hukumonline
Senin, 04 Juni 2012
Keluarga Korban Bersiap Gugat Afriyani
Gugatan akan dilayangkan sebelum putusan pidana dijatuhkan majelis hakim.
cr-13
Dibaca: 1569 Tanggapan: 0
Keluarga Korban Bersiap Gugat Afriyani
Afriyani pengemudi xenia maut akan digugat keluarga korban. Foto: Sgp

 

Setiap persidangan kasus insiden tabrakan maut dengan terdakwa Afriyani Susanti digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, terdapat beberapa orang yang rutin hadir. Mereka adalah keluarga korban tabrakan. Menariknya, mereka hadir di persidangan selalu didampingi oleh tim pengacara.

Kepada hukumonline, Rabu lalu (30/5) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumari, kakak kandung (alm) Muhammad Akbar, menceritakan awal perkenalan para keluarga korban dengan tim pengacara yang sekarang mendampingi mereka. Dia katakan, malam hari tepat di hari tabrakan itu terjadi, beberapa pengacara mendatangi keluarga korban. Para pengacara itu menggagas ide agar para keluarga korban menggugat Afriyani.

“Inisiatif (menggugat, red) tersebut datang dari pak pengacara. Pak William, Pak Ronny, dan Pak Bernard pada malam hari jam 11 tanggal 22 Januari setelah kejadian dan mereka mengetahui kasus ini dari media,” ungkap Jumari.

Ketika datang, ditambahkan Jumari, William dkk juga menyatakan siap mendampingi keluarga korban untuk mengawal proses persidangan. Kedatangan William dkk disambut positif keluarga korban.

Jumari sendiri mengapresiasi bantuan William dkk. Apalagi, bantuan yang diberikan tidak sekadar bantuan hukum. Jumari mengaku mendapat bantuan dana untuk membayar tunggakan biaya sekolah (alm) Muhammad Akbar sebesar Rp1.225.000.

“Saya mencoba men­-share permasalahan ini ke Pak Ronny. Eh, ternyata ditanggapi. Bahkan, mereka minta tolong untuk ditemui kepada keluarga-keluarga korban yang ingin dibantu. Kalau untuk keperluan sekolah, pendidikan, mereka akan bantu,” tutur Sudyanto, ayah dari Jumari dan (alm) Muhammad Akbar.

Ditemui di tempat dan waktu yang sama, salah seorang anggota tim pengacara, Mahatma Bona mengatakan pihaknya membantu keluarga korban semata sebagai bentuk kepedulian. Keluarga korban, lanjut Bona, perlu didampingi mengingat mereka dari kalangan yang tidak paham hukum. Makanya, tim pengacara mendampingi keluarga korban memantau persidangan agar berjalan sesuai koridor hukum semestinya.

“Jika kita tidak terlibat langsung, kita tidak punya akses langsung untuk meluruskan jika terdapat hal-hal yang salah. Seperti yang kita tahu, mereka (korban, red) tidak paham hukum. Dan ini adalah salah satu bentuk kepedulian kita terhadap masyarakat. Klise ya,” ujarnya sambil tertawa.

Soal gugatan, Bona mengatakan pihaknya langsung melakukan kajian hukum begitu pihak keluarga korban menyetujui langkah hukum ini. Dari kajian itu, disepakati bahwa gugatan terhadap Afriyani akan menggunakan dasar hukum Pasal 1370 KUHPerdata yang mengatur tentang hak menuntut ganti rugi terkait pembunuhan.
 

Pasal 1370
Dalam hal pembunuhandengan sengaja atau kurang hati-hati seseorang, maka suami dan istri yang ditinggalkan, anak atau orang tua yang biasanya mendapat nafkah dari pekerjaan korban, mempunyai hak untuk menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai menurut kedudukannya dan kekayaan kedua belah pihak serta menurut keadaan.


“Dalam undang-undang diperbolehkan untuk diminta ganti rugi terhadap kematian yang disengaja atau kurang hati-hatinya seseorang,” tukasnya.

Sejauh ini, kata Bona, tim pengacara masih mengkaji unsur-unsur dari Pasal 1370, khususnya terkait unsur “kesengajaan” atau “kurang hati-hati”. “Ini belum final apa yang akan dipilih. Akan tetapi, untuk mudahnya adalah unsur kurang hati-hati. Tetapi sekali lagi, kita masih dalam pendalaman materi,” dia menambahkan.

Selain melakukan kajian unsur pasal, tim pengacara juga mengkaji kedudukan hukum (legal standing) dan penghitungan ganti rugi. Untuk ganti rugi, tim pengacara melibatkan seorang akuntan.

“Contohnya saja korban alm Firmansyah, siapa yang berhak menjadi wali, istrinya atau orang tuanya. Selain itu, bagaimana dengan kedudukan seorang abang. Nah, kita sekarang sedang menggali hal-hal itu karena kalau legal standing-nya kacau, bisa kacau juga,” jelasnya.

Ditambahkan Bona, gugatan ini rencananya dilayangkan sebelum proses hukum pidana terhadap Afriyani rampung. Tim pengacara, kata Bona, membutuhkan keterangan saksi-saksi untuk memperkuat dalil gugatan. “Gugatan akan diajukan dalam waktu dekat. Yang pasti tahun ini sebelum putusan hakim. Akan tetapi, terbuka kemungkinan akan menggugat setelah pemeriksaan saksi,” tandasnya.

Uniknya, Bona menuturkan kisah yang berbeda tentang awal pertemuan tim pengacara dengan keluarga korban. Menurut dia, tim pengacara bertemu sekira 2-3 hari setelah insiden tabrakan terjadi. Bantuan ini juga sifatnya pro bono alias gratis.

Terlepas dari itu, Bona menegaskan keputusan tim pengacara mendampingi keluarga korban karena kasus ini dinilai menarik. “Kasus ini cukup menarik karena pada saat itu ada wacana akan menerapkan Pasal 338 KUHP,” tuturnya.

Dimintai komentarnya, Senin (4/6), pengacara Afriyani, Achmad Suyudi mengaku sudah jauh-jauh hari mengetahui informasi rencana gugatan pihak keluarga korban. Suyudi berpendapat gugatan seharusnya diajukan setelah vonis pidana dibacakan majelis hakim. Jika sebelum vonis, maka gugatan itu menjadi sumir.

“Kita kan belum tahu apakah Afriyani itu kesengajaan atau kelalaian, ini kan belum jelas. Selanjutnya, vonis juga belum dijatuhkan. Jadi, terlalu sumir,” ungkap Suyudi.

Selain itu, kata Suyudi, sebagaimana terungkap di persidangan, para keluarga korban juga sudah menerima uang santunan. Menurut dia, uang santunan itu adalah bentuk empati dari pelaku kepada keluarga korban.

“Mereka (keluarga korban) juga mengaku ikhlas dan ridho, artinya permasalahan ini sudah selesai, diluar proses persidangan pidana yang sedang berjalan ini. Paling tidak mereka sudah merelakan. Jadi, sudah seharusnya perdata tidak dilakukan lagi,” ujarnya.

Ditambahkan Suyudi, gugatan tidak seharusnya diajukan karena insiden tabrakan ini adalah murni kecelakaan. “Sekarang saya jadi balik bertanya, apakah gugatan perdata ini murni dari pihak keluarga korban atau justru dari pihak penasihat hukumnya,” tukasnya.

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.