hukumonline
Senin, 26 Agustus 2013
Bus Pariwisata Kota Bandung Dimohon Pailit
Perusahaan pembiayaan mendanai tujuh mobil, tetapi tak kunjung dapat pembayaran.
HRS
Dibaca: 2119 Tanggapan: 0

Salah satu bus pariwisata di Kota Bandung kini menghadapi ancaman pailit. PO Gunung Sembung, perusahan bus pariwisata dimaksud,dimohonkan pailit oleh PT Asia Multi Dana Finance (AMDF) ke Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat.

AMDF memutuskan mengambil langkah pailit lantaran Gunung Sembung diduga tidak membayar utang-utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Utang tersebut timbul dari pembiayaan mobil, terdiri dari Mercedes Benz, Hino RG, dan Mitsubishi RM.

Untuk mobil model Mercedes Benz OH 1997, Gunung Sembung harus membayar sejumlah Rp493 juta secara angsuran per bulan selama 36 bulan. Angsuran per bulan adalah Rp13,69 juta yang harus dibayar  pada 13 April 2011 dan jatuh tempo bulan terakhir adalah 13 April 2014.

Untuk mobil model Hino RG, Gunung Sembung harus mengeluarkan uang sebesar Rp442 juta. Pembayaran juga dilakukan secara mengangsur sebanyak Rp12,278 juta per bulannya selama 36 bulan. Angsuran pertama jatuh tempo pada 9 Mei 2011 dan terakhir pada 9 April 2014.

Dua mobil lainnya, model Mitsubishi dan Mercedes Benz dijual dengan harga masing-masing Rp528,26 juta. Jatuh tempo awalnya secara berurutan pada 14 September 2011 dan 8 Agustus 2011. Sedangkan jatuh tempo akhir pembayaran berturut-turut adalah 10 Mei 2014 dan 8 Juli 2014.

Tidak hanya Gunung Sembung, AMDF juga mengikutsertakan penanggungjawab Gunung Sembung, Dadang Rustam sebagai termohon pailit II. Sebab, selain penanggung jawab, Dadang Rustam juga berutang kepada AMDF untuk pembelian mobil model Mercedes Benz seharga Rp528 juta dan model Mitsubshi RM  seharga Rp240 juta.

Pembayarannya juga dilakukan secara berangsur selama 36 bulan dengan jatuh tempo angsuran pertama pada 15 Agustu 2011 dan terakhir pada 15 Juli 2014 untuk Mercedes Benz. Sedangkan Mitsubshi, angsuran pertama jatuh tempo pada 14 September 2011 dan terakhir pada 14 Agustus 2013. Dadang juga berutang sebesar Rp550,9 juta untuk pembelian mobil Hino RK yang jatuh tempo pada 20 Agustus 2014.

Lantaran perusahaan bus tidak membayar angsuran, AMDF mengaku mengalami kerugian senilai Rp3,057 miliar. Padahal, AMDF sudah mengingatkan pengelola Gunung Sembung untuk melunasi utang-utangnya paling lambat 1 Januari 2013.

“Permohonan ini telah memenuhi syarat pailit Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,” tulis kuasa hukum AMDF, Muhammad Suhud dalam permohonannya.

Guna memenuhi syarat satu kreditor lain, AMDF menarik PT Maxima Finance. Kepada Maxima, para termohon pailit memiliki utang sejumlah Rp225 miliar. Lantaran syarat-syarat kepailitan telah terpenuhi, AMDF meminta majelis mengabulkan permohoan pailit ini dan mengangkat Rio Todotua Simanjutak sebagai kurator.

Kuasa hukum Gunung Sembung, Ace Handiman masih belum mau berkomentar banyak. “Kita lihat saja dulu pembuktiannya,” tuturnya usai persidangan, Kamis (22/8).

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.