Senin, 28 September 2015
Ngakunya Sakit, Tapi Kok Para Terdakwa Korupsi Ini...
Ada terdakwa korupsi yang ketahuan pura-pura menderita sakit permanen dengan memakai kursi roda.
NOV
Dibaca: 13640 Tanggapan: 0
Ngakunya Sakit, Tapi Kok Para Terdakwa Korupsi Ini...
Mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Udar Pristono divonis lima tahun penjara. Foto: RES

Perubahan pola hidup atau tekanan psikologis bisa jadi berpengaruh pada kondisi kesehatan para terdakwa korupsi. Banyak terdakwa kasus korupsi yang mengeluh sakit selama mengikuti proses hukum. Namun, tidak sedikit dari mereka yang mendramatisasi penyakitnya. Bahkan, ada yang mendramatisasi dengan menggunakan kursi roda.

Untuk menghadapi "jurus" sakit para tersangka atau terdakwa korupsi, KPK sebenarnya telah menjalin kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sejak 2012. Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan, kerja sama KPK dan IDI dilakukan untuk mengantisipasi modus-modus "sakit" semacam itu.

Salah satu kerja sama antara KPK dan IDI, lanjut Yuyuk, adalah menunjuk tim dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan terdakwa. "(Penunjukan dokter) Untuk mengkaji kelayakan medis untuk kepentingan proses penyidikan dan persidangan. Selain itu, juga untuk second opinion," katanya kepada hukumonline, Sabtu (26/9).

Beberapa waktu lalu sempat terjadi peristiwa menarik di Pengadilan Tipikor Jakarta. Seorang terdakwa kasus korupsi yang ditangani KPK ketahuan berpura-pura menggunakan kursi roda selama di persidangan. Kemudian, ada terdakwa kasus korupsi yang ditangani Kejaksaan Agung tiba-tiba lupa jika dirinya memakai kursi roda .

Ada juga seorang terdakwa yang meminta pembantaran karena mengaku harus menjalani operasi pemasangan kateter atau ring jantung. Setelah menjalani pemeriksaan, jantung terdakwa tersebut masih sehat, sehingga dokter menyuruh terdakwa pulang. Akan tetapi, terdakwa tidak mau pulang dan memilih rawat inap.

Berikut peristiwa menarik terkait kondisi kesehatan terdakwa korupsi di Pengadilan Tipikor Jakarta yang dirangkum hukumonline selama dua pekan terakhir :

1. Hassan Widjaja Ketahuan Pura-Pura Pakai Kursi Roda
Seperti sidang sebelumnya, Hassan Widjaja mendatangi Pengadilan Tipikor Jakarta dengan menggunakan kursi roda dan didampingi perawat. Namun, pada 16 September 2015, sidang mantan Komisaris Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) ini diagendakan untuk pembacaan surat tuntutan dari penuntut umum KPK.

Penuntut umum menganggap Hassan terbukti menyuap Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Syahrul Raja Sempurna Jaya sejumlah Rp7 miliar. Hassan dinilai berperan aktif dalam penyuapan, sehingga dituntut dengan pidana penjara selama tiga tahun dan denda Rp250 juta subsidair enam bulan kurungan.

Saat membacakan hal-hal yang memberatkan, penuntut umum Haerudin mengungkapkan, Hassan berpura-pura menderita sakit permanen dengan memakai kursi roda. "Padahal, selama ditahan di Rutan KPK, terdakwa sehat seperti manusia biasa dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk kegiatan berolah raga tanpa memakai kursi roda," ujarnya.

Ketika dikonfirmasi, Hassan yang masih terduduk di kursi rodanya, bungkam. Pengacara Hassan, Tito Hananta Kusuma mengaku, pada awalnya Hassan memang bisa berdiri. Belakangan, Hassan sering jatuh. Bahkan, sempat ditolong oleh sesama tahanan Rutan KPK, M Yagari Bhastara Guntur dan Sutan Bhatoegana.

2. Udar Pristono Lupa Pakai Kursi Roda
Mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Udar Pristono seharusnya menjalani sidang pembacaan putusan pada Senin, 23 September 2015. Akan tetapi, Udar tidak hadir di persidangan karena sakit. Majelis hakim yang dipimpin Artha Theresia menunda sidang pembacaan hingga Rabu, 25 September 2015.

Di hari pembacaan putusan, Udar datang ke Pengadilan Tipikor Jakarta dengan menggunakan kursi roda dan didampingi perawat. Walau mengaku masih sakit, Udar siap mendengarkan pembacaan putusan. Udar yang terduduk di atas kursi roda dibawa ke dalam ruang sidang dan berganti kursi dengan kursi terdakwa.

Kursi roda Udar diletakan di sisi kanan ruang sidang dekat kursi penuntut umum. Majelis pun membacakan vonis Udar. Meski Udar dihukum lima tahun penjara karena terbukti menerima suap Rp78 juta, Udar dinyatakan lepas dari tuntutan pidana korupsi bus TransJakarta dan tidak terbukti melakukan pencucian uang.

Usai pembacaan putusan, Udar langsung bangkit dari kursinya untuk menyalami majelis hakim. Lalu, Udar berjalan menuju tim pengacaranya. Udar sempat lupa jika dirinya menggunakan kursi roda sambil berjalan menuju luar ruang sidang. Sampai akhirnya ada seorang pengawal tahanan yang kembali mendudukan Udar di kursi rodanya.

3. OC Kaligis Keukeuh Minta Dirawat Inap
Dalam persidangan, 22 September 2015, penuntut umum KPK Lie Putra Setiawan membeberkan kronologis pemeriksaan kesehatan OC Kaligis saat advokat senior ini menjalani pembantaran. Sebelumnya, OC Kaligis memang meminta pembantaran untuk operasi pemasangan kateter atau ring jantung di RSPAD.

Majelis hakim pun membantarkan OC Kaligis selama lima hari, terhitung sejak Kamis, 17 September 2015 hingga Senin, 21 September 2015. Ternyata, ketika OC Kaligis menjalani observasi, dokter spesialis jantung di RSPAD, dr Ismi menyatakan kondisi jantung OC Kaligis masih baik, sehingga tidak perlu pemasangan ring.

Dr Ismi mengatakan OC Kaligis sudah diperbolehkan pulang pada sore hari tanggal 18 September 2015. Namun, OC Kaligis bersikeras tidak mau pulang dan meminta dirawat inap sampai 21 September 2015 sebagaimana penetapan hakim. Dr Ismi menolak dan hanya menyanggupi sampai Sabtu, 19 September 2015.

Tiba-tiba OC Kaligis mengajukan alasan baru, yaitu keluhan sakit kepala. OC Kaligis keukeuh tidak mau kembali ke rutan dan meminta dirawat inap sampai batas waktu pembantaran yang ditetapkan hakim. Padahal, sesuai surat keterangan dr Ismi, OC Kaligis sudah diperbolehkan pulang pada Sabtu, 19 September 2015.

Demi menghormati keluhan sakit kepala OC Kaligis, penuntut umum mempersilakan OC Kaligis untuk beristirahat. Berselang beberapa menit, OC Kaligis meminta perawat masuk ke ruangannya. Setelah perawat pergi, OC Kaligis mengaku tensinya tinggi. OC Kaligis ingin diperiksa dokter spesialis syarat bernama Andre.

Sementara, dr Ismi merekomendasikan agar OC Kaligis diperiksa dokter spesialis syaraf yang ketika itu sedang berjaga, yaitu dr Bambang. OC Kaligis menolak untuk diperiksa dr Bambang dan tetap ingin diperiksa dr Andre. Alhasil, dr Bambang merekomendasikan OC Kaligis untuk meminum obat penurun tensi.

Keesokan harinya, pada 20 September 2015, OC Kaligis tidak melakukan pemeriksaan, serta hanya menerima kunjungan pengacara, keluarga, dan relasinya. OC Kaligis baru kembali ke Rutan Guntur pada 21 September 2015 pukul 15.00 WIB. Pengacara OC Kaligis sempat memprotes kronologis pemeriksaan yang dibeberkan penuntut umum.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.