Jumat, 31 July 2015
Kisah Bintang Film Porno Lulus Ujian Advokat
Aktris film porno lain menjalani profesi demi membayar uang kuliah.
RZK
Dibaca: 22323 Tanggapan: 0
Kisah Bintang Film Porno Lulus Ujian Advokat
Western State University College of Law. Foto: www.wsulaw.edu

Namanya Heather Swift. Walaupun namanya mungkin terdengar asing bagi anda, Heather adalah seorang aktris. Film-film Heather memang tidak akan anda temukan di bioskop-bioskop, karena ssttt..! Heather adalah aktris film porno. Saat ini, Heather mengaku sudah ‘pensiun’ dari dunia film porno, beralih menjadi penari telanjang.

Tunggu dulu! Artikel ini tentunya tidak akan membahas sepak terjang Heather di film-film dewasa yang dimainkannya. Yang akan dibahas adalah prestasi Heather yang mampu lulus ujian advokat di California, negara bagian yang kabarnya mendapat predikat tempat ujian advokat tersulit di Amerika Serikat.

Dikutip dari laman www.abovethelaw.com, Heather adalah lulusan Western State University College of Law angkatan 2013. Di kampus hukum yang mendapat akreditasi dari the American Bar Association itu tercatat 75 persen lulusannya berhasil lulus ujian advokat, dan Heather Swift salah satunya .

“Saya ikut ujian advokat bulan Juli 2014, ini pertama kalinya saya ikut ujian advokat dan saya lulus. Tidak! saya tidak punya koneksi dalam di the California State Bar (organisasi advokat di California),” ujar Heather.

Heather menegaskan bahwa para perempuan di industri film dewasa sebenarnya pintar-pintar. Buktinya, kata Heather, dia bisa menembus salah satu kampus hukum top di AS dan lulus ujian advokat tersulit di AS.

“Mungkin masyarakat perlu menanggalkan stereotip (terhadap aktor/aktris film porno) dan mengatasi kecemburuan mereka,” kata Heather menyindir.

Sindiran Heather terhadap persepsi publik mengenai pelaku industri film dewasa pun berlanjut. “Kepada semua orang yang selama ini sinis terhadap perempuan di industri film dewasa yang dianggap tidak mampu lulus ujian advokat sebaiknya stop tertawa, karena seorang bintang film porno ternyata lebih pintar dari kalian.”

Belakangan, Heather menyadari bahwa pernyataan yang dia buat terkesan arogan. Makanya, Heather mengirim permohonan maaf sekaligus klarifikasi melalui www.abovethelaw.com. Di balik pernyataan yang terkesan arogan itu, ternyata Heather merasa ‘terzalimi’ selama tiga tahun kuliah di Western State University College of Law.

“Saya tidak bermaksud mencari popularitas melalui publikasi ini, tetapi hanya ingin menghilangkan stereotip negatif dan kuno yang sayangnya justru muncul di lingkungan akademis hukum,” paparnya.

Sekadar catatan, Heather Swift bukan satu-satunya aktris film porno yang tengah meniti karier di dunia advokat. Miriam Weeks alias Belle Knox juga memiliki mimpi yang sama seperti Heather yakni menjadi advokat.

“Saya ingin menjadi advokat pembela HAM dan hak-hak perempuan, mungkin akan mendirikan yayasan untuk pekerja seks,” ujar Miriam mengungkapkan motivasinya menjadi advokat.

Bedanya dengan Heather Swift, Miriam sebenarnya bukan aktris film porno profesional. Dia justru menjalani profesi sebagai aktris fim porno demi membiayai kuliahnya di the Duke University. Ironis, Miriam kesulitan membayar uang kuliah karena keluarganya tidak mampu dan dana beasiswa juga sulit diraih.  

“Saya mengetik ‘bagaimana menjadi bintang porno’ di Google. Muncul lah informasi agensi model, lalu saya kirim foto. Beberapa hari kemudian saya ditelepon, mereka bilang sangat menginginkan saya,” papar Miriam.

Tidak berapa lama kemudian, Miriam pun langsung terbang ke Los Angeles untuk memulai kariernya sebagai bintang film porno.

“Sepertinya sulit bagi masyarakat untuk memahami bahwa bintang film porno itu tidak melulu orang yang frustasi atau pecandu narkoba, sebagian dari mereka justru benar-benar menikmati pekerjaannya,” ungkap Miriam.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.