hukumonline
Rabu, 27 Maret 2013
Penembakan Dilakukan di Depan Para Napi
Diperlukan tim independen untuk mengusut kasus penembakan di Lapas II B Cebongan, Sleman.
ANT
Dibaca: 1454 Tanggapan: 1

Polri menyatakan penembakan terhadap empat tersangka kasus pembunuhan anggota TNI AD dari Kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kandang Menjangan, Kartasura, Sersan Satu Heru Santoso (31) dilakukan di depan narapidana lainnya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) II B Cebongan, Sleman.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Yogyakarta, Ajun Komisaris Besar Anny Pudjiastuti seusai Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Humas di hotel Maharadja Jakarta, Rabu membenarkan penembakan tersebut dilakukan dihadapan 35 tahanan lain.

"Saat ini kondisi tahanan dan petugas Lapas masih dalam keadaan shock," kata Anny.

Saat ini, Polda Yogyakarta sedang melakukan pertemuan dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terkait proses penembakan tersebut.

"Pemeriksaan sedang berjalan untuk dilakukan pendalaman terhadap 45 saksi, yang diperiksa 13 dari petugas Lapas dan sisanya dari napi," kata Anny.

Terkait pemindahan empat tersangka yang tewas ditembak, Anny mengatakan sebenarnya Polda Yogyakarta menitipkan 11 orang bukan hanya empat orang yang tewas ditembak saat itu.

"Karena kondisi sel kita, rusak dan direnovasi serta plafonnya bolong untuk keamanan, sehingga kita kirim ke Lapas, ini murni ketidaksengajaan," kata Anny.

Menurut keterangan para saksi para pelaku yang berjumlah 17 orang sebelumnya menanyakan para napi yang sebanyak 35 mana yang bernama Deki yang jadi tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, katanya.

"Menurut keterangan para saksi, mereka disuruh kumpul oleh penyerang tersebut dan menanyakan dimana Deki. Selanjutnya, ada yang menjawab bahwa Deki tidak ada, kemudian diantara pelaku mengatakan kalau tidak beritahu semua akan ditembak," kata Anny.

Pada Sabtu, 23 Maret terjadi insiden penembakan di Lapas Cebongan terhadap empat tersangka kasus pembunuhan anggota TNI AD dari Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sersan Satu Heru Santoso (31) di Hugo's Cafe Maguwoharjo.

Mereka yang tewas akibat insiden itu adalah Angel Sahetapi alias Deki (31), Adrianus Candra Galaga alias Dedi (33), Gameliel Yermiayanto Rohi alias Adi (29) dan Yohanes Yuan (38).

Sementara itu, sosiolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Soeprapto berpendapat, tim independen perlu dilibatkan dalam penuntasan kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan.

"Hal itu perlu dilakukan agar kasus tersebut dapat diusut secara tuntas. Jika tidak, dikhawatirkan kasus tersebut akan berlarut-larut dengan tidak ditemukannya pelaku utama," katanya.

Jadi, menurut dia, harus ada tim independen seperti Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) dan perguruan tinggi. Dalam hal ini masyarakat jangan memasang target kasus tersebut segera tuntas.

"Saya khawatir jika ada skenario demi menjaga kewibawaan kepolisian sehingga ada tersangka palsu yang dijadikan kambing hitam," katanya.

Ia mengatakan, untuk menuntaskan kasus penyerangan tersebut kepolisian dan tim independen tidak hanya fokus pada peristiwa penyerangan LP tetapi juga menelisik lebih jauh peristiwa yang mendahului sebelumnya.

"Penyerangan terjadi karena ada pembunuhan, kita perlu mengetahui dan mempelajari mengapa terjadi, ada apa di sana, siapa yang berseteru, siapa yang berkonflik. Hal itu yang perlu digali," katanya.

Menurut dia, meskipun berbagai kalangan menduga penyerangan tersebut sebagai bentuk aksi balas dendam dari kelompok tertentu, konflik tersebut diduga bukan sekadar aksi balas dendam.

Konflik itu lahir dari konflik antarkelompok yang telah menyalahgunakan "wewenang" dari identitas yang mereka miliki untuk kepentingan mereka.

"Seseorang memiliki multikeanggotaan tetapi kemudian menyalahi wewenang itu untuk digunakan melakukan kooptasi yang menjurus pada eksploitasi yang tidak positif," katanya.

Ia mengatakan, aksi penyerangan di LP Cebongan itu dilakukan oleh tim profesional. Aksi tersebut ibarat sebuah film durasi pendek 15 menit yang digarap oleh sutradara dengan skenario yang cukup baik.

"Saya menilai aksi penyerangan tersebut menelan dana yang tidak sedikit. Kelompok yang ditugasi itu tentu dibiayai," katanya.

Share:
tanggapan
rencana tingkat tinggiarief budi utaomo 28.03.13 16:19
kepolisian memindahkan tahanan dalam waktu 3 hari setelah penangkapan adalah HAL LUAR BIASA meskipun dibenarkan, fakta kepolisian tidak pernah memindahkan tahanan ke lapas selama dalam proses pemeriksaan di kepolisian, Naaaaaaah timbul pertanyaan. apakah ada konspirasi antara oknum polisi dengan oknum penyerang ?

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.