Selasa, 08 Oktober 2013
Kredit Bermasalah Alami Peningkatan
Lantaran pembayaran kredit yang tidak tepat waktu hingga pembayaran angsuran kredit yang tak sesuai jumlah yang ditentukan.
FAT
Dibaca: 2614 Tanggapan: 0

Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) mengalami peningkatan. Menurut Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, peningkatan tersebut terjadi lantaran terdapatnya pembayaran kredit yang tidak tepat waktu hingga pembayaran angsuran kredit yang tak sesuai jumlah yang ditentukan.

“Ini ada suatu perkembangan yang kita pantau dan kita memahami kalau ada kenaikan suku bunga biasanya diikuti kenaikan NPL, apalagi pada saat yang sama kegiatan ekonomi melambat,” kata Halim di Jakarta, selasa (8/10).

Menurut Halim, salah satu kenaikan NPL terjadi di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Meskipun begitu, kenaikan NPL ini bukan mengindikasikan bahwa perbankan tengah berada dalam kondisi pengawasan intensif BI. Menurutnya, kenaikan di sektor UMKM masih tergolong kecil lantaran terjadinya perlambatan khususnya kinerja keuangan yang kurang baik.

Halim mengatakan, peningkatan NPL ini terlihat setelah BI melakukan beberapa exercise ke beberapa bank. Baik perbankan kecil hingga besar. Meskipun mengalami peningkatan, BI optimis bahwa di akhir tahun rasio tingkat kredit bermasalah tersebut akan tetap berada dibawah satu persen.

“Semua menunjukan secara umum NPL-nya naik tapi sedikit sekali. Jadi sampai akhir tahun kami optimis NPL tidak akan tinggi naiknya,” kata Halim.

Sedangkan posisi likuiditas perbankan sendiri, lanjut Halim, diperkirakan akan mengalami perbaikan. Dari sisi penarikan Dana Pihak Ketiga (DPK), posisi likuiditas perbankan saat ini bisa men-cover angka 18,5 persen. Naik dari bulan Agustus lalu yakni sebesar 17 persen.

“Jadi naik. Itu cukup aman, karena kita tidak pernah alami penarikan DPK sampai 18 persen,” ujar Halim.

Dari catatan BI, rasio likuiditas perbankan kecil lebih tinggi ketimbang bank besar. Hal ini dikarenakan bank-bank besar dan menengah bereaksi dengan menaikkan suku bunga depositonya. Bahkan suku bunga deposito yang ditawarkan bank menengah dan besar hampir mirip dengan bank-bank kecil. Menurut Halim, hal ini menunjukkan bahwa kondisi likuiditas bank kecil dalam posisi yang baik.

Gubernu BI Agus DW Martowardojo mengatakan, dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI tiga bulanan dihasilkan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Bahkan ketahanan industri perbankan tetap stabil meskipun berbagai tekanan ekonomi terjadi.

“Rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) tetap tinggi mencapai 17,89 persen, jauh di atas ketentuan minimum 8 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) tetap terjaga rendah sebesar 1,99 persen pada bulan Agustus 2013,” ujar Agus.

Lebih jauh ia mengatakan, dari hasil stress testing di sisi likuiditas, kredit maupun permodalan juga menunjukkan ketahanan industri perbankan yang kuat. Bahkan, risiko seperti perlambatan ekonomi, kenaikan suku bunga dan depresiasi nilai tukar rupiah tak akan mempengaruhi likuiditas.

Agus mengatakan, pertumbuhan kredit pada Agustus 2013 masih cukup tinggi yakni sebesar 22,2 persen lantaran adanya penarikan kredit dari komitmen sebelumnya. Bahkan pertumbuhan kredit terjadi lantaran adanya pengaruh perhitungan nilai tukar dan komitmen kredit baru yang terus menurun.

Meskipun begitu, kata Agus, ke depan BI memperkirakan pertumbuhan kredit akan mengalami perlambatan. “Ke depan, BI memperkirakan pertumbuhan kredit akan melambat seiring dengan kenaikan suku bunga, perlambatan permintaan domestik dan kebijakan makroprudensial yang ditempuh oleh BI,” pungkasnya.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.