hukumonline
Selasa, 23 April 2013
Perpecahan Merusak Profesionalitas Advokat
RUU Advokat sangat diharapkan menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi di kalangan advokat.
RFQ
Dibaca: 1533 Tanggapan: 3
Perpecahan Merusak Profesionalitas Advokat
Sejumlah advokat senior menggelar jumpa pers terkait perpecahan organisasi advokat. Foto: RFQ

Meski sempat berdamai yang difasilitasi oleh Mahkamah Agung, perpecahan di kalangan advokat belum kunjung berakhir. Hal ini menjadi keprihatinan sejumlah advokat yang mengklaim sebagai “Pelaku Sejarah Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN)”.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (23/4), mereka menyatakan perpecahan yang terjadi telah merusak profesionalitas dan integritas advokat. Maruli Simorangkir, salah satu advokat senior yang hadir, mengatakan kemelut yang terjadi dalam tubuh organisasi advokat berujung pada maraknya mafia peradilan.

Tidak hanya itu, kata Maruli, perpecahan juga telah menyebabkan kualitas pelayanan jasa hukum merosot. Kondisi ini pada akhirnya merugikan para pencari keadilan serta merusak iklim penegakan hukum.

Dalam forum yang sama, Todung Mulya Lubis mengatakan antar organisasi advokat seharusnya tercipta iklim persaingan yang sehat dan damai. Persaingan yang tidak sehat, menurut dia, hanya akan menimbulkan mafia peradilan. Oleh karenanya, Todung berharap banyak pada RUU Advokat yang tengah dibahas DPR.

Dikatakan Todung, kemelut di tubuh organisasi advokat telah menimbulkan sejumlah dampak negatif. Salah satunya adalah banyak advokat muda yang tidak dapat beracara di pengadilan. Dampak lainnya adalah terhambatnya pelaksanaan bantuan hukum secara cuma-cuma alias pro bono. Terkait hal ini, Todung mempersoalkan konsep wadah tunggal atau single bar yang berlaku di Indonesia.

“Dan (single bar) itu tidak boleh dilanjutkan, karena tidak boleh korban berjatuhan. IKADIN mendukung RUU Advokat yang memungkinkan lahirnya organisasi dan bisa berkompetisi. Jadi kemajemukan organisasi advokat dalam organisasi advokat menjadi prinsip yang niscaya buat Indonesia yang majemuk seperti saat ini,” paparnya.

Dewan Kehormatan
Secara tegas, Todung menyatakan menentang konsep wadah tunggal dipertahankan. Sebaliknya, dia mendukung konsep kemajemukan organisasi. Konsep ini, kata Todung, perlu dilengkapi dengan standarisasi pendidikan, ujian dan kode etik yang diatur secara bersama-sama.

“Kalau suatu ketika itu nanti akan bersatu kembali, kita tidak menutup peluang itu. Tapi sekarang ini kita melihat multibar adalah jalan keluar yang paling adil dan paling sehat buat organisasi,” ujar Todung.

Meski mendorong konsep multibar, Todung berpendapat tetap harus ada satu Dewan Kehormatan yang memiliki wewenang menetapkan standarisasi ujian dan pendidikan serta penegakan kode etik. Dewan Kehormatan ini dianalogikan seperti Dewan Pers.

“Tapi terpulang dari DPR, apakah akan mengadopsi dewan kehormatan advokat seperti dewan pers atau federasi. Nah, ini kita belum tahu,” imbuhnya.

Dewan Kehormatan yang dimaksud Todung selintas mirip dengan ide Dewan Advokat yang pernah dilontarkan Adnan Buyung Nasution. Dalam rapat pembahasan RUU Advokat di DPR, beberapa waktu lalu, Buyung menyarankan pembentukan Dewan Advokat yang bertugas mengawasi organisasi advokat.

Komposisi dewan advokat bisa diisi oleh advokat senior atau mantan hakim senior. Dikatakan Buyung, jika terjadi konflik maka Dewan Advokat dapat menunjuk Majelis Kehormatan Advokat yang akan mengadili advokat yang diduga melanggar kode etik. “Kalau konflik, bukan Dewan ini yang mengadili, tapi menetapkan ad hoc kehormatan advokat untuk mengadili,” katanya.

Share:
tanggapan
DPR harus taat azaz hukum sutarjo 24.04.13 19:17
Perpecahaan organisasi advokat sudah di usahakan melalui peradilan. Ada yang melalui PN, MK dan PTUN. Dan semua institusi peradilan sudah memutuskan PERADI adalah organisasi yang sah dan wadah tunggal Advokat berdasarkan UU Advokat. Jika DPR membuat UU baru dan melawan kenyataan hukum, maka menunjukkan DPR tidak memiliki politik hukum Advokat yang jelas. DPR memang pelaku politik, akan tetapi belum tentu tahu arti politik hukum. Bung Adnan dan TML yang sudah doktor harusnya mengajari bangsa ini cara berpikir yang benar menurut hukum sesuai keilmuan yang ditekuni. Memang anda akan diuji oleh alam, anda tetap berpegang pada idealisnme keilmuan atau terpengaruh kepentingan sesaat. Terserah anda yang jelas semakin keras suara anda maka semakin keras penolakan ide anda. Kecuali anda telah membuktikan di depan hukum dan peradilan bahwa adanya PERADI memang merugikan para advokat. ...PERADI maju terus..tapi tolong Kartu Anggotaku segera jadi ya...tks
perpecahansiapa aja 24.04.13 15:29
Bang Buyung dan TML adalah orang yang paling tidak pantas berbicara perpecahan, karena perpecahan ini terjadi atas inisiatif seorang Adnan Buyung Nasution yang tidak legowo diatur oleh PERADI. Dorongan TML untuk multibar juga tidak lepas dari vested interest, karena tanpa apabila wadah tunggal PERADI dipertahankan, maka secara de facto dan de jure TML berhenti praktek dan tidak bisa mencari uang. Anda berdua adalah contoh buruk bagi calon advokat dan advokat muda tanah air. Anda berdua telah memecah belah organisasi advokat dan merusak profesionalitas advokat hanya untuk kepentingan pribadi, shame on you Bang Buyung dan Bang Mulya.
Bang Buyung dan Peradiagustinus dawarja 24.04.13 13:15
Sejak tahun 1994 saya berprofesi sebagai Advokat, Bang TML, Bang Buyung dan Pak Frans Hendra sangat tegas memperjuangkan soal kuat dan mandirinya profesi Advokat. Sejak lahirnya UU Advokat dan PEradi sebagai intitusi Mandiri, saya haruskan katakan Sistem pendidikan, ujian, kode etik, kartu anggota advokat bebas dari Korupsi. Bangingkan dahulu ketika ujian SKPT dst. Saya tidak melihat argumentasi yang kuat baik dari Bang TML maupun Bang Buyung ttg perlunya RUU Advokat selain bahwa ada sekelompok orang yang kecewa dengan hasil ujian Peradi yang sangat ketat dan tegasnya penegakan kode Etik advokat Peradi. Untuk Bang TML, menurut saya dia bisa ikut ujian Peradi lagi saja supaya bisa berprofesi Advokat lagi. Untuk Bang Buyung cobalah Bang main ke kantor Peradi sekarang di Slipi dan bandingkan organisasi advokat sebelum Peradi. Abang akan merasakan perbedaannya. Bang Buyung tetaplah menjadi Advokat yang bisa menjadi model bagi kaum muda dan jangan mau dipermainkan oleh sekolompok orang demi kepentingan mereka. Peradi itu udah bagus dan tinggal dibenahi agar lebih bagus lagi. Masa ribut terus?

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.