Jumat, 04 Oktober 2013
Investor Butuh Insentif Bangun Kilang
Multiplier effect dari penambahan armada kilang cukup besar di tengah tingginya impor produk BBM di dalam negeri.
KAR
Dibaca: 1163 Tanggapan: 0
Investor Butuh Insentif Bangun Kilang
Kementerian ESDM. Foto: SGP

Anggota Komisi VII DPR Fraksi PDIP Ismayatun mengatakan, pemerintah harus berani memberikan insentif dalam pembangunanan kilang. Sebab, multiplier effect dari penambahan armada kilang cukup besar di tengah tingginya impor produk BBM di dalam negeri.

“Pemerintah mudah memberikan insentif bagi produksi mobil murah dan ramah lingkungan, pemberian hal serupa dapat dengan mudah bagi kilang minyak. Mobil saja bisa diberi insentif, lalu kenapa kilang minyak tidak bisa" ujar Ismayatun, Jumat (4/10).

Selain itu, bisnis kilang di samping padat modal juga keuntungannya tidak sebesar pada sektor bisnis lainnya. Untuk itu, Ismayatun menilai pemerintah memang perlu memberikan insentif bagi investor asing yang berkeinginan masuk membangun kilang minyak di dalam negeri.

“Pemberian insentif bagi investor itu penting,” katanya.

Pernyataan yang diutarakan Ismayatun terkait dengan target pembangunan kilang mini liquefied petroleum gas (LPG) di Musi Banyuasin oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kilang itu diharapkan dapat beroperasi mulai akhir tahun 2014. Pemerintah telah menetapkan PT Hokasa sebagai pemenang lelang pengadaan, rekayasa, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC).

Saat ini, Kementerian ESDM sedang menyiapkan lahan dan pemesanan peralatan yang diperlukan. Untuk pembangunan kilang tersebut telah menelan investasi senilai Rp100 miliar.

Muhammad Hidayat, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM menegaskan, pemenang tender harus melakukan percepatan, sehingga kilang bisa rampung sesuai target. Tahun ini, pembangunan paling tidak bisa mencapai 30% dari total tahapan pembangunannya.

“Pemenang lelang juga harus melakukan efisiensi dalam pembangunan kilang mini LPG. Pasalnya, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengakibatkan naiknya biaya yang harus dikeluarkan kontraktor untuk membangun kilang,” ujar Hidayat.

Saat ini, kebutuhan LPG di dalam negeri meningkat menjadi 5,6 metrik ton per tahun dari sebelumnya hanya 1,2 juta metrik ton per tahun. Peningkatan tersebut ditopang oleh kebijakan konversi minyak tanah ke LPG untuk rumah tangga, sehingga diperlukan kilang LPG.

Sementara itu, pasokan gasnya akan diperoleh dari PT Medco E&P Indonesia sebanyak 2,2 juta kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMscfd).

Menurut Hidayat, pembangunan kilang mini LPG yang berkapasitas 17 ton oleh pemerintah ini bertujuan untuk mendorong badan usaha serta daerah yang memiliki sumber daya gas bumi dalam jumlah kecil agar mau membangun kilang mini LPG demi memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

Untuk pembangunan kilang mini LPG ini, pemerintah telah membebaskan lahan seluas 3,2 hektar dan telah diperoleh izin prinsip dari Pemda Musi Banyuasin untuk pembangunan kilang. Pasokan gas sebesar sebesar 2,2 MMSCFD diperoleh dari PT Medco E&P Indonesia.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.