hukumonline
Selasa, 22 Mei 2012
Pelaku Tak Sadari Akibat Hukum Menyebar Foto Palsu
Proses hukum dikhawatirkan mempengaruhi status Yogi sebagai mahasiswa.
Rfq
Dibaca: 1370 Tanggapan: 0
Pelaku Tak Sadari Akibat Hukum Menyebar Foto Palsu
Korban tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di RS Polri. Foto: Sgp

Pelaku penyebar foto palsu korban tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Cijeruk Gunung Salak, Yogi Samtani tidak ditahan penyidik Bareskrim. Penyidik hanya mewajibkan mahasiswa Lampung itu melapor dua kali sepekan.

Senin kemarin adalah hari pertama kewajiban lapor. Yogi hanya diwakili kuasa hukumnya, M. Yahya Rasyid. Rasyid juga baru datang sehari kemudian.  “Hanya wajib lapor saja, ini yang pertama,cuma absen saja,” ujarnya saat menyambangi Bareskrim Mabes Polri, Selasa (22/5).

Rasyid membenarkan penyidik masih terus mengembangkan kasus kliennya, termasuk meminta keterangan sejumlah saksi. Ia belum bisa memastikan berapa lama perkara kliennya disidik karena sejumlah saksi ada di daerah. Saksi-saksi juga belum tentu datang pada panggilan pertama. “Yang diminta sebagai saksi tidak selamanya tepat waktu,” imbuhnya.

Rasyid justru khawatir nasib perkuliahan kliennya. Bagaimanapun, kasus ini membuat Yogi harus bolak balik Lampung-Jakarta. Ia meminta agar Yogi mendapat keringanan dari kampus selama menghadapi proses hukum.

Ia juga menegaskan ulang pengakuan kliennya. Yogi telah mengakui perbuatan dan meminta maaf kepada masyarakat, terutama keluarga korban. Mengunggah foto ke dalam jejaring sosial adalah hal yang lumrah. Cuma, yang dilakukan Yogi, tidak tepat. “Mungkin karena pas lagi musibah, ya dengan Sukhoi ini kita harus menyadari kita harus jujur bahwa itu bisa membuat ketersinggungan perasaan dari pihak korban,” imbuhnya.

Rasyid berdalih, perbuatan mengunggah foto palsu korban tragedi Sukhoi Superjet 100 tidak disadari kliennya akan berdampak hukum. Menurut dia kliennya hanya menyampaikan rasa empatinya. Makanya Yogi menyebarkan foto itu  melalui media jejaring sosial, twitter.

“Kalau dia punya maksud yang negatif, tentunya dia tidak akan berikan data yang selengkap di twitter itu, fotonya, nama lengkap, alamat.  Di situlah kita bisa memperlihatkan iktikad baik itu. Namanya manusia tidak luput dari kesalahan itu, kita kan sebagai manusia biasa sudah menyadari apa yang dilakukan itu yang pada awalnya dia tidak tahu bahwa itu salah,” tandasnya.

Kendati tidak ditahan, Rasyid belum mengajukan keringanan. Sebab dia beralasan persoalan hukum yang menjerat kliennya masih tergolong wajar. Yang pasti, dia memastikan kliennya akan bersikap kooperatif menjalani pemeriksaan oleh penyidik Bareskrim. Menurut dia dengan wajib lapor dan tidak dilakukan penahanan sudah lebih dari cukup. Karenanya kata dia, kliennya akan menghormati proses hukum yang berlaku. “Kita hadapi, kita harus patuh hukum spanjang hukum itu ditegakan secara objektif, “ katanya.

Lebih jauh dia menuturkan, kasus hukum yang menjerat kliennya menjadi pelajaran bagi masyarakat lainnya agar tidak sembarangan mengunggah foto di media jejaring sosial. Namun dia menghimbau terhadap pelaku, mesti diproses secara hukum dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah. “Mungkin Yogi ada dapat batunya, tapi itu bisa jadi pembelajaran kepada masyarakat,” tukasnya.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Kombes Pol Boy Rafli Amar mengatakan proses pemeriksaan terhadap Yogi akan terus berjalan kendatipun yang bersangkutan hanya wajib lapor. “Pemeriksaan terus berjalan,” pungkasnya.

Polisi sudah menetapkan Yogi sebagai tersangka. Penyidik menjerat Yogi dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal 35 jo Pasal 51 ayat (1) UU ITE. Ancaman pidana pasal itu di atas lima tahun.

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.