Jumat, 20 Maret 2015
KAMPPAK, Kumpulan Praktisi Hukum Penggemar Permata dan Akik
Batu akik sebagai bahan obrolan sambil menunggu jadwal sidang yang molor.
RIA
     0 
KAMPPAK, Kumpulan Praktisi Hukum Penggemar Permata dan Akik
Tasman Gultom, advokat pendiri KAMPPAK, saat menunjukan batu akik yang dimilikinya, Selasa (17/3). Foto: RIA.

Ketika mendengar nama KAMPPAK, hal yang pertama terlintas di benak sebagian orang mungkin kumpulan para berandal atau begal. Pasalnya, kampak –atau juga sering disebut kapak- adalah alat yang terbuat dari logam dan bertangkai panjang, yang diasosiasikan dengan senjata tajam.

Di Jakarta dahulu juga ada Geng kriminal terkenal, Kampak Merah. Namun, KAMPPAK yang satu ini tentu berbeda. Ini merupakan komunitas para praktisi hukum yang menggemari permata dan batu akik.

KAMPPAK adalah singkatan dari “Kurator Advokat Mediator Penggemar Permata dan Akik”. Komunitas ini dibentuk oleh salah seorang advokat, Tasman Gultom. “Orang berpikir kalau kampak itu adalah kriminal. Tapi bedanya kalau kami P-nya dua, KAMPPAK,” ujarnya, Selasa (17/3).

Tidak ingat kapan persisnya terbentuk, Tasman memperkirakan komunitas ini ada sejak dua atau tiga bulan ke belakang. Pembentukan itu pun tidak didasarkan pada satu deklarasi khusus. “Semua bermula dari aktivitas grup BBM (Blackberry Mesengger,-red) dengan delapan rekan lain,” sebutnya.

Tasman menjelaskan, bersama dengan advokat yang berasal dari berbagai daerah seperti Medan, Yogyakarta dan Samarinda, mereka terbiasa berbagi foto-foto batu akik yang dimiliki masing-masing. Selanjutnya, para praktisi hukum ini juga sesekali berkumpul untuk membahas jenis batu dan asal batu-batu tersebut.

Lebih lanjut, Tasman menambahkan KAMPPAK memiliki banyak mimpi terhadap trend batu akik yang sedang mencuat saat ini. Ia menuturkan bahwa punya hobi terhadap batu akik dapat membantu ekonomi rakyat menengah ke bawah dengan cara menggelar pameran-pameran batu.

“Selama ini orang memandang pengguna batu akik sebagai orang kampungan, tapi sekarang coba pergi ke mana-mana, orang pasti sedang sibuk duduk menggosok batu,” sebut Tasman.

‘Naluri pembelaan’ Tasman sebagai advokat muncul ketika mendengar adanya ungkapan bahwa hobi batu akik cincin ini dapat merusak alam. “Jangan-lah sok moralis mengatakan bahwa pecinta batu ini tak cinta alam. Jangan pula dikatakan yang kita lakukan itu mengeksplorasi-eksplorasi alam dan merugikan bangsa dan negara,” ujarnya.

Tasman mengatakan bahwa tren batu akik ini justru menguntungkan masyarakat bawah. “Bahwa kenyataannya sekarang bahkan ada satu batu jenis tertentu yang ada di Maluku, satu kilo batu itu harganya bisa mencapai 300 juta. So, itu untungnya siapa? Itu kan buat petani juga,” tukasnya.

“Paling tidak, untuk para advokat kurator mediator (yang tergabung dalam KAMPPAK), ini jadi jalur ibadah buat mereka terhadap masyarakat kecil. Tidak harus ke masjid, tidak harus ke fakir miskin, beribadah kepada pedagang kan juga boleh,” tambahnya.

Advokasi dan Edukasi

Selain itu, Tasman menjelaskan KAMPPAK –selaku wadah para praktisi hukum- juga berkomitmen untuk mengadvokasi batu-batu akik milik Indonesia ini ke depannya agar tidak diklaim milik asing. “Jangan sampai batu-batu seperti jenis batu Bacan dari Maluku, Raflesia dari Bengkulu, dan Giok dari Aceh, diakuin sama negara lain nantinya,” tutur Tasman.

Disamping itu, mereka juga memiliki komitmen untuk memberikan edukasi hukum kepada para pengrajin dan pedagang batu.

Diakui Tasman, di dunia advokat sendiri tren batu ini sudah sangat ramai. Saat ini, para advokat sambil menanti persidangan perkaranya akan berkumpul di kantin dan mereka akan saling menunjukkan batu masing-masing.

“Nanti ada yang bilang ‘batu lu gimana sih?’ Disahut oleh yang lain ‘Oh ini raflesia gue dari Bengkulu, liat dong clapnya (seperti garis putih pada batu yang bisa bergeser, red). Ada juga yang bilang ‘oh batu gue dong ini ada star-nya’, ‘batu gue dong cateye’,” tiru Tasman.

Kegiatan ini dinilai sebagai kesenangan tersendiri bagi para advokat untuk “membunuh” waktu. “Jadinya enak. Kan pengadilan kita ini masih pengadilan “membosankan”. Diundang jam sembilan, sidangnya jam dua bahkan jam empat,” ungkapnya.

Selain berdiskusi mengenai batu akik, KAMPPAK juga sudah menggelar pameran untuk mempromosikan batu akik di kalangan praktisi hukum. Salah satunya adalah Bazar Permata dan Aiki yang digelar pada Selasa (17/3) di Taman Ismail Marzuki. Pameran dijadikan pembuka acara Debat Terbuka Calon Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI).

KAMPPAK bukan satu-satunya komunitas advokat pencinta batu akik. Ada juga CAPSTONE, kepanjangan dari Club Advokat Pencinta Stone.

Tasman menjelaskan anggota KAMPPAK tidak pernah berpikir bahwa hobi mereka mengarah kepada pamer dan tinggi-tinggian harga batu. “Batu itu tergantung pada nilai emosi dan nilai sejarah bagi masing-masing pemiliknya,” imbuhnya.

Oke kalau begitu, gosok terus batu-nya, bang!

 

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.