Kembali maraknya aksi terorisme, membuat Polri dan TNI menganggap perlu adanya langkah bersama untuk mengantisipasi dan menanggulangi aksi terorisme yang mengganggu stabilitas negara.
Kamis pagi (11/3), Kapolri Bambang Hendarso dan Panglima TNI Djoko Suyanto membuka acara latihan gabungan Polri-TNI di Monas, Jakarta. Latihan gabungan ini sebenarnya sempat direncanakan pada tahun 2009, tapi karena kesibukan masing-masing baru terealisir pada pertengahan Maret 2010. Ada beberapa lokasi yang akan dijadikan tempat latihan, tiga di antaranya adalah Bursa Efek Jakarta, Hotel Borobudur, dan Bandara Soekarno-Hatta.
Di tempat-tempat itulah Polri dan TNI akan melakukan latihan gabungan, yang mana sebelumnya diberikan materi mengenai penanggulangan dan antisipasi aksi terorisme. Seperti, menganalisa ancaman terkini sesuai perkembangan situasi dan kondisi intelijen terakhir. Kemudian, merumuskan, menganalisa, dan menguji cara bertindak melalui Tactical Floor Game dan Table Top Game. Selain itu, ada pula materi pengambilan keputusan cara bertindak, penyusunan, pengujian, dan penyampaian rencana operasi penanggulangan terorisme terpadu yang diikuti dengan pelaksanaan komando dan kendali taktis.
Melalui latihan ini, Polri dan TNI akan mengetahui sejauh mana kesiapan mereka untuk menanggulangi ancaman terorisme yang sudah mulai mengganggu stabilitas dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentunya, Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) berharap melalui latihan gabungan terpadu ini, "TNI dan Polri secara profesional siap menghadapi setiap bentuk serangan teroris yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional".
BHD melanjutkan, aksi terorisme di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia, menyebabkan dampak negatif yang cukup luas dalam berbagai aspek kehidupan dan menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Oleh sebab itu, penanggulangan aksi terorisme bersama sangat dibutuhkan untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat. Selain memberikan perlindungan, langkah TNI dan Polri ini merupakan wujud keseriusan pemerintah dalam mengantisipasi aksi terorisme yang mengganggu stabilitas keamanan NKRI.
"Karena menyadari hal ini, Polri dan TNI sebagai ujung tombak penegakan hukum dan pertahanan negara tidak akan pernah membiarkan terorisme menghantui dan mengancam masyarakat Indonesia. Dengan berupaya meningkatkan daya tangkal, kita harapkan adanya suatu kepercayaan dan ketenangan masyarakat secara utuh," ujarnya.
Seperti diketahui, belakangan aksi terorisme kembali marak. Aksi pemboman Hotel JW Marriot dan Ritz Calrton, serta penyergapan teroris di Aceh memakan korban yang tidak sedikit. Meski akhirnya Polri berhasil "melumpuhkan" gembong teroris Noordin M Top dan buron teroris seasia tenggara, Dulmatin, tapi dalam operasi penyergapan teroris di Aceh Polri telah kehilangan tiga anggotanya dan dua warga sipil.
Melihat kondisi yang seperti itu, BHD menganggap aksi terorisme ini tidak pernah terlepas dari konflik kepentingan. Dimana, di balik kepentingan itu ada ancaman kekerasan yang justru mengorbankan pihak-pihak lain yang tidak berdosa. Sehingga mengusik perdamaian dan menyebabkan tragedi kemanusiaan yang tidak mungkin bisa dimaafkan. "Untuk itu, upaya pemberantasan terorisme (bersama) ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, karena kelestarian bangsa Indonesia, bagi TNI-Polri merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar lagi".
Panglima TNI Djoko Suyanto juga mengamini upaya berkelanjutan ini. Pasalnya, Presiden telah meminta Polri-TNI untuk terus melakukan latihan secara berkala, supaya jika sewaktu-waktu terjadi aksi terorisme terjadi Polri-TNI sudah siap dan siaga. Namun, dengan latihan gabungan ini, bukan berarti ada tumpang tindih tanggung jawab. Djoko menegaskan, "dalam tatanan negara yang menganut demokrasi seperti ini, menjadi tanggung jawab Polri (untuk menanggulangi aksi terorisme). Tapi, kalau ada keputusan politik bahwa keadaan menjadi darurat maka kendali bisa ditangan TNI".
"Demikian juga dalam operasi skala besar, apabila memang kekuatan Polri perlu tambahan kekuatan, maka TNI menyiapkan. Tentunya, jika di hari mendatang kita melakukan operasi bersama atau ada bantuan TNI, itu harus berjalan sesuai prosedur," imbuhnya.
Mengenai pola latihan yang akan mereka lakukan, Djoko mengatakan akan mengacu pada serangan teroris di Mumbai, India. Yang mana, pola serangannya terjadi di beberapa tempat sekaligus. "Serangan teroris di Mumbai di sebelas titik inilah yang digunakan sebagai latar belakang. Karena, dengan ini kita mengerahkan seluruh kekuatan dalam latihan bersama setiap tahun, sehingga bila mendapat serangan teroris dalam jumlah lokasi yang banyak kita sudah siap".