hukumonline
Senin, 07 Mei 2012
Coretan Kisah Yap Thiam Hien dari Sahabat
Biografi yang ditulis oleh sahabat Yap, Daniel S Lev sebelum meninggal dunia.
Ali
Dibaca: 6663 Tanggapan: 0
Coretan Kisah Yap Thiam Hien dari Sahabat
Buku No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer, karya mendiang Daniel S Lev. Foto: Sgp

Siapa advokat atau pengacara di Indonesia yang Anda anggap berani menentang sebuah rezim? Mungkin jawabannya tak banyak. Yap Thiam Hien adalah salah satunya. Advokat yang malang melintang sejak era Kemerdekaan, Orde Lama, hingga Orde Baru ini kerap berhadapan dengan pemerintah, terutama dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Saking getolnya memperjuangkan HAM di masa lalu, nama Yap saat ini dijadikan sebagai bentuk penghargaan untuk pejuang HAM di Indonesia setiap tahunnya, melalui Yap Thiam Hien Award. Bahkan, sejumlah lawyer menilai sosok Yap sebagai sosok lawyer hero yang patut ditiru dan diteladani. Sayangnya, masih banyak advokat muda yang belum terlalu akrab dengan sosok pria keturunan Tionghoa ini.

Bila Anda ingin berkenalan dengan Yap, mungkin buku karya mendiang Daniel S Lev perlu menjadi salah satu koleksi Anda. Daniel S Lev, Indonesianis asal Amerika Serikat, menceritakan sosok sahabatnya ini secara paripurna dalam buku bertajuk "No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer". Buku berbahasa Inggris ini menjadi spesial karena inilah salah satu karya terakhir Dan Lev sebelum dia dipanggil yang kuasa.

Buku yang diterbitkan pada 2011 oleh University of Washington Press ini terdiri dari 13 Bab. Dimulai dari kisah Yap yang lahir dari orangtua keturunan Tionghoa dan tumbuh di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Pada Bab I yang bertajuk Aceh, penulis cukup sukses menggambarkan silsilah keluarga Yap dan kehidupannya selama di daerah yang kental nuansa Islamnya itu.

Setelah mengupas kehidupan Yap kecil di Aceh, Dan Lev lalu mengisahkan petualangan Yap ketika menempuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA)-nya di Pulau Jawa. Bab III membahas kehidupan Yap di Batavia yang sudah mengenal dunia pergerakan dan mengisahkan Yap yang tumbuh sebagai seorang Kristen yang taat.

Yap mengasah ilmu hukumnya dengan berguru ke Leiden, Belanda. Universitas Leiden memang sudah terkenal sebagai penghasil sarjana-sarjana hukum jempolan pribumi sejak zaman Hindia Belanda. Di Universitas Leiden, Yap bukanlah sosok mahasiswa yang luar biasa. Nilainya pun tidak terlalu tinggi. “Mungkin karena dia juga memilih untuk aktif di berbagai kegiatan selama studinya di Belanda,” tulis Dan Lev dalam bukunya tersebut.

Usai menyelesaikan studinya, Yap kembali ke Jakarta pada 1949. Masa-masa itu bukanlah masa yang mudah bagi seorang Yap. Baru kembali dari luar negeri, Yap harus berhadapan kondisi bahwa Indonesia negara yang baru, dan revolusi yang dipimpin oleh Soekarno masih berjalan. Pada masa ini juga, Yap merasakan politik warga Tionghoa di Jakarta (Halaman 139).

Di bidang dunia organisasi advokat, jasa Yap juga tak sedikit. Di era demokrasi terpimpinnya Soekarno, para advokat akhirnya memilih untuk bersatu menggalang kekuatan. Di mulai dari organisasi kecil di daerah, hingga lahirnya Persatuan Advokat Indonesia (PAI) yang menjadi organisasi advokat pertama di Indonesia.

“Hanya empat belas advokat setuju untuk mendirikan Persatuan Advokat Indonesia berkumpul di cafetaria Universitas Indonesia (UI). Yap adalah salah satu di antara mereka,” jelas Dan Lev. Kemudian, PAI ini akhirnya sukses mengumpulkan advokat seluruh Indonesia di Solo untuk menggelar kongres dan mendirikan PERADIN (Persatuan Advokat Indonesia) sebagai organisasi advokat di Indonesia.

Tak hanya mengenai kiprah Yap di publik yang berhasil direkam oleh Dan Lev. Kedekatan Dan Lev dengan Yap sedikit banyak tentu bisa mengupas sisi dalam kehidupan Yap. Dalam buku ini, Dan Lev bahkan berhasil merekam ‘pertengkaran’ Yap dengan istrinya karena Yap tak kapok membela para pencari keadilan meski harus keluar masuk penjara.

Buku ini semakin menarik dengan keterlibatan Sebastian Pompe (pengamat peradilan Indonesia asal Belanda) dan Ibrahim Assegaf (eks Managing Director Hukumonline) yang mengumpulkan kasus-kasus bersejarah yang pernah ditangani oleh Dan Lev semasa Orde Baru. “Kami hanya melengkapi buku yang telah rampung ditulis oleh Pak Dan,” ujar Ibrahim kepada hukumonline.

Jadi, bila Anda ingin mengenal sosok Yap Thiam Hien, maka buku yang tersedia di Daniel S. Lev Library ini adalah literatur wajib yang harus Anda baca. 

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.