Selasa, 08 Oktober 2013
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan
BI tetap akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan agar inflasi terkendali.
FAT
Dibaca: 702 Tanggapan: 0

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) tiga bulanan Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan angka suku bunga acuan (BI rate) sebesar 7,25 persen. Bukan hanya BI rate yang dipertahankan, BI juga mempertahankan angka suku bunga lending facility di level 7, 25 persen dan suku bunga deposit facility sebesar 5,50 persen.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, meski tetap mempertahankan suku bunga acuan, BI tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan nasional. Bahkan, BI berjanji untuk mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan bahwa tekanan inflasi tetap terkendali, stabilitas nilai tukar rupiah terjada dan defisit transaksi berjalan menurun.

“BI meyakini bahwa kebijakan-kebijakan tersebut serta berbagai kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya akan mempercepat penyesuaian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dan mengendalikan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014,” tutur Agus di Komplek Perkantoran BI, Selasa (8/10).

Dioptimalkan bauran kebijakan, kata Agus, lantaran perekonomian global mengalami perlambatan. Bahkan dari pasar keuangan, penundaan kebijakan pengurangan stimulus oleh The Fed (tapering), perdebatan debt ceiling dan penghentian sementara layanan pemerintah Amerika Serikat (government shutdown) menghantui kinerja ekspor negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Secara keseluruhan, melalui jalur perdagangan perkembangan perekonomian global tersebut memberikan tekanan pada kinerja ekspor negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” katanya.

Akibat adanya tekanan dan pelemahan ekonomi global, lanjut Agus, kinerja perekonomian domestik menunjukkan kecenderungan yang melambat. BI memperkirakan, perekonomian domestik diprakirakan tumbuh 5,6 persen di triwulan III-2013 dan untuk 2013 masih berada pada kisaran 5,5 persen-5,9 persen. “Kinerja ekonomi global yang masih melambat dan pergerakan harga komoditas yang masih cenderung menurun, mendorong masih terbatasnya kinerja ekspor,” katanya.

Meski begitu, BI optimis kinerja perekonomian dalam negeri akan membaik pada tahun 2014. Hal ini sejalan dengan membaiknya perekonomian global dan harga komoditas. “Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia diprakirakan tumbuh lebih tinggi mencapai 5,8 persen - 6,2 persen. Dari sisi eksternal, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2013 diprakirakan akan membaik. Defisit transaksi berjalan akan menyempit terutama dengan menurunnya impor seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan dampak pelemahan nilai tukar Rupiah,” kata Agus.

Dari perkembangan tersebut, BI mencatat nilai cadangan devisa bertambah sekitar AS$2,7 miliar pada akhir September. Total cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2013 sebesar AS$95,7 miliar dari sebelumnya pada akhir Agustus sebesar AS$93 miliar. “Cadangan devisa pada akhir September tersebut setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah,” katanya.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, terkait persoalan yang tengah terjadi di Amerika Serikat terdapat dua fenomena yang berdampak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Pertama, melalui sektor riil atau perdagangan terjadi tekanan ekspor pada negara berkembang.

Kedua, melalui jalur keuangan, dengan adanya shutdown, penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan tapering, yield dari treasury Amerika Serikat akan turun. Dampak jangka pendeknya, akan banyak arus modal yang masuk ke Indonesia. “Jangka pendek memberikan juga dampak positif pasar keuangan di emerging market termasuk Indonesia,” kata Agus.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan, persoalan yang terjadi antara pemerintah dengan parlemen di Amerika Serikat merupakan sebuah politik. Ia menilai, Amerika Serikat sendiri tidak akan mengorbankan anggaran yang lebih besar lagi hanya untuk persoalan politik semata. Atas dasar itu, persoalan tersebut akan segera terselesaikan.

Meskipun begitu, kata Mirza, BI tetap mewaspadai seluruh dampak yang terjadi akibat permasalahan di Amerika Serikat. “Kita juga tahu ini adalah seni politik. Jadi rasanya kalau politisi Amerika Serikat mengobarnkan budget pemerintahannya kemudian, misal jadi tidak bayar utang rasanya tidak mungkin. Kita waspada, tapi juga harus optimis pada akihrnya pemerintah dan kongres dan senat sepakat mengenai budget dan debt ceiling,” pungkasnya.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.