Jumat, 27 September 2013
Hakim Tolak Rekaman Ayu Azhari Diputar
Ayu Azhari dan Fathanah membantah ada hubungan asmara.
NOV
Dibaca: 1332 Tanggapan: 0
Hakim Tolak Rekaman Ayu Azhari Diputar
Ayu Azhari (berkerudung) di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: NOV

Selain Vitalia Syesya dan Tri Kurnia Rahayu, Ayu Azhari juga pernah menerima pemberian uang sebanyak empat kali dari Ahmad Fathanah. Artis bernama asli Khadijah Azhari ini dihadirkan penuntut umum sebagai saksi dalam sidang perkara pencucian uang Fathanah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (26/9).

Dalam persidangan Ayu membantah memiliki hubungan asmara dengan Fathanah sebagaimana tuduhan penuntut umum. Ayu menegaskan bahwa hubungannya dengan Fathanahhanya sebatas hubungan profesional. Menurut Ayu, nada suara yang mendayu-dayu dalam percakapan telepon jangan serta merta diartikan ada hubungan khusus.

"Itu penilaian, seperti halnya mata saya sayu, saya tidak tahu kalau mata saya sayu. Lalu, kalau saya suaranya mendesah, mungkin karena pelan atau mungkin karena memang sedang berusaha mem-follow up pekerjaanatau karena saya perempuan. Kadang-kadang panggilan sayang atau abang, itu sudah terbiasa," terangnya.

Mendengar jawaban Ayu, Guntur meminta meminta izin majelis untuk memutarkan rekaman pembicaraan Ayu dan Fathanah. Namun, Ketua majelis hakim Nawawi Pomolango menolak permintaan Guntur. Menurutnya, pemutaran rekaman pembicaraan hasil sadapan harus disikapi dengan hati-hati.

Nawawi berpendapat, forum sidang ini tidak bertujuan untuk mengintip privacy orang. Sesuai mekanisme pembuktian dalam Pasal UU No.8 Tahun 2010, hakim justru memerintahkan terdakwa untuk membukt bahwa segala harta kekayaan yang disebutkan dalam dakwaan bukan berasal dari tindak pindana.

"Tapi, kami tidak bermaksud memutarkan masalah pribadi atau di luar konteks. Rekaman ini berhubung dengan masalah benar atau tidaknya uang terkait dengan pekerjaan saksi. Makanya kami cuma bertanya apakah pemberian uang-uang itu terkait job atau di luar itu," kata penuntut umum lainnya, Muhibbudin.

Nawawi tetap menyatakan penuntut umum tidak perlu memutar rekaman pembicaraan. Ia merasa penuntut umum cukup memaparkan adanya uang yang diberikan terdakwa kepada saksi. Kemudian, terdakwa lah yang wajib membuktikan harta tersebut halal dan tidak haram sebagaimana dugaan penuntut umum.

Meskipun membantah memiliki hubungan khusus dengan Fathanah, tetapi Ayumengaku kenal dengan sahabat eks Presiden PKS itu. Ayu bahkan menceritakan secara detail awal pertemuan dirinya dengan Fathanah, serta pemberian-pemberian uang yang dia terima.

Dituturkan Ayu, pertemuan dengan Fathanah berawal di Plaza Indonesia sekitar November-Desember 2012. Ayu diperkenalkan kepada Fathanah oleh seorang teman bernama Marcel. Ketika itu, Fathanah memperkenalkan diri sebagai ustad yang pernah bekerja sebagai pembimbing haji dan umroh di Saudi Arabia.

Fathanah juga mengaku sebagai pengusaha yang biasa mensponsori dan membuat acara hiburan untuk Pilkada. Pertemuan kemudian berlanjut di tempat lain. Ayu diminta Fathanah berpartisipasi dalam acara Pilkada PKS di Sulawesi, Medan, dan Malang. "Saya diminta tampil nyanyi. Saya juga menawarkan sosialisasi Pilkada," katanya.

Setelah pembicaraan tersebut, Ayu dan Fathanah kembali bertemu di restoran makanan Arab. Ayu menerima tawaran Fathanah, bahkan menawarkan anaknya untuk ikut serta menyanyi di acara sosialisasi Pilkada. Fathanah lalu menanyakan berapa tarif yang harus dibayarkan untuk setiap kali penampilan Ayu.

Ayu menjawab, tarif setiap kali tampil bersama anaknya Rp75 juta. Sebagai uang muka, Fathanah memberikan uang tunai AS$800 kepada Ayu. "Biasanya kalau sudah deal kasih DP (down payment) 50 persen. Dia kasih ke saya AS$800 dan bilang 'Ini sekedar DP lah yu, pegang aja dulu. Nanti dihitung," ujarnya.

Beberapa hari kemudian, Ayu dan Fathanah bertemu di Ratu Plaza. Pertemuan dilanjutkan di Pacific Place dan Plaza Indonesia. Dalam pertemuan itu, Fathanah memberikan uang tunai AS$1000 kepada Ayu. Padahal, Ayu meminta Fathanah melunasi DP sebesar 50 persen sesuai kesepakatan awal.

Namun, mengingat acara sosialisasi Pilkada itu belum jelas waktu dan tempatnya, Ayu menerima pemberian Fathanah sebagai gentelman agreement. Komunikasi keduanya semakin seringdan Fathanah meminta bertemu Ayu di Plaza Senayan. Di situ, Fathanah memperkenalkan Ayu kepada istrinya, Sefti Sanustika.

"Pertemuan ketiga ini cuma mem-follow up terkait pekerjaan. Dia menjanjikan saya akan tampil di sembilan atau sepuluh titik. Satu titiknya saya akan dibayar Rp75 juta karena paket dengan anak saya. Kalau saya sendiri Rp50 juta. Setelah itu, ada lagi pertemuan, kalau tidak salah di dekat Le Meridien," tuturnya.

Fathanah mengundang Ayu untuk makan bersama di dekat Hotel Le Meridien. Dalam kesempatan itu, Fathanah kembali memberikan uang Rp10 juta. Tak berapa lama Fathanah mentransfer lagi Rp10 juta ke rekening anak Ayu, Axel Djody Gondokusumo. Pertemuan itu terakhir kalinya bagi Ayu dan Fathanah.

Ayu menyatakan tidak pernah bertemu lagi dengan Fathanah. Meski demikian, Ayu dan Fathanah tetap menjalin komunikasi melalui telepon. Namun, Ayu membatah hubungan mereka berlanjut pada hubungan asmara. Hubungan komunikasi Ayu dan Fathanah lebih kepada urusan pekerjaan.

Terkait dengan semua uang pemberian Fathanah, Ayu telah mengembalikannya ke KPK. Ayu menjelaskan dirinya tidak mau ambil risiko terhadap uang itu. Setelah penyidik memberitahukan uang pemberian Fathanah diduga terkait dengan tindak pidana pencucian uang, Ayu langsung berinisiatif mengembalikan ke KPK.

Dimintai tanggapannya atas keterangan Ayu, Fathanahjuga menampik adanya hubungan asmara. "Saya rasa tidak ada. Kami hanya hubungan profesional saja, karena waktu itu saya melihat ada potensi untuk memasukan beliau sebagai tim sosialisasi, termasuk Pilkada-pilkada di Makassar," ujarnya.

Terkait dengan pemberian uang, Fathanah menjelaskan hanya bermaksud untuk "mengijon" agar Ayu dapat diminta tampil jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam Pilkada. "Artinya sebagai ijon, supaya ada hubungan silaturahmi, sehingga saya tidak perlu mengikat secara notarial, tapi gentleman agreement saja," imbuhnya.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.