Selasa, 08 Oktober 2013
BNN Duga Narkoba di MK Milik Pecandu
Hamdan Zoelva meminta penegak hukum mengusut pemilik narkotika tersebut.
ASH/ANT
Dibaca: 1016 Tanggapan: 0

Badan Narkotika Nasional menduga barang bukti berupa narkoba yang ditemukan di ruang kerja mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar milik pecandu karena beratnya kurang dari lima gram.

"Kami menduga ada penyalahgunaan narkotika. Barang bukti yang ada di ruang AM (Akil Mochtar) kurang dari lima gram, ini kemungkinan milik pecandu," kata Kepala Bagian Humas BNN Kombes Pol Sumirat saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (8/10).

Sumirat menyebutkan total berat lintingan ganja, yakni 1,2804 gram dari tiga linting utuh dan satu sisa pakai.

Sementara itu, total berat pil sabu yang ditemukan 0,4867 gram, dengan pil warna ungu seberat 0,2784 gram dan pil hijau seberat 0,2083 gram.

"Kalau barang bukti yang ditemukan lebih dari lima gram, diduga kuat bisa perantara maupun pengedar," kata Sumirat. Hal itu, dia mengatakan, sesuai dengan ketentuan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010.

Untuk itu, Sumirat mengatakan BNN akan menindaklanjuti penelusuran kepemilikan narkoba tersebut karena Akil Mochtar telah ditetapkan negatif tidak menggunakannya.

"Apakah barang bukti itu milik AM atau tidak, siapa yang menggunakan dan asal-usul barangnya," katanya.

Dia juga akan memeriksa Akil Mochtar karena barang bukti tersebut ditemukan di ruangannya.

Sumirat menyebutkan dua faktor Akil Mochtar dinyatakan negatif, yakni lokasi penangkapan dan penemuan narkoba berbeda dan jangka waktu pemakaian narkoba kemungkinan cukup lama.

"Kalau barang (narkoba) itu ada di saku atau dompet, bukti-bukti akan lebih kuat, tetapi AM tidak tertangkap tangan menggunakan narkoba," katanya.

Untuk alasan kedua, dia melanjutkan, kemungkinan penggunaan narkoba tersebut sudah lama, jadi tidak terdeteksi dalam sampel urin.

Dia menjelaskan pada umumnya jangka waktu kandungan narkoba bertahan dalam tubuh berbeda-beda, seperti metaphetamin dalam pil tersebut bertahan hingga tujuh hari, sementara itu untuk ganja lebih lama dua minggu sampai satu bulan.

"Namun, tergantung pada metabolisme masing-masing orang ada yang cepat hilang dari tubuh ada yang lama bertahan," katanya.

Sumirat mengatakan pil sabu tersebut termasuk kategori baru di Indonesia karena sebelumnya hanya berbentuk kristal.

Terpisah, Wakil Ketua MK, Hamdan Zoelva pun geram dan mempertanyakan, apakah ada pihak lain di balik temuan narkoba ini. “Saya hanya minta kepada penegak hukum, ini kerjaan siapa?” kata Hamdan, saat ditemui di Gedung MK, Selasa (8/10).

Hamdan meminta kepada penegak hukum untuk mengusut temuan narkoba tersebut yang sebelumnya disebut-sebut sebagai milik Akil. “Jadi, silahkan mereka terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,” pintanya. “Pastinya, hasil tes urine itu akan masuk dalam bagian dari pertimbangan. Nanti, pastinya akan diminta secara resmi oleh MKH.”

Akil Mochtar ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga menerima suap sengketa pilkada, yakni Pilkada Kabupaten Lebak, Banten dan Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, senilai Rp3 miliar dalam bentuk dolar AS dan dolar Singapura.

Seperti diketahui, pasca penangkapan Akil Mochtar oleh KPK, pihak penyidik KPK langsung menggeledah rumah dinas Akil di kawasan Widya Candra, Jakarta Selatan. Tidak hanya itu, ruang kerja Akil pun tak luput dari penggeledahan.

Saat penggeledahan di ruang kerja Akil, di lantai 15 di Gedung MK, penyidik KPK menemukan sejumlah barang bukti, antara lain 3 linting ganja (yang satu berupa puntungan) dan 2 butir pil ekstasi di laci meja kerja Akil.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.