hukumonline
Rabu, 11 Mei 2011
Kontroversi Gagasan Legalisasi Ganja dan Judi di Indonesia
Setelah judi, kini muncul gagasan legalisasi tanaman ganja. Gagasan sudah disampaikan secara terbuka. Mitos bahaya ganja dianggap tak sesuai kenyataan. Hukum positif tetap melarang.
Rofiq Hidayat
Dibaca: 9128 Tanggapan: 11
Kontroversi Gagasan Legalisasi Ganja dan Judi di Indonesia
Laman Lingkar Ganja Nusantara di situs jejaring sosial facebook.

Harapan Muzakir dan Sumanto untuk tetap berdinas di lingkungan militer pupus sudah. Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi mereka. Kedua oknum tentara yang bertugas di Yonif 203/AK Tangerang itu sebelumnya dihukum masing-masing 1,5 tahun penjara plus dipecat dari dinas militer. Upaya mereka banding dan kasasi tetap tidak mengubah sanksi yang harus mereka hadapi.

 

Barang yang mengubah nasib Prajurit Kepala (Praka) Muzakir dan Prajurit Satu (Pratu) Sumanto  adalah tiga kilogram ganja. Mereka tertangkap petugas Polres Jakarta Utara di sebuah halte bus di Jalan RE Martadinata, Jakarta. Tiga tahun setelah penangkapan itu, Mahkamah Agung menjatuhkan vonis tersebut.

 

Vonis ‘berat’ Mahkamah Agung kepada mereka yang kedapatan membawa, memiliki, memperjualbelikan, dan mengkonsumsi ganja bukan hanya menimpa Muzakir dan Sumanto. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang harus berhadapan dengan aparat penegak hukum karena kesandung masalah ganja. Yang ikut terseret ke kursi terdakwa bukan hanya masyarakat biasa, tetapi juga aparat penegak hukum. Mereka terjerat pasal-pasal Undang-Undang Narkotika. Ganja dikualifisir sebagai narkotika Golongan I.

 

Hingga kini, pengadilan masih menjatuhkan hukuman relatif berat kepada orang yang membawa, mengirim, atau mengangkut ganja. Artinya, kepada siapapun yang memenuhi kualifikasi UU Narkotika, nyaris tidak ada ampun. Sebab, dalam hukum positif ganja masih dianggap sebagai barang haram.

 

Hukum positif itulah kini yang sedang ditantang Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Kelompok yang lahir dari pendukung legalisasi ganja di jaring sosial facebook ini tegas meminta agar ganja dilegalisasi. LGN berpendapat jika ganja dilegalisasi, Pemerintah lebih mudah mengawasi. LGN terus mengkampanyekan gagasan mereka. Bahkan gagasan legalisasi ganja tak lagi disampaikan diam-diam, melainkan secara terbuka.

 

Mereka juga membentuk Yayasan Penelitian Tanaman Ganja sebagai badan hukum tempat bernaung. Untuk memperkuat argumentasi, LGN mempublikasikan serangkaian studi perbandingan, termasuk mitos bahaya ganja dan kenyataan ilmiah.

 

Mitos tentang ganja dapat menyebabkan kecanduan yang sangat tinggi, misalnya. Dengan mengutip penelitian di Amerika Serikat dan diperkuat sejumlah referensi, LGN menjelaskan sedikit sekali pengisap ganja yang mengalami ketergantungan. LGN mengklaim Seorang pengguna berat ganja dapat berhenti dengan mudah tanpa mengalami kesulitan. Di mata LGN, tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa ganja dapat menyebabkan kerusakan psikologis atau penyakit mental bagi remaja dan orang dewasa.

 

Sebagai sebuah gagasan, usul LGN langsung mendapat reaksi dari banyak pihak. Aliansi Masyarakat Peduli Generasi (AMPG), misalnya, mengecam aksi LGN sebagai ‘kampanye amoral’. Aliansi memandang apa yang dilakukan LGN sebagai upaya provokasi atas kemapanan tatanan hukum, budaya, dan sosial masyarakat.

 

AMPG mendesak kepolisian dan Badan Narkotika Nasional memeriksa para aktivis LGN. Sebab, apa yang dilakukan LGN bisa dikualifisir sebagai perbuatan pidana jika mengacu pada UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pasal 1 angka 18 Undang-Undang ini mengatur tentang permufakatan jahat mengorganisir perbuatan jahat.

 

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Boy Rafli Amar, ikut angkat suara. Menurut dia, sebagai bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum, boleh saja LGN mengusung tema legalisasi ganja. “Silakan menyampaikan argumentasi dan alasan yang jelas kenapa dilegalkan,” ujarnya.

 

Boy menegaskan hukum positif Indonesia masih melarang peredaran ganja. Kalau ada yang berpendapat sebaliknya, Boy meminta untuk disampaikan kepada lembaga yang berwenang dan melalui mekanisme yang berlaku. Sepanjang syarat itu dipenuhi, polisi tak bisa melarang orang mengajukan gagasan untuk merevisi hukum positif. “Silakan kalau mau direvisi,” kata Boy.

 

Pengajar hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Mudzakir mengakui ada narkotika yang digunakan untuk tindakan kesehatan. Yang dikriminalisasi adalah penyalahgunaannya. Tetapi ia tegas menolak gagasan legalisasi ganja. “Segala sesuatu yang merusak, zat adiktif, semuanya dilarang. Tidak boleh ada toleransi,” ujarnya kepada hukumonline.

 

Kalaupun ada negara, seperti Belanda, yang melegalkan konsumsi ganja di tempat-tempat tertentu, menurut Mudzakir, kurang pas dijadikan contoh. Filosofinya adalah tidak mengganggu ketertiban publik. Berbeda dengan Indonesia, yang filosofi pelarangan lebih karena mempertimbangkan dampak kerusakan akibat konsumsi ganja. Kalau ganja dilegalkan, dampak buruknya sampai pada generasi mendatang.

 

Legalisasi Judi

Gagasan untuk melegalisasi sesuatu yang selama ini ‘haram’ bukan kali ini saja muncul. Sebelum LGN mengusung legalisasi ganja, sudah ada gagasan melegalisasi perjudian. Bahkan gagasan itu diwujudkan dalam bentuk permohonan pengujian pasal perjudian dalam KUHP (pasal 303, dan 303 bis) dan UU No 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.

 

Adalah Suyud dan Liem Dat Kui, dua penduduk Jakarta Pusat, yang membawa persoalan perjudian itu ke Mahkamah Konstitusi. Hak konstitusional Suyud dirugikan oleh berlakunya pasal-pasal perjudian yang terwujud dalam bentuk vonis empat bulan satu minggu di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Liem Dat Kui merasa diperlakukan tidak adil. Pada masyarakat tertentu seperti Liem, permainan judi dan bermain taruhan sudah menjadi tradisi. Dengan demikian, tradisi itu juga harus mendapat perlindungan hukum.

 

Dalam permohonan yang disampaikan lewat pengacara mereka, Suyud dan Liem berargumen omzet perjudian sangat besar sehingga melihat perjudian jangan melulu secara hitam putih, baik buruk, melainkan juga kemanfaatannya bagi negara melalui pajak. Legalisasi perjudian dan lokalisasinya adalah solusi paling realistis di mata pemohon. Argumentasi Suyud dan Liem pada akhirnya ditepis, dan Mahkamah Konstitusi menolak seluruh permohonan mereka.

 

Sebenarnya, gagasan legalisasi perjudian bukan hanya datang dari Suyud dan Liem. Secara ilmiah, M Azis Syamsudin –kini anggota DPR—pernah mengajukan gagasan ‘dekriminalisasi perjudian’. Dekriminalisasi perjudian mengandung arti, proses menghilangkan sifat dilarang dan diancam pidana dari suatu tindak pidana yang semula merupakan tindak pidana menjadi tindakan yang tidak dilarang dan tidak diancam pidana.

 

Tak tanggung-tanggung, gagasan Azis disampaikan melalui disertasi doktornya dalam bidang ilmu hukum di Universitas Padjadjaran Bandung. Azis menggunakan teori hukum dan pembangunan sebagai dasar mengajukan gagasan dekriminalisasi perjudian. Dengan teori ini, hukum –termasuk hukum pidana-- harus dipandang sebagai sarana pembaruan masyarakat. Dalam konteks ini, perjudian telah melahirkan berbagai jenis bisnis seperti hotel, toko, jasa boga, transportasi, dan taman rekreatif lainnya.

 

Legalisasi ganja dan dekriminalisasi judi merupakan dua gagasan yang mengundang kontroversi. Meskipun banyak ditentang, satu hal yang pasti, gagasan itu berusaha disampaikan secara ilmiah dan terbuka.

 

Seperti kata Boy Rafli Amar, sah-sah saja menyampaikan gagasan. Tetapi hukum positif Indonesia sampai sekarang masih memandang mengkonsumsi ganja dan bermain judi sebagai perbuatan pidana.

 

Share:
tanggapan
MikirNcik 15.08.14 18:12
Kalo saya mikir-mikir, kalo ganja itu dilegalkan seperti di Uruguay dan 16 negaral lainnya, apa ya masih ada peredaran ganja sembunyi-sembunyi? Trus kalo memang demikian, harga ganja juga pasti akan jadi murah karena setiap orang bisa menanam di depan rumah. Tidak ada lagi sebutan pengedar ganja. Trus, jika ganja bisa menyelamatkan orang dari kangker mematikan, bagaiman anda atau orang yang anda cintai *mikir* jika saat ini anda sedang berjuang melawan kangker? Dari banyak penelitian, tembakau dan alkohol jauh lebih berbahaya daripada ganja. Kalian tutup mata dan telinga rapat-rapat mengenai kebaikan ganja. Kalian orang kan?
rakyat dengan budaya hipokrat, munafik dan egosentrisnamaku 14.05.12 09:23
Anda semua menurut saya rata2 termasuk di dalam jenis pupulasi indonesia yang Munafik, egosentris dan agamais yang tidak terarah tanpa memikir nasib orang lain. Alasan saya berkata demikian, anda-anda yang berkomentar disini, tentulah dari kalangan terpelajar yang saya yakin memiliki tingkat strata ekonomi berkecukupan. anda semua berteriak dan menyerukan Judi Haram, merusak moral, tidak agamais akan tetapi berpikirkah anda betapa butuhnya rakyat kita akan devisa yang bisa didapatkan dari industry ini?? saat ini betapa banyak rakyat kita yang bermain judi di Malaysia (negara syarikat Islam), singapore, Macau, dll. betapa banyak uang rupiah kita di habiskan di negara lain. buka lah pikiran anda. jgn berpikir kolot dengan membawa agama sebagai tameng, ingat tidak semua saudara anda bernasib sama dengan perut ter isi saat ini.
Kesetaraan di mata HukumFisika 08.12.11 05:30
Sungguh mengherankan para wakil rakyat kita seperti menutup sebelah mata atas apa yang sebenarnya terjadi. Rokok dapat mencetuskan kanker, menularkan Tubercuklosis, penyakit jantung, dll yang merugikan masyarakat, tidak dilarang. Alkohol yang memabukkan, menimbulkan kerusakan moral, kecanduan, penyakit hati, sampai kanker hati, di perdagangkan terbatas. Sementara ganja secara medis empiris tidak mengakibatkan kecanduan baik fisik maupun psikis malah dilarang total dan ditempatkan sebagai Narkotika Golongan 1, hanya karena efek2 yang sesaat. Ganja sudah dipakai sebagai bumbu penyedap pada masakan2 Padang. Apakah kepolisian akan menangkap rumah makan Padang yang menggunakan sebagian atau seluruh bagian dari tanaman ganja ini? Kalau tidak, kenapa? Bukankah dalam menerapkan hukum, semua harus setara. Tanpa terkecuali. Apalagi dianggap sebagai Narkotika Golongan 1, maka pembuat masakan Padang di seluruh Indoneia dan produsen kopi Aceh yang terkenal itu harus diselidiki dan ditangkap!!!
aneh tapi anehtengku syahdan 03.09.11 18:48
kalo dilegalin yg ada pemakai dan pemosok senang...dan bangsa ini jadi bangsa yg urakan, coba lihat pengguna ganja atau narkoba yg lain sebelum di legalkan...gegabah sekali yang bilang ganja harus di legalkan....mikir pake otak baru tindakan...
maafdread lock 07.12.11 12:17
maaf,saya sangat tdk stuju dgn prnyataan anda,, yg saya rasakan stelah mamakai ganja ga prnah ada rasa untuk brtindak anarkis atau tindakan yg brutal,,jstru sbaliknya, jd tolong diralat prnyataan anda... trima kasih..
Aduuuhhh nasib bangsa ini...SPM 01.08.11 10:17
Ya ampun, itu para penggagas Legalisasi Ganja ketika membuat account di facebooknya sambil nge-gele cimenk kali ya? atau mereka justru pemasok, pengedar, dan pemakai paling aktif seantero nusantara, karena kalau ganja dilegalisasi, pasti mereka yang akan kaya raya, karena mereka sudah bisa menjual seluruh ganja mereka tanpa tertangkap. Sebenarnya sih, kalau saya jadi Kapolri atau BNN, saya akan awasi terus orang-orang dari LGN itu... jangan-jangan, mereka udah membuat pabriknya..? lihat ajah isinya dulu, ada kagak orang dari Nigeria atau negara-negara eksportir ganja dan narkotika lain? lalu pelajari peredaran mereka, jangan-jangan sudah merambah ke anak-anak SD, bahkan anak anda yang disekolah dasar sudah nyimenk enak-enak di kantin? ckckckckckc...
legalisasi ganja dan judibambang santoso 31.07.11 00:11
Begitu kontropersial ide legalisasi terhadap ganja dan judi. Ganja dan judi mempunyai efek negatif yang cukup luas bagi para peminatnya, penyalahgunaan ganja berakibat terganggunya akal pikir seseorang dan mengakibatkan ketergantungan, padahal akal pikir itu modal dasar bagi pembangunan pribadi dan modal dasar bagi pembangunan bangsa/masyarakat. sementara judi berefek kepada rusaknya tatanan norma dan nilai di tengah-tengah masyarakat, pola pikir yang dinamis menjadi statis memikirkan sesuatu hal yang tak pasti, bahkan di tengah masyarakat menghabiskan waktu untuk membahas permainan judi, manfaatnya sangat kecil yakni bagi segelintir terutama bagi penyedianya, dan bahayanya dapat bersifat sistemik kepada mentalitas masyarakat yang harusnya berfikir untuk mencari peluang kehidupan tetapi membahas suatu hal yang bersifat tak pasti dan untung-untungan yang tak riil.
Legalisasi Ganja & Judivictor 16.06.11 08:36
Ganja kalau dilegalkan pasti mayoritas masyarakat tidak akan setuju karna akan merusak moral generasi bangsa tetapi kalau Judi dilegalkan sah-sah aja dengan syarat : ditentukan lokasinya, Ijinnya harus resmi. Keuntungannyha : -Pemerintah dapat keuntungan dari Pajak. -Terbuka lowongan Kerja bagi Masyarakat -Terbuka tempat untuk usaha, makanan, minuman, parkir dll.
legalisasitotok yuliyanto 25.05.11 11:29
Banyak pihak yang berpendapat legalisasi kemudiaan hal tersebut bisa ditemukan dimana saja, legalisasi ganja punya maksud untuk mengatur ulang terhadap penggunaan ganja, sehingga kontrol pemerintah tetap bisa dilakukan. jadi jangan berpikiran dengan upaya yang dilakukan oleh LGN mengakibakan ganja bererakan dipasaran, hanya tempat2 tertentu. tidak seperti sekarang Ganja berserakan. Budaya Indonesia memang mengkonsumsi Ganja, coba deh makan mie aceh di Jakarta dan di Aceh pasti berbeda dll
budaya bangsahartanto 23.05.11 14:57
kalau pernah ke amsterdam, di damrak bisa ita saksikan mereka yang dengan bebas mengisap ganja, apa yang demikian yang akan kita tiru??lantas dimana kebudayaan kita akan dibawa?
MirisVantank 19.05.11 13:18
Jika dua gagasan melegalkan ganja dan judi tersebut diitru dari sistem yg berlaku di negara lain blm tentu dapat berjalan dgn baik di Indonesia .. Jgn beri izin jika generasi bangsa tdk ingin rusak ..
pelegalan judi dan narkotikadinda 25.01.13 16:43
PRESTASI ... YES NARKOBA ... NO. jngan rusak moral, budaya, iman, dan prestasi generasi muda dengan barang yang sudah jelas tdak diperuntukkan bagi kita yang sehat jasmani dan rohani.
First Previous 1 2 Next Last

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.