Rabu, 16 Desember 2015
Menertawakan Koruptor, Satu Bentuk Sanksi Sosial
Orang ingin jujur saja sulit di Indonesia.
RZK
Dibaca: 4998 Tanggapan: 0
Menertawakan Koruptor, Satu Bentuk Sanksi Sosial
Poster acara Jumat Keramat. Foto: TII
Memperingati Hari Antikorupsi, Hari Hak Asasi Manusia sekaligus ulang tahun lembaga, Transparency International Indonesia (TII) bekerja sama dengan komunitas Stand Up Indo dan Youth Proactive menggelar pertunjukan stand up comedy bertajuk “Jumat Keramat” di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat lalu (11/12). Tema
 
Acara ini dimeriahkan oleh sejumlah komika, sebutan untuk praktisi stand up comedy, yang sering tampil di layar kaca. Mereka antara lain Andi Wijaya alias Awwe, Muhadly Acho, Gilang Bhaskara, Abdur Arsyad, Arief Didu, dan Adriano Qalbi.
 
Untuk diketahui, “Jumat Keramat” adalah istilah yang beken khususnya di kalangan jurnalis terkait aktivitas KPK melakukan operasi tangkap tangan yang ‘kebetulan’ beberapa kali terjadi di hari Jumat. Kebetulan juga, acara stand up comedy yang digagas TII ini juga digelar di hari Jumat.
 
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal TII, Dadang Trisasongko mengungkapkan keprihatinannya atas sejumlah peristiwa miris yang terjadi sepanjang tahun 2015. Pertama, sebutnya, upaya pelemahan KPK yang diawali dengan ditangkapnya Pimpinan KPK Bambang Widjojanto di awal tahun 2015.
 
Menyusul Bambang, penyidik KPK Novel Baswedan juga ditangkap dengan tuduhan kasus dugaan tindak pidana yang terjadi beberapa tahun lalu. Lalu, rencana revisi UU KPK dengan substansi yang terkesan ingin melemahkan KPK digulirkan. Sayangnya, Presiden RI Joko Widodo terlihat tidak berupaya mencegah wacana revisi UU KPK terus bergulir.
 
“Padahal, Presiden tinggal bilang tidak. Dalam sistem ketatanegaraan kita, DPR tidak bisa bikin undang-undang sendiri (harus dengan pemerintah, red),” papar Dadang.
 
Berdasarkan berbagai kejadian yang disebut tadi, Dadang melihat koruptor semakin leluasan di Indonesia. Kondisi ini, menurut dia, tidak bisa didiamkan. Makanya, Dadang mengajak masyarakat untuk terus melawan para koruptor.
 
“Kita bisa melawan koruptor dengan tertawa juga, (karena) menertawakan koruptor itu satu bentuk sanksi sosial juga. Kalau ketemu di mal, tertawakan saja dia (koruptor),” ujar Dadang.
 
Koruptor, kata Dadang, harus dibuat malu atas perbuatannya. Bahkan, Dadang berandai-andai jika suatu saat nanti ditunjuk menjadi Menteri Hukum dan HAM, dia ingin mendirikan sel tahanan koruptor di dalam mal agar koruptor malu bisa dilihat publik.
 
Saat tampil, komika Gilang Bhaskara menyinggung slogan yang selama ini dikampanyekan KPK yakni “Jujur itu Hebat”. Gilang mengaku heran dengan kebiasaan orang Indonesia yang untuk jujur saja harus meminta izin pihak lain. Hal ini, menurut Gilang, menandakan bahwa untuk jujur itu tidak mudah di Indonesia.
 
“Lu pernah nggak ada temen ngomong begini ‘eh, gue bagus dengan baju ini?’ terus kita jawabnya ‘gue boleh jujur atau nggak?’, kenapa mesti minta izin kan harusnya jujur yang bener,” kata Gilang mencontohkan.

Komika lainnya, Muhadly Acho berpendapat korupsi marak karena persepsi sebagian orang Indonesia yang menganggap bahagia itu berarti kaya. Menurut Acho, persepsi itu ada benarnya karena tidak ada orang miskin yang terlihat bahagia. "Orang miskin yang bahagia itu cuma Keluarga Cemara (sinetron di sebuah stasiun televisi swasta yang tayang era akhir 1990-an, RED). Bapaknya tukang becak, ibunya jualan opak tapi bisa terlihat bahagia."  
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.