hukumonline
Senin, 13 Mei 2013
Suara Knalpot Ganggu Tetangga Masuk RUU KUHP
Menjadi bagian dari tindak pidana gangguan terhadap ketertiban dan ketenteraman umum.
MYS
Dibaca: 4189 Tanggapan: 1

Kalau tak ingin dilaporkan tetangga ke polisi gara-gara bikin hingar bingar atau berisik, jangan membunyikan knalpot motor atau mobil dengan suara kencang di malam hari. Jika RUU KUHP kelak disahkan menjadi Undang-Undang, membunyikan knalpot kencang-kencang yang menimbulkan suara berisik dan hingar bingar kemungkinan bisa dijerat pidana.

Pasal 299 ayat (4) RUU KUHP memuat ancaman pidana terhadap ‘setiap orang yang membuat hingar bingar atau berisik tetangga sehingga ketenteraman malam hari terganggu’. Ancaman pidananya memang hanya berupa pidana denda, tetapi sangat mungkin dijadikan sebagai payung hukum untuk mempersoalkan tetangga yang gemar membunyikan knalpot motor kencang-kencang di malam hari.

Rumusan ini termasuk tindak pidana gangguan terhadap ketertiban dan ketenteraman umum. Uniknya, ancaman pidana karena membuat hingar bingar atau berisik tetangga masuk paragraf tentang memasuki rumah dan pekarangan orang lain. Pasal 299 ayat (1) sampai ayat (3) mengatur ancaman pidana bagi setiap orang yang masuk dengan memaksa ke dalam rumah, ruangan, atau pekarangan tertutup yang dipergunakan oleh orang lain atau yang sudah berada di dalamnya, tidak segera pergi walaupun sudah diminta orang yang berhak atau orang suruhannya.

Dianggap masuk dengan memaksa setiap orang yang masuk dengan jalan merusak atau memanjat, menggunakan anak kunci palsu, atau pakaian dinas palsu, atau tanpa sepengetahuan pihak yang berhak, dan bukan karena kekhilafan masuk ke tempat tersebut. Ancaman pidananya diperberat jika pelaku mengeluarkan ancaman atau menggunakan sarana yang dapat menakutkan. Rumusan Pasal 299 ayat (1) sampai (3) RUU hampri sama dengan Pasal 168 KUHP.

Pasal 299 ayat (4) RUU KUHP tampaknya merupakan perumusan ulang dari Pasal 503 KUHP, yang masuk kategori pelanggaran. Pasal 503 angka 1-e mengancam pidana kurungan dan denda ‘barangsiapa membuat riuh atau ingar, sehingga pada malam hari waktunya orang tidur dapat terganggu’.

Menurut R. Soesilo (1994), agar seseorang dapat dihukum menurut pasal 502 KUHP, perbuatan itu harus dilakukan di malam hari, waktunya orang tidur. Pertanyaannya, kapan waktunya orang tidur? Itu tergantung pada kebiasaan di tempat tersebut. Pada umumnya, papar Susilo, sesudah pukul sebelas malam.

Pada bagian penjelasan RUU KUHP, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai Pasal 299 ayat (4). Padahal, masih dibutuhkan penjelasan tentang batas ‘hingar bingar atau berisik’. Misalnya, apakah termasuk suara musik keras-keras dari rumah tetangga, atau musik dari pesta. Mengomentari Pasal 503, R. Soesilo menyatakan ingar atau riuh (burengerucht) adalah suara riuh yang tidak enak didengar dan menganggu, seolah-olah dilakukan secara main-main atau karena kenakalan.

Share:
tanggapan
Suara Knalpot Ganggu Tetangga Masuk RUU KUHPSetiawan Agung Wibowo 10.07.13 01:59
Yth. Hukum Online, Apakah ganggungan ingar bingar itu termasuk gangguan yang ditimbulkan oleh loud speaker mushola yang digunakan pada bulan Ramadhan? Dalam hal ini mushola depan rumah saya menggunakan loudspeaker secara berlebihan dalam membangunkan orang sahur. Mereka berteriak-teriak sejak jam 02.00 sampai jam 3.00 nonstop. Itu sangat mengganggu istirahat saya. Saya juga berpuasa, tetapi suara loud speaker yang terus menerus sangat mengganggu. Ini sudah terjadi terus menerus setipa bulan puasa. Saya ada pikiran untuk menuntut ke Pengadilan. Saya sudah pernah menyampaikan langsung kepada pengurus mushola dan ketua RW, tetapi tidak dihiraukan.

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.