Selasa, 01 Oktober 2013
Erga Omnes: Forum Diskusi Hukum Internasional di Dunia Maya
Pertemuan antara praktisi hukum internasional dan ‘orang-orang’ teori.
ALI
Dibaca: 19590 Tanggapan: 0
Erga Omnes: Forum Diskusi Hukum Internasional di Dunia Maya
Halaman grup Facebook Erga Omnes. Foto: www.facebook.com

Anda tertarik dan meminati isu-isu hukum internasional? Atau Anda ingin bertukar pikiran dengan orang-orang yang juga meminati isu ini? Jika jawabannya ya, forum diskusi di media sosial Facebook, bernama ‘Erga Omnes’ mungkin salah satu tempat yang pas buat anda.

Damos Dumoli Agusman, salah satu penggagas grup Erga Omnes ini, menjelaskan Erga Omnes adalah konsep yang terkenal dalam hukum internasional yang menerobos persetujuan negara. “Dia harus berlaku dengan atau tanpa persetujuan negara. Misalnya, hak asasi manusia,” ujarnya, di Bandung, Kamis (26/9).

Pria yang menjabat sebagai Konsul Jenderal RI di Frankfrut, Jerman, ini menuturkan forum diskusi online ini digagas untuk orang-orang yang ingin bertukar ilmu seputar hukum internasional. “Salah satu yang menginspirasi ide ini karena hukum internasional dipahami secara beragam-ragam di level domestik,” jelasnya.

Damos menggagas forum diskusi online ini sejak setahun lalu. “Yang menggagas ide ini adalah saya dan Pak Kadir (Abdul Kadir Jailani,-red), direktur perjanjian internasional di Kemlu. Dulu, saya menjabat di situ,” ungkapnya. 

Di tahap awal, dua pejabat di Kemlu ini mencoba mengumpulkan dan meng-invite orang-orang yang mempunyai minat terhadap hukum internasional via facebook dan mengajak mereka untuk berdiskusi terkait isu-isu aktual. Hingga saat ini, anggota grup Erga Omnes ini berjumlah 227 akun facebook (per 1 Oktober 2013).

Damos mengatakan kini semua anggota grup bisa mengundang teman-temannya yang berminat terhadap isu hukum internasional tersebut. Uniknya, meski penggagas tak mengarahkan siapa saja yang boleh diundang, para anggota sudah paham siapa saja teman-temannya yang berminat untuk bergabung dalam forum ini.

“Masing-masing bisa mengundang mereka yang tertarik dengan isu ini. Dari behavior teman-teman mengundang itu sangat selektif, tak sembarangan. Ternyata otomatis. Kita tak arahkan. Ada orang yang di-invite dan tak tertarik, lalu dia keluar. Alasannya bisa karena too technic, or too legal,” tuturnya.

Namun, lanjut Damos, itulah yang membuat forum ini benar-benar menyaring orang-orang yang paham terhadap hukum internasional. Ia menjelaskan secara garis besar ada dua jenis orang yang berdiskusi dalam diskusi, yakni para praktisi hukum internasional dari Kemlu dan dosen-dosen hukum internasional yang lebih mengedepankan teoritis.

“Kita saling kenal di situ. Kita nggak saling kenal di darat. Ada perpaduan praktis dan teori. Sangat kelihatan nuansa bedanya. Praktisi cenderung tak perdulikan teori, Sedangkan orang-orang teori kadang tak mau melihat realitasnya seperti apa. Tapi yang paling asyik, semuanya SH (Sarjana Hukum), jadi nggak merasa asing dengan apa yang didiskusikan,” tuturnya.

Meski begitu, Damos mengakui masih sedikit anggota grup yang mau terlibat diskusi mendalam dalam grup ini. “Dari evaluasi setahun, biasanya ada rasa sungkan orang beri komentar karena nuansa diskusinya terlalu intelektual,” tuturnya lagi.

Ia mengungkapkan ada dosen yang ingin berdiskusi, tapi takut dianggap belum menguasai. “Menurut saya, pola diskusi yang masih ada ketakutan itu yang perlu di-remove. Diskusi kita memang tak saling menyerang, tapi memang akan ketahuan kalau misalnya dia nggak ngerti apa-apa,” ujarnya.

“Meski begitu, ke depan, kami mau mendorong agar semua mau bicara. Saling berdiskusi dan tanya jawab,” tuturnya.

Itu salah satu alasan kenapa penggagas forum diskusi online ini menggunakan media Facebook. Ia menuturkan Facebook adalah social media yang paling gampang untuk connect. Masing-masing anggota bisa saling mengenal satu sama lain. “Itu lebih memudahkan orang untuk berdiskusi,” tambahnya.

Jadi, bagaimana? Tertarik untuk ikut berdiskusi?

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.