Kamis, 03 Oktober 2013
Minat Mahasiswa Indonesia ke Luar Negeri Meningkat
Melanjutkan pendidikan ke negara Eropa seperti Inggris dan Perancis.
ADY
Dibaca: 4433 Tanggapan: 0
Minat Mahasiswa Indonesia ke Luar Negeri Meningkat
Konferensi pers European Higher Education Fair di Jakarta. Foto: SGP

Program Manager Perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN, Jenni Lundmark, mengatakan mobilitas mahasiswa yang melanjutkan sekolah ke perguruan atau institusi pendidikan tinggi antar negara meningkat. Diperkirakan sampai akhir dekade ini jumlahnya mencapai 7 juta orang.

Tahun ini, ia mencatat mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan tinggi di Eropa sekitar 4 ribu orang. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah itu cenderung meningkat bahkan dalam waktu dekat diperkirakan jumlahnya mencapai 7 ribu orang.

Menurut Jenni, peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan tinggi ke Eropa salah satunya disebabkan oleh daya tarik universitas yang ada di Eropa sangat variatif dan cepat merespon laju globalisasi. Mengingat pendidikan tinggi merupakan salah satu fokus internasionalisasi di bidang pendidikan di berbagai negara, maka universitas dituntut memiliki keunggulan. Sehingga, menarik minat mahasiswa untuk mengenyam pendidikan di kampus tersebut.

“Tahun ini ada empat ribu mahasiswa Indonesia di Eropa yang belajar tingkat S1, S2 dan S3,” katanya dalam jumpa pers di gedung Erasmus Huis Jakarta, Kamis (3/10).

Dalam menghadapi hal itu Jenni mengatakan universitas harus punya strategi yang jitu, sehingga upaya untuk meningkatkan pendidikan bukan hanya berkutat di soal perbaikan fasilitasnya. Tapi juga peningkatan kualitas tenaga pengajar, menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan di negara lain dan menggelar program belajar jarak jauh. Selaras dengan itu Jenni menjelaskan dalam dua dekade terakhir Uni Eropa sudah mengubah kebijakan di sektor pendidikan. Lewat kebijakan itu, pemerintah Uni Eropa berupaya menarik sebanyak-banyaknya mahasiswa dari berbagai negara untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Oleh karenanya dalam rangka melaksanakan kebijakan internasionalisasi pendidikan, Jenni melanjutkan, universitas di Uni Eropa membutuhkan kerjasama dengan bemacam universitas yang berasal dari negara berkembang, salah satunya Indonesia. Kemudian untuk meningkatkan kualitas internasionalisasi pendidikan, tahun depan Uni Eropa berencana membuat pemeringkatan universitas untuk institusi pendidikan di tingkat global. Ia mengatakan sampai saat ini sudah ada ratusan universitas dari berbagai negara yang mulai mendaftar untuk ikut dalam sistem pemeringkatan itu.

Langkah itu menurut Jenni ditempuh Uni Eropa sebagai upaya mempertahankan kualitas pendidikan tinggi. Sehingga, sejalan dengan program promosi bahwa Uni Eropa sebagai daerah tujuan belajar dan penelitian internasional. Untuk mendorong terwujudnya hal itu, Jenni mengatakan dalam waktu dekat Uni Eropa akan menggelar pameran pendidikan tinggi di Jakarta pada 12-13 Otober 2013 dan Surabaya pada 9 Oktober 2013. Dalam pameran itu, ratusan universitas dari Eropa akan ikut meramaikan acara dan mempromosikan program pendidikan mereka, salah satunya beasiswa.

Pada kesempatan yang sama Kepala Pendidikan Tinggi di british Council Indonesia, Steve Buckle, mengatakan ketertarikan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke Eropa dan Inggris lebih tinggi ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Untuk Inggris, ia mencatat peningkatan itu dapat dilihat dari permintaan visa belajar yang diajukan warga Indonesia kepada kedutaan Inggris. Steve pun mencatat tahun ini jumlah universitas asal Inggris yang bertandang ke Indonesia untuk berpromosi jumlahnya tiga kali lipat lebih besar ketimbang tahun lalu. Begitu juga dengan kegiatan kerjasama yang dijalin antara pihak di Indonesia dengan universitas asal Inggris dan Eropa.

“Saya melihat peningkatannya sangat tajam keinginan orang Indonesia sekolah di perguguran tinggi Eropa dan Ingggris,” tutur Steve.

Untuk mendorong minat mahasiswa Indonesia bersekolah ke luar negeri, Steve menyebut ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Misalnya, keterjangkauan biaya pendidikan tinggi di Eropa dan Inggris. Keterjangkauan itu menurut Steve berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa Indonesia cukup murah untuk mendapat pendidikan yang  bermutu. Kemudian, universitas di Eropa dan Inggris menawarkan banyak program pendidikan. Serta menjamin kesuksesan para alumni ketika kembali ke tanah air. “Pendidikan tinggi di Inggris cukup terjangkau ketimbang negara lain yang lebih dekat dengan Indonesia,” urainya.

Bahkan di tengah kondisi perekoomian Eropa yang lesu, Steve mengatakan hal itu menguntungkan bagi pelajar-pelajar dari Asia. Sebab, mata uang eropa melemah sehingga biaya hidup menjadi murah. Oleh karenanya jika dibandingkan dengan negara lain seperti Australia yang perekonomiannya sekarang cukup stabil, maka biaya hidup bagi mahasiswa menjadi mahal. Oleh karenanya, krisis eknomi itu menurutnya tidak menjadi halangan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Eropa.

Sementara, koordinator kerjasama universitas penanggung jawab CampusFrance di Indonesia, Flora Stienne, menjelaskan peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia juga terlihat di Perancis. Hal itu sejalan dengan meningkatnya kerjasama antara Indonesia dan Perancis di bidang pendidikan. Dalam pameran pendidikan tinggi Eropa yang akan di gelar di Indonesia pada bulan ini, Flora mengatakan jumlah universitas asal Perancis yang ikut pameran itu bertambah menjadi 20 kampus. “Tahun 2001 jumlah mahasiswa Indonesia di Perancis hanya ada tujuh, sekarang ada 500 orang,” tandasnya.

Peningkatan itu menurut Flora sejalan dengan bertambahnya jumlah beasiswa yang dikucurkan dari kerjasama antara pemerintah Perancis dan Indonesia. Kerjasama di bidang pendidikan itu sangat menguntungkan bagi Indonesia dan Perancis. Misalnya, mahasiswa Indonesia lulusan universitas di Perancis dapat bekerja di perusahaan asal Perancis yang beroperasi di Indonesia. “Hal itu menguntungkan perusahaan Perancis di Indonesia,” tukasnya.

Sedangkan Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker, mengatakan salah satu keuntungan melanjutkan pendidikan tinggi di Eropa dan Inggris adalah masa studi yang lebih singkat. Misalnya, untuk menempuh gelar sarjana hanya butuh tiga tahun dan Magister kurang dari 2 tahun. Selain itu, universitas di Eropa, Inggris dan Perancis masuk dalam peringkat atas dari berbagai universitas yang ada di dunia.

Baginya, kondisi itu yang mempengaruhi meningkatnya minat mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi ke Eropa, Inggris dan Perancis. Apalagi, pemerintah Uni Eropa tergolong cukup banyak mengalokasikan anggaran untuk beasiswa. “Kongklusinya di Eropa sangat berkualitas pendidikannya.,” pungkasnya.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.