Rabu, 02 Oktober 2013
Korban Malpratik Waterbirth Akan Gugat Dokter
Berbekal keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
ASH
Dibaca: 7378 Tanggapan: 0

Korban malpraktik persalinan lewat media air (waterbirth),  Martini Nazif berencana menggugat dokter Tamtam Otamar Samsudin (TOM) sehubungan telah keluarnya keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang mengabulkan pengaduan Martini. Keputusan MKDKI itu akan dijadikan “modal” untuk menggugat dr. TOM baik secara pidana maupun perdata ke pengadilan.

“Setelah ada keputusan MKDKI ini kita telah mendapatkan penjelasan/gambaran secara medis atas kasus ini. Makanya, kita akan mempertimbangkan untuk mengajukan tuntutan pidana dan gugatan ke pengadilan,” kata kuasa hukum Martini Nazif, Taufik Basari dalam konperensi pers di Jakarta, Rabu (2/10)

Taufik menjelaskan dasar gugatan perdata pihaknya akan menggunakan Pasal 1365 KUHPer mengenai perbuatan melawan hukum yang ditujukan kepada pihak dr. TOM dan RS Asri Jakarta terkait pelayanan rumah sakit yang buruk. Sementara untuk tuntutan pidana, pihaknya menggunakan Pasal 359 KUHP mengenai kelalaian yang menyebabkan kematian. “Kita rundingkan dulu, tetapi yang jelas dua langkah hukum terbuka untuk dilakukan,” kata Taufik.   

Keputusan yang diputus pada 23 Juli 20013 yang diketuai Prof dr. Umar Fahmi itu telah menjatuhkan sanksi mencabut Surat Tanda Registrasi (STR) dr. Tamtam Otamar selama satu tahun. Selain itu, dr. TOM tidak diperbolehkan menolong persalinan waterbirth hingga metode waterbirth masuk kurikulum Pendidikan Kedokteran Indonesia dan diakui oleh Kolegium Obstetri Ginekologi. dr. TOM dinilai terbukti melanggar Perkonsil No. 4 Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi.

Taufik mengungkapkan Martini harus kehilangan anak pertamanya akibat tindakan malpraktik yang dilakukan dr. TOM dengan menggunakan metode waterbirth. Padahal, metode persalinan ini tidak lazim digunakan dalam praktik Kedokteran di Indonesia. Awalnya, saat dirawat di Rumah Sakit (RS) Sam Marie menjelang proses persalinan berjalan lancar.

“dr. TOM juga menyatakan kandungan dan janin Martini normal/sehat saat proses konsultasi,” kata pria yang akrab disapa Tobas ini.

Saat itu, Martini sempat menyatakan keinginannnya agar proses kelahiran anaknya dilakukan dengan cara sesar lantaran dirinya takut dengan darah. Namun, lantaran dr. TOM dikenal sebagai dokter yang memperkenalkan metode waterbirth, menyarankan agar proses persalinan lebih baik menggunakan metode waterbirth.

“Martini percaya saja dengan saran dokter itu, tetapi proses persalinan tidak bisa dilakukan karena dr. TOM sedang bermasalah dengan pihak RS Sam Marie. Akhirnya, proses persalinan dirujuk RS Asri Jakarta selama 4 hari,” tutur Tobas.

Selama menjalani perawatan empat hari itu, kata Tobas, Martini mengalami induksi dengan cytotec (untuk kontraksi) sebanyak 8 kali dan diberikan petidin. Tindakan itu dinilai berlebihan. Padahal, standarnya jika telah dilakukan induksi sebanyak 3 kali dan tidak berhasil (kontraksi), biasanya mengakhiri kehamilan dengan cara sesar. Pemberian petidin juga dapat berdampak hipoksia pada janin, sehingga bayi lahir dengan apgar score rendah. “Ini sudah diungkap pendapat ahli dalam sidang MKDKI.”  

Selain itu, saat hari persalinan dr. TOM datang terlambat dan menangani dua pasien waterbirth sekaligus termasuk Martini. Ironisnya, sang dokter itu kurang serius menangani kedua pasien waterbirth itu. “Saat menangani sambil bermain BlackBerry Messenger (BBM) atau telepon-teleponan,” ungkapnya              

Saat bayinya lahir, lanjut Tobas, langsung dibawa dr. TOM ke sebuah ruangan karena tak ada suara tangisan. Hal ini tanpa memberitahu dan memberi penjelasan kepada keluarga Martini tentang kondisi bayi. Tak lama kemudian, sang bayi diinformasikan meninggal dunia.

“Saat itu tidak dijelaskan penyebab kematian si bayi. Bahkan hingga persoalan ini kita adukan ke MKDKI Mei 2012, penjelasan dari pihak RS Asri tidak memuaskan pihak keluarga. Tetapi, menurut sidang MKDKI akibat meninggal bayi karena kelebihan diinduksi.”         

Sementara Martini berharap agar peristiwa malpratik seperti ini tidak terulang lagi.  “Saya berharap tidak ada lagi korban seperti saya yang mengalami tindakan malpraktik,” harap Martini.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.