Rabu, 02 Oktober 2013
Dosen FH Harus Bisa Seperti 'Sopir Taksi'
Masih ada dikotomi civil law dan common law.
ALI
Dibaca: 3732 Tanggapan: 0
Dosen FH Harus Bisa Seperti 'Sopir Taksi'
Kampus FH UNAIR. Foto: Facebook

Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam konferensi internasional tentang pendidikan hukum Asia Tenggara di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH Unair). Mulai dari bagaimana mengubah pendidikan hukum menjadi lebih baik, hingga bagaimana cara mengajar yang efektif di FH?

Guru Besar FH Unair, Frans Limahelu mengatakan setiap dosen mempunyai gaya mengajar masing-masing, tetapi menurutnya, dosen yang baik itu adalah yang bisa berperan layaknya sebagai sopir taksi.

“Kita serahkan kepada mahasiswa. Mereka mau ke mana. kita tahu jalan pintas, dan jalan yang bisa cepat sampai, tetapi kita harus tetap bertanggung jawab,” ujarnya di Gedung FH Unair, Surabaya, Rabu (2/10). 

Lebih lanjut, Prof Frans menuturkan perlu ada hubungan yang baik antara dosen, mahasiswa dan pihak fakultas tentang proses belajar mengajar yang sedang dan akan mereka lakukan. “Mereka harus saling mendiskusikan hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Sayangnya, menurut Prof Frans, pendidikan hukum di Indonesia belum terlalu banyak yang mengedepankan diskusi dua arah antara dosen dan mahasiswa. Ia mencontohkan apa yang sering terlihat di kelas-kelas fakultas hukum yang sangat sepi dari diskusi dan bertukar pikiran baik antar mahasiswa, maupun mahasiswa dengan dosen.

“Mereka datang ke kelas seperti nonton film ke bioskop. Mereka cuma nonton dan menikmati speakernya. Ini yang harus dipahami oleh setiap dosen, bahwa kalian adalah dosen, bukan pemain film yang brilian,” tambahnya.

Prof Frans mengatakan perlu diutarakan kepada mahasiswa apa tujuan mereka mengambil kelas atau mata kuliah yang kita asuh. Mahasiswa hukum jangan dibiarkan hanya masuk ke kelas, duduk, diam, tersenyum, dan ‘say hello’ kepada dosennya, lalu perkuliahan selesai.

“Hubungan dua arah itu penting. Ini adalah potret besar dari pendidikan hukum di masa depan,” tambahnya. 

Profesor asal University of Washington, Prof Stephen A Rosenbaum menilai Frans menggunakan perbandingan yang tepat. “Itu metafora yang bagus,” tuturnya.

Stephen juga mengakui bahwa melakukan perubahan dalam proses belajar mengajar di fakultas hukum memang berisiko. Apalagi, bila perubahan dilakukan secara individu dari masing-masing dosen. “Rekan kerja kita (dosen lain) bisa saja tak setuju, dan mahasiswa tak suka,” ujarnya.

Namun, Stephen tetap berpendapat bahwa perubahan ke arah yang lebih baik di fakultas hukum harus terus dilakukan, baik secara bersama-sama atau pun sendirian.

Civil Law Mindset
Dosen FH Unair Koesrianti mengungkapkan bahwa di Indonesia, mahasiswa dan lulusan fakultas hukum masih selalu menggunakan cara pandang “Civil Law”. Sebagai informasi, sistem hukum di dunia secara garis besar terbagi antara civil law dan common law. Negara yang menggunakan sistem civil law –seperti Indonesia- lebih menggunakan undang-undang atau peraturan sebagai sumber hukum. Berbeda dengan di negara common law dimana putusan pengadilan lebih sering dirujuk sebagai sumber hukum.

“Ini bisa berpengaruh pada penyusunan kurikulum pendidikan hukum,” ujar Koesrianti.

Koesrianti menjelaskan kurikulum pendidikan hukum di Indonesia memang kewenangan dekan di fakultas hukum masing-masing. Meski begitu, para dekan perguruan tinggi negeri mempunyai forum koordinasi untuk menentukan kurikulum yang bisa dilaksanakan bersama.

“Contohnya di FH Unair saat ini, kurikulumnya terdiri dari 60 persen teori dan 40 persen praktik hukum,” tuturnya.

Sementara, Frans tak mau mempermasalahkan antara civil law dan common law lagi. “Saya tak peduli lagi dengan sistem civil law dan common law. Yang penting (di fakultas hukum) bagaimana cara mengajar kita kepada mahasiswa,” pungkasnya.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.