Selasa, 01 Oktober 2013
Pemerintah Optimis Target Inflasi Akhir Tahun Tercapai
Target akhir tahun dibuat setelah pemerintah memperhitungkan paket kebijakan yang pernah dikeluarkan.
FAT
Dibaca: 1254 Tanggapan: 0

Pemerintah optimis bahwa target inflasi akhir tahun sebesar 9,2 persen bisa tercapai. Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, keyakinan ini terjadi lantaran pada September 2013 telah terjadi deflasi sebesar 0,35 persen. “Jadi mudah-mudahan kita bisa. Setelah ini back to normal,” katanya di Komplek Parlemen di Jakarta, Selasa (1/10).

Ia menjelaskan, target akhir tahun dibuat setelah pemerintah memperhitungkan paket kebijakan yang pernah dikeluarkan. Bahkan, kata Chatib, dirinya berkali-kali sering menyebut bahwa Indonesia akan mengalami deflasi beberapa waktu setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak/BBM) bersubsidi diputuskan.

“Saya bilang BBM pasti tiga bulan kemudian balik ke normal. Tiap hari saya omongin itu. kemudian saya bilang ada kemungkinan bisa deflasi, karena selalu berkali-kali trendnya begitu,” kata Chatib.

Meski begitu, ia tak bisa memberi kepastian jika pada akhir tahun nanti inflasi bisa di bawah angka 9,2 persen. Ketidakyakinan ini terjadi lantaran pada bulan Juli 2013, kenaikan inflasi terlalu tinggi, yakni mencapai 3,3 persen. “Agak susah (di bawah 9,2 persen, red), karena waktu Juli-nya itu overshoot 3,3 persen. Tetapi masih dalan range itulah (9,2 persen),” katanya.

Terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada bulan September 2013 terjadi deflasi sebesar 0,35 persen. Kepala BPS Suryamin mengatakan, salah satu penyebab terjadinya deflasi lantaran semakin berkurangnya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi. “Dampaknya mulai turun sehingga memberikan dampak deflasi,” katanya.

Menurutnya, dengan tercatat deflasi pada September 2013, maka inflasi tahun kalender tercatat 7,57 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 8,4 persen. Sedangkan inflasi komponen inti pada September 2013 sebesar 0,57 persen dan inflasi inti year on year September 4,72 persen.

Suryamin mengatakan, besaran inflasi inti yang masih di bawah inflasi umum, mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia masih baik. Menurutnya, dari pantauan yang dilakukan BPS telah terjadi deflasi di 53 kota dan inflasi di 13 kota. BPS melakukan pemantauan terhadap 66 kota di Indonesia.

Ia menjelaskan, untuk kota yang mengalami deflasi tertinggi terjadi di Sorong dengan angka 4,28 persen. Sedangkan kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pinang dengan angka 1,7 persen. Jika dilihat dari sisi komponennya, deflasi sebesar 0,35 persen di bulan September 2013 paling besar dari kelompok bahan makanan, yakni sebesar 2,88 persen.

Sedangkan sisanya disumbang dari kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yaitu sebesar 0,12 persen. Untuk penyumbang inflasi didominasi oleh sandang dengan angka sebesar 2,99 persen. Menurut Suryamin, tingginya inflasi sandang lantaran harga emas perhiasan nai yang dipengaruhi harga dari internasional. Ia berharap pemerintah dapat terus mempertahankan deflasi di masa yang akan datang.

Sebelumnya, pemerintah memperkirakan laju inflasi hingga akhir tahun 2013 bisa berada di bawah 9,2 persen. Angka ini dapat tercapai apabila pada bulan September dan Oktober 2013, terjadi deflasi. Sedangkan pada dua bulan terakhir, November dan Desember bisa terjadi tekanan secara musiman lagi.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.