hukumonline
Senin, 15 Maret 2010
Polri-Kemendiknas Canangkan Kurikulum Materi Disiplin Berlalu-lintas
Tertib dan disiplin berlalu-lintas sudah selayaknya ditanamkan sejak dini, mulai dari Taman Kanak-kanan sampai Perguruan Tinggi. Untuk tahun ajaran 2010-2011, materi berdisiplin berlalu-lintas akan dimasukan dalam kurikulum. Namun, hal tersebut dianggap kurang efektif, apabila praktek di lapangan tidak mendukung.
Nov
Dibaca: 1487 Tanggapan: 2

Polri dan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah menandatangi Memorandum of Understanding (MoU) terkait upaya menanamkan budaya tertib dan disiplin berlalu-lintas. Hal ini sangat diperlukan karena berdasarkan data yang dimiliki Polri, kata Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD), setiap tahun jumlah kecelakaan lalu-lintas bertambah. Lalu, lima persen korban kecelakaan lalu-lintas ternyata berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa. Sejalan dengan ini, Kemendiknas merasa perlu dibentuknya budaya tertib dan disiplin berlalu-lintas sebagai upaya pencegahan.

 

Untuk itu, Polri dan Kemendiknas mencanangkan program sosialisasi budaya tertib dan disiplin berlalu lintas sejak dini, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Namun, kerja sama ini tidak hanya sebatas pada program yang kini sedang dilaksanakan, tapi juga akan terus berkelanjutan, demi terciptanya budaya tertib dan disiplin berlalu-lintas di masyarakat. 

 

Untuk itu, sebagai langkah awal, Mendiknas Muhammad Nuh menyatakan akan memasukan materi tertib dan disiplin berlalu-lintas dalam kurikulum 2010/2011. Tujuannya, agar setelah anak didik ini keluar dari sekolah, mereka dapat membawa budaya tertib dan disiplin berlalu-lintas dalam aktivitasnya sehari-hari di masyarakat. “Itu bisa kita mulai (memasukan dalam kurikulum) di tahun ajaran baru 2010/2011, yang akan diresmikan bulan Juli besok. Sekarang ini, masih ada dua tiga bulan. Kita bisa mempersiapkan materi-materi teknis, termasuk mulai dengan mengembangkan taman lalu lintas, duta lalu lintas, dan segala macam yang terkait dengan itu”.

 

Tentunya, lanjut Muhammad Nuh, untuk setiap jenjang pendidikan akan dipilih metodologi yang pas dan sesuai target. “Dan tidak harus semuanya (materi tertib dan disiplin berlalu-lintas) dituangkan dalam bentuk mata pelajaran khusus. Hanya nilai-nilai dari disiplin lalu-lintas di-insert atau dimasukan dalam kegiatan proses belajar mengajar”. Misalnya, dalam Matematika, bisa dimasukan dalam sub bab atau diintegrasikan ke dalam rumus-rumus yang sudah ada. “Seperti, ketika mengajarkan rumus mencari kecepatan, dengan rumus itu dicari, dianalisis, supaya tidak terjadi kecelakaan kecepatannya berapa. Selain itu, di-insert juga di setiap mata pelajaran, di Fisika bisa, Biologi bisa, di Ilmu Sosial juga bisa,” terangnya.

 

Pengajar Universitas Negeri Jakarta, Betsi Sihombing berpendapat materi tertib dan disiplin berlalu lintas sebaiknya memang tidak perlu dibuat dalam satu mata pelajaran khusus. Lebih baik terintegrasi dalam mata pelajaran yang sudah ada, karena beban anak didik sekarang ini sudah terlalu berat. “Namun, kalau dipikir-pikir kalau sejak dini, anak-anak itu sebenarnya sudah tertib. Cuma, karena lingkungannya yang merusak, yang dewasa juga memberi contoh nggak bagus, ya hasilnya begini ini”.

 

Dengan demikian, Betsi berpendapat bahwa memasukan materi tertib dan disiplin berlalu-lintas dalam kurikulum sebenarnya tidak efektif. Karena, banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya budaya tersebut. Tidak hanya di pendidikan di sekolah, tetapi juga pendidikan nyata (praktek) yang mereka dapat di lingkungan keluarga dan masyarakat. “Jadi, kalau itu jadi kurikulum, saya rasa tidak efektif lah. Karena kalau di sekolah kan cuma cerita, teori-teori. Kita lihat di lapangannya seperti apa. Ya dia ikut seperti itu. Meski di rumah (keluarga) orang-orangnya baik-baik, di sekolah juga sudah diajarin, teori semua cukup. Tapi begitu di lapangan, akhirnya dia meniru kan,” ujarnya.

 

Maka dari itu, Betsi menekankan agar yang terlebih dahulu ditertibkan itu adalah masyarakat. Salah satunya, adalah dengan cara menegakkan aturan hukum berlalu-lintas secara tegas. Apabila memang ada yang melanggar, aparat harus menindak tegas, agar masyarakat lambat-laun dapat membangun kesadarannya untuk tertib dan disiplin berlalu-lintas. Seperti di negara maju, Betsi mencontohkan.

 

“Meski, sifat dasarnya udah rusak, berantakan, tapi kalau misalnya jalan di negara maju, kenapa kita bisa jadi tertib? Itu karena kita melihat di situ teratur, maka terpaksa kita ikuti”. Selain itu, imbuhnya, “sanksinya juga berat, sehingga akhirnya orang yang mula-mula terpaksa, lama-lama menyadari, oh ternyata bagus juga. Bahkan, tanpa dikasih sanksi pun orang menyadari”.

 

Jadi, lanjut Betsi, “biar yang dewasa atau masyarakatnya diberi syok terapi dulu supaya semua disiplin. Kalau salah, ya langsung ditangkap, sehingga orang jadi takut. Nah, kalau semuanya sudah berdisiplin, anak-anak mendapat contoh yang bagus dari yang dewasa”.

Share:
tanggapan
DISIPLIN DAN KONSEP DIRIErwinsyah 18.08.11 22:47
DISIPLIN merupakan kepatuhan atau peraturan yg harus ditaati, apabila dilanggar maka akan diberi sanksi trhadap sipelaku tanpa ada kemudahan-kemudahan sehingga pelaku kapok dan tdk akan mengulangi lagi. sedangkan KONSEP DIRI merupakan ''Nilai Diri'' yg telah ad sejak manusia it dpt membedakan mana yg baik dan tdk baik, bermanfaat atau tdk sama sekali. KONSEP DIRI trbentuk dari lingkungan keluarga dan sosial individu. Konsep diri trbagi 2: Positif dan Negatif) pada konsep diri positif; individu yg dapat memahami dan mentaati setiap peraturan dan disiplin, sedangkan konsep diri negatif, individu cenderung melanggar dan tdk suka adany peraturan sehingga cenderung pesimis dan anarkis. sebelum dibuat PERATURAn sebaikny kita harus benahi dahulu konsep diri individu dgn memberikan pandangan dan contoh kedua ny. THANKS.
DISIPLIN BERLALU LINTAS DAN KONSEP DIRIERWINSYAH 18.08.11 22:36
DISIPLIN merupakan kepatuhan atau peraturan yg harus ditaati, apabila dilanggar maka akan diberi sanksi trhadap sipelaku tanpa ada kemudahan-kemudahan sehingga pelaku kapok dan tdk akan mengulangi lagi. sedangkan KONSEP DIRI merupakan ''Nilai Diri'' yg telah ad sejak manusia it dpt membedakan mana yg baik dan tdk baik, bermanfaat atau tdk sama sekali. KONSEP DIRI trbentuk dari lingkungan keluarga dan sosial individu. Konsep diri trbagi 2: Positif dan Negatif) pada konsep diri positif; individu yg dapat memahami dan mentaati setiap peraturan dan disiplin, sedangkan konsep diri negatif, individu cenderung melanggar dan tdk suka adany peraturan sehingga cenderung pesimis dan anarkis. sebelum dibuat PERATURAn sebaikny kita harus benahi dahulu konsep diri individu dgn memberikan pandangan dan contoh kedua ny. THANKS.

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.