Jumat, 04 September 2015
Ketika Advokat Mengenang Masa Ospek
Dari kepala gundul hingga mengubah logat demi menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
RIA
Dibaca: 20546 Tanggapan: 1
Ketika Advokat Mengenang Masa Ospek
Aktivitas penerimaan mahasiswa baru di salah satu fakultas di UI. Foto: Twitter @univ_indonesia
Sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia tengah sibuk dengan berbagai kegiatan dalam rangka menyambut para mahasiswa baru. Salah satu kegiatan yang khas adalah orientasi studi dan pengenalan kampus atau lazim disingkat ospek. Walaupun seringkali menuai pro kontra, ospek yang saat ini mungkin namanya berbeda-beda biasanya menyisakan kenangan sendiri bagi yang mengalaminya.
 
Sejumlah advokat pun mengaku memiliki kenangan yang tak terlupakan ketika masih berstatus mahasiswa menjalani ospek. Rivai Kusumanegara misalnya. Ia ingat betul pengalamannya saat harus menjalani ospek di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, sekira 25 tahun silam.
 
Mengenang masa ospek, Rivai menyebut lima hal yang paling dia ingat. Botak, bau, minder, disiplin, dan kompak.
 
“Saya ingat saya harus botak saat ospek itu. Seumur hidup saya nggak pernah gundul. Sekalinya gundul ya saat ospek itu, waktu jadi mahasiswa baru,” tutur Rivai ditemui di sela-sela acara pelantikan DPN PERADI kepengurusan Fauzie Yusuf Hasibuan, Jumat silan (28/8).
 
Soal bau, yang dikenang Rivai adalah bagaimana dia harus rela datang ke kampus untuk mengikuti kegiatan ospek dari sebelum matahari terbit hingga langit gelap. Menurut Rivai, badannya menjadi bau karena keringat plus dijemur di bawah terik matahari.
 
Lantaran gundul dan bau, Rivai sempat merasa minder, apalagi ketika bertemu dengan wanita. “Minder saya bawaannya kalau lihat cewek. Abis jelek banget perasaan. Gimana ya? Ya jelek, hitam, gundul, dan bau. Pakaiannya pun jelek,” kenangnya.
 
Memori aspek, kata Rivai, tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang buruk. Dari ospek, diakui Ketua Pusat Bantuan Hukum PERADI ini, justru dia merasakan kekompakan antar sesama teman. Manfaat lainnya, Rivai merasa menjadi pribadi yang disiplin.
 
“Kita kompak banget karena merasa sependeritaan, sama-sama harus datang dari Subuh. Bahkan bulan ini kita mau reuni 25 tahun, reuni perak. Bayangin 25 tahun. Kompaknya teruji,” ujarnya.
 
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Maddenleo T Siagian juga mengaku terkenang dengan masa-masa ospek ketika dia harus datang pagi karena tidak boleh telat. Jika telat, maka hukumannya adalah push up, berdiri sambil memegang telinga, dan yang paling mengerikan adalah dimarahi senior.
 
“Dan yang paling dikenang (membuat) yel yel,” tukas Madden.
 
Kisah yang agak berbeda dituturkan oleh David ML Tobing. Pria yang dikenal sebagai pengacara perlindungan konsumen iniingat betul bagaimana ia harus menyesuaikan diri dengan mengubah logat Betawinya saat memulai kuliah. Saat itu, David bertemu dengan teman-teman baru yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
 
“Saya harus mengubah logat betawi saya ketika masuk jadi mahasiswa, karena saya sadar,saya ini sudah terlalu betawi kan. Ngomong pakainya lu-gue lu-gue, sedangkan saya bergaul dengan mahasiswa, yang artinya teman-teman saya ini datang dari berbagai daerah,” katanya.
 
Hal lain yang dikenang David adalah rasa bangga ketika menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “Jadi itu memori saya di awal. Tentang masuknya. Bahwa saya sangat bangga dengan almamater saya dan sekarang pun lebih bangga lagi,” tukasnya.
hapuskan opsek buang uang dan revisi uu advokat
 - ardian
09.09.15 08:18
opsek hanya buang uang dan hanya ajang bals demdam kkk klas hapuskan opsek cari bahan yg tdk perlu dan bnyak pungutann macam22 kayk pungutan jadi advokat yg mahal hapuskan pungutan di muka bumi hapuskan pungutan22 cari kegiatan yg beramal dan bermafafat bagi rakyat kecil yg tdk punya jauh pnting hapus pungli biaya sekolah dan hapus pungli jadi advokat dan hapus opsek
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.