hukumonline
Jumat, 04 November 2011
Hakim ‘Cabul’ Balas Menggugat
Tak mau diminta mundur dari jabatan sebagai hakim.
Ali
Dibaca: 2982 Tanggapan: 0

Seorang hakim di Pengadilan Franklin County, Ohio, Amerika Serikat, Harland Hale menggugat dua wanita, dan pengacaranya, yang telah menuduhnya telah melakukan pelecehan seksual. Dua wanita itu adalah Brenda Williams dan Lynn Hamilton, serta pengacaranya Michael G Moore. Gugatan yang didaftarkan pada Jumat ini berisi tuduhan pencemaran nama baik dan pelanggaran kesepakatan oleh Brenda dan Moore.

 

Gugatan ini merupakan rangkaian upaya hukum yang dilakukan oleh kedua belah pihak dalam kasus pelecehan seksual yang dituduhkan Brenda. Hale dituduh melakukan pelecehan seksual kepada Brenda ketika ia bekerja sebagai penerjemah bahasa Spanyol di Pengadilan Franklin County. Brenda dipecat pada November 2010 lalu.

 

Dalam gugatannya, Hale meminta ganti rugi lebih dari $25,000. Ia mengatakan Brenda telah melanggar kesepakatan yang telah dibuatnya dengan membongkar kasus ini ke publik. “Ada kesepakatan yang dilanggar yang menyatakan ‘kita akan menjaga ini agar tetap rahasia’ dan ada upaya untuk mengintimidasi pejabat publik (profesi Hale sebagai hakim),” ujar pengacara Hale, Rick Brunner sebagaimana dikutip dari The Columbus Dispatch, Kamis (3/11). 

 

Gugatan ini juga ditujukan kepada Lynn, wanita yang lain. Moore mengatakan memang ada kesepatan bahwa Lynn setuju akan tetap menjaga kisah pelecehan seksual ini bila Hale turun dari jabatannya sebagai seorang hakim. Sayangnya, si hakim tak mau juga turun dari jabatannya. 

 

“Ketika Lynn meminta Hale untuk melakukan suatu hal yang benar dengan turun dari jabatannya, Hale malah membalasnya dengan mendaftarkan gugatan yang tak berdasarkan. Hale jelas-jelas ingin menghancurkan Lynn sebagai person dan saksi, dan ini tak bisa dimaafkan,” ujar Moore.

 

Moore menceritakan kepada The Dispatch, Lynn menulis bahwa setelah bertemu dengan Hale di Pengadilan pada Juni, Hale lalu menjemputnya pada malam hari. Dia membawa Lynn ke bar. Pada malam itu, Hale mencoba untuk menciumnya dan mengantarnya pulang setelah meraba-raba bagian tubuhnya. Lalu, Hale kembali ke rumah Lynn secara tiba-tiba dan tidur di ranjang wanita itu.

 

“Saya tidak ingin membuat dia marah kepada saya dengan mengusirnya, karena saat itu, saya berpikir dia adalah hakim yang akan mendengarkan kasus saya,” tulis Lynn.

 

Namun, keterangan ini dibantah oleh Brunner. “Kami menyangkal bahwa semua cerita itu tidak benar,” tuturnya sambil menegaskan kliennya tak akan mundur dari kursi hakim.

 

Sementara, Brenda sudah lebih dulu mendaftarkan gugatan pada Desember lalu. Ia menggugat pihak pemerintah kota karena telah menutupi atau gagal menjawab komplain dirinya terkait perbuatan Hale yang tak senonoh. Dalam gugatannya, wanita latin berusia 45 tahun ini juga mengaku pernah diraba bagian sensitif pada tubuhnya oleh Hale. 

 

Gugatan ini juga meliputi deklarasi dari tiga perempuan lain yang bekerja dengan Hale. Mereka mengatakan bahwa Hale sering menggunakan bahasa yang menghina kaum perempuan dan minoritas. Dia perempuan lainnya juga menuduh Hale memang kerap berperilaku buruk.

 

Di Indonesia, para hakim jangan coba-coba bertindak seperti yang dituduhkan kepada Hale. Pasalnya, Majelis Kehormatan Hakim (MKH) sudah beberapa kali memecat hakim yang bertindak melanggar kode etik. Jangankan melakukan pelecehan seksual, berpoligami atau menikah siri sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya saja bisa terkena sanksi.

 

Pada pertengahan tahun lalu, seorang Hakim Pengadilan Agama Pare-Pare Sulawesi M Nasir, misalnya, dipecat secara tidak hormat oleh MKH. Dia dianggap melanggar larangan berpoligami (serta nikah siri) dan menggelapkan sejumlah uang.

 

Sumber: 

www.abajournal.com 

www.dispatch.com

 

 

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.