memiliki transkrip rekaman antara Antasari dengan Sigit.                                 

 

Ditemui usai persidangan, ketua penuntut umum Cirus Sinaga mengakui penayangan dan memperdengarkan rekaman tidak dapat maksimal di muka persidangan. Namun menurutnya dapat dilihat transkrip hasil rekaman yang dibuat oleh Rubi yang terlampir dalam berkas perkara. "Jadi semua kata-kata itu terlampir. Rekaman itu di meja dekat dengan Sigit, jadi suara Sigit dominan," ujarnya.


Dijelaskan Cirus, bahwa dalam pembicaraan yang terdapat dalam rekaman adanya modus dengan perampokan. Bahkan ada perkataan mengeksekusi. "Ada rencana modus  dengan perampokan , ada yang mengeksekusi yaitu TKI orang berasal di luar Jakarta. Itu skenarionya," ujarnya. Menurutnya bukti rekaman berupa gambar dan rekaman suara saling mendukung. "Sehingga ada kesesuaian, pas," ujarnya.

 

Anggota penuntut umum, M Pandiangan mengatakan secara esensi apa yang tertuang dalam transkrip dengan rekaman gambar dan suara singkron. Menurutnya, rekaman tersebut justru memberatkan terdakwa. Sehingga penasihat hukum, sambung Pandiangan, memeinimalisir demei kepentingan pembelaan bagi kliennya. "Ini jelas memberatkan pertemuan Antasari dan Sigit yang sudah dibahas tidak puas kinerjanya Chairul. Di desak kalau perlu dirampok menggunakan TKI," ujarnya. Bagi penuntut umum, jelas Pandiangan, tidak dibuatnya transkrip gambar adalah masalah teknis. "Yang jelas transkrip sudah ada. Yang jelas kita buktikan hari ini tidaka da rekayasa dan seluruh originalitas kita tampilkan," ujarnya.

 

Sementara itu, ketua tim penasihat hukum Juniver Girsang mengatakan transkrip yang dikantongi tim penasihat hukum dengan rekaman tidak singkron.  Selain itu, kata Juniver ahli IT di persidangan mengatakan bahwa rekaman tidak secara keseluruhan. "Berarti tidak orisinil," ujarnya. Perihal perampokan sebagaimana di rekaman, menurut Juniver hal tersebut tidak benar. Menurutnya, perihal perampokan telah dikonfirmasi kepada kliennya. "Saya tanya pak Antasari, katanya tidak nyambung itu cerita perampokan itu," ujarnya.

 

Tim, kata Juniver meragukan keahlian ahli yang diadaulat oleh penuntut  umum. Menurut Juniver, Rubi adalah ahli teknologi informasi. Namun, justru dipaksakan sebagai ahli suara atau fonologi. Bukan tidak mungkin jika tim penasihat hukum meragukan keahlian ahli. "Sebetulnya ini dipaksakan saksi ahli. Dia kan bukan ahli  voice. Semakin tidak jelas dia saksi apa. Bukan meragukan lagi, tapi dagelan," pungkasnya.

 

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.