hukumonline
Rabu, 16 Mei 2012
Cina Diminta Hapus Pajak Bisnis Garuda
Agar Garuda bersaing dengan maskapai penerbangan lain yang beroperasi di Cina.
ant
Dibaca: 953 Tanggapan: 0
Cina Diminta Hapus Pajak Bisnis Garuda
PT Garuda Indonesia Airlines Tbk. Foto: Sgp

 

Pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di Beijing berharap Pemerintah Cina segera menghapus pajak bisnis bagi maskapai PT Garuda Indonesia Airlines Tbk yang beroperasi di Negeri Tirai Bambu itu.


“Permintaan ini dipahami pihak Cina dan tengah dibahas  secara internal oleh pihak terkait,”  ungkap Duta Besar RI untuk Cina dan Mongolia Imron Cotan saat dikonfirmasi di Beijing, Rabu (16/5).


Ia menambahkan diperkirakan dalam satu hingga dua bulan kedepan sudah ada keputusan terkait hal itu. "Kami berharap secepatnya, sehingga Garuda dapat beroperasi secara kompetitif dengan maskapai lain, bak domestik maupun mancanegara yang operasional di Cina," kata Imron.


Indonesia dan Cina telah menyepakati kerja sama penerbangan dengan penandatanganan "Agreement Between the Government of The Republic of Indonesia" dan "The People's Republic of China for The Avoidance of Double Taxation and the Prevention of Fiscal Evasion with Respect of Tax Income" pada 7 November 2001.


Berdasar ketentuan Pasal 8 dalam kesepakatan itu, maskapai Garuda Indonesia yang melayani rute ke Beijing, Shanghai dan Guangzhou, tidak dikenakan pajak perusahaan. Namun dikenakan pajak bisnis sebesar tiga persen dari penjualan bersih Garuda Indonesia di tiga kota tersebut.


Padahal, maskapai asing lainnya yang beroperasi di Cina tidak dikenakan pajak bisnis. Akibatnya, daya saing Garuda menjadi kurang dibandingkan maskapai asing lain yang beroperasi di Negeri Panda itu.


Sementara, Pemerintah Indonesia tidak menerapkan pajak bisnis terhadap maskapai Air China untuk beroperasi di Indonesia.


Manajer Garuda Indonesia Beijing, Asa Perkasa mengatakan penghapusan pajak bisnis akan mendorong air flag carrier Indonesia ini untuk berkompetisi dalam menggarap pasar Cina yang sangat prospektif.


"Cina sebagai negara yang tengah tumbuh dengan pesat, khususnya di sektor ekonomi, merupakan pasar yang sangat potensial untuk digarap," ucapnya.


Sekarang ini, di Cina, Garuda Indonesia menerbangi rute Jakarta-Beijing lima kali dalam sepekan serta Jakarta-Shanghai dan Jakarta-Guangzhou setiap hari.


"Jalur penerbangan ke Cina selain untuk kepentingan pariwisata, juga mendukung kegiatan bisnis antara pelaku bisnis kedua negara. Jadi sangat potensial dan prospektif pasar Cina ini," ujar Asa, menegaskan.


Berdasar data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif jumlah turis Cina ke Indonesia pada 2011 tercatat 777.249 orang atau naik 17,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yakni sekitar 661.990 orang.


Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Cina ke Indonesia, hingga satu juta per tahun, Garuda Indonesia juga melakukan penjajakan guna membuka rute baru di Cina yakni ke Chengdu dan Chongqing.

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.