Kamis, 03 Oktober 2013
Blok Mahakam Penting Bagi Kebutuhan Gas Nasional
Untuk mendukung konversi BBM ke BBG dan suplai produksi listrik.
KAR
Dibaca: 1094 Tanggapan: 0

Pengamat migas Kurtubi menilai Blok Mahakam memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan gas nasional. Ia melihat saat ini Indonesia telah mengalami kekurangan gas untuk kebutuhan dalam negeri. Menurutnya, jika kontrak Blok Mahakam tak diperpanjang maka akan menguntungkan rakyat Indonesia karena kebutuhan gas dalam negeri dapat diatur secara mandiri.

“Kalau Blok Mahakam tidak diperpanjang, kita kembali berdaulat. Blok ini produksi gas terbesar di Indonesia. Ini akan menguntungkan rakyat, kita bisa mengatur gas yang ada,” tutur Kurtubi.

Kurtubi menjelaskan, kebutuhan gas dalam negeri sangat mendesak. Misalnya, ia mencontohkan program prioritas nasional konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG). Menurut Kurtubi, permasalahan utama mandeknya realisasi konversi BBM ke BBG adalah ketersediaan gas yang terbatas. “Ini tidak bisa segera dilakukan karena pasokan gasnya tidak ada,” tegas Kurtubi.

Padahal, Kurtubi menyangkan, jika gas yang tersedia mencukupi rakyat Indonesia dapat beramai-ramai beralih menggunakan BBG. Berdasarkan penghitungannya, kalau separuh saja kendaraan yang sekarang menggunakan BBM bersubsidi beralih ke gas, dalam satu tahun negara bisa berhemat hingga Rp100 triliun.

“Negara bisa hemat karena tidak perlu mengeluarkan subsidi untuk BBM. Rakyat juga untung karena harga gas hanya Rp3100 hingga Rp4100, dibandingkan membeli premium yang sudah disubsidi masih Rp6500,” ujar Kurtubi.

Selain itu, Kurtubi melihat Blok Mahakam dapat secara signifikan menyuplai pasokan gas untuk kebutuhan listrik. Hal ini menurut Kurtubi penting untuk menekan subsidi listrik. Sebab, dikatakan oleh Kurtubi, pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan gas (gas combine cycle) akan dapat menekan subsidi listrik karena produksi listrik. Biaya pokok listrik yang menggunakan gas hanya sekitar Rp700/kwh. “Harga jual TDL ke rakyat saat ini Rp800/kwh, jadi tidak perlu subsidi listrik kalau kita pakai gas,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR Chandra Tirta Wijaya menegaskan, pemerintah Indonesia harus bisa mendorong peningkatan produksi gas. Menurut Chandra, gas penting untuk mengantisipasi penurunan produksi minyak yang merupakan bahan bakar fosil.

“Minyak yang energi fosil makin lama makin habis itu betul, tetapi kita mesti jaga. Jangan salah, minyak bisa turun tetapi gas harus dikelola dengan bagus,” katanya.

Pada tahun 1972, ditemukan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam. Kemudian, tahun 1972 kontrak bagi hasil blok Mahakam ditandatangani tahun 1967, kemudian diperpanjang pada tahun 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai tahun 2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan Cadangan (gabungan cadangan terbukti dan cadangan potensial atau dikenal dengan istilah 2P) awal yang ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF). Dari penemuan itu maka blok tersebut mulai diproduksikan dari lapangan Bekapai pada tahun 1974.

Produksi dan pengurasan secara besar-besaran cadangan tersebut di masa lalu membuat Indonesia menjadi eksportir LNG terbesar di dunia pada tahun 1980-2000. Kini, setelah pengurasan selama 40 tahun, maka sisa cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF. Pada akhir maka kontrak tahun 2017 diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8 TCF pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.