Kamis, 18 Pebruari 2016
Kiat Sukses Bermediasi Ala Hakim
Sehebat apapun mediator kalau salah satu pihaknya tidak beritikad baik, mediasi tidak akan mungkin berhasil.
AGUS SAHBANI
     0 
Kiat Sukses Bermediasi Ala Hakim
Acara Asia Pacific Mediation Forum ke-7 di Lombok, Rabu (10/2). Foto: ASH
Minimnya tingkat keberhasilan mediasi di pengadilan umum dan pengadilan agama menuntut seorang mediator lebih berperan aktif mendamaikan para pihak yang bersengketa. Makanya, Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi menekankan kembali fungsi dan peranan mediator dalam proses bermediasi di luar pengadilan.
 
Itu sebabnya, tingkat keberhasilan mediasi juga sangat dipengaruhi sikap dan kualitas mediator baik dari kalangan hakim maupun nonhakim yang bersertifikat. Lantas, bagaimana cara sukses keberhasilan mediasi yang berujung pada kesepakatan perdamaian (akta perdamaian) bagi para pihak, khususnya dari kalangan hakim yang berperan sebagai mediator.
 
Di acara konperensi Asia Pacific Mediation Forum ke-7 di  Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jum’at (12/2) lalu, beberapa hakim mediasi berbagi pengalaman cara sukses mendamaikan para pihak yang bersengketa lewat prosedur mediasi. Mereka adalah Wakil Ketua Pengadilan Agama Depok Andi Akram, Wakil Ketua PN Bale Bandung Diah Sulastri Dewi, dan Hakim Pengadilan Agama Cilegon Mohammad Noor.
 
Dari penjelasan para hakim itu, inilah rangkuman kiat-kiat penting agar mediasi sukses.       
 
1. Pahami Masalah
Langkah awal dilakukan mediator mendengar dan memahami masalah yang membelit kedua belah pihak yang bersengketa. Hal ini penting agar mediator mudah menentukan saran pilihan solusi penyelesaian masalah selanjutnya. “Paling urgent bagi mediator pahami dulu apa masalahnya, kalau tidak paham akan sulit. Kalau sudah dipahami dan penyebab masalahnya, kita bisa memilah-milah pilihan solusi terbaiknya apa?” kata Andi Akram.
 
2. Pahami Karakter dan Budaya
Mediator mesti memahami kondisi sifat dan karakter budaya para pihak. Pendekatan sosial ini penting bagi mediator agar memudahkan penyelesaian sekaligus mencari solusi terbaik para pihak. “Kalau pihaknya punya sifat temperamen, jangan kita sikapi dengan sifat yang sama, ini akan sulit. Apakah mereka orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Sunda, masing-masing culture mereka harus dipahami mediator. Ini agar bisa mencairkan suasana,” kata Andi.
 
3. Bersikap netral    
Sikap terpenting seorang mediator harus menjadi penengah yang netral dan bijaksana guna mencarikan solusi terbaik bagi para pihak. Misalnya, seorang mediator dapat memberi dan mengungkap kepentingan tersembunyi para pihak dalam kaukus (pertemuan terpisah). “Kita beri wacana kepada kedua belah pihak dalam kaukus, sehingga dapat terungkap kepentingan tersembunyi para pihak,” kata Diah Sulastri Dewi.      
 
4. Membangun Komunikasi     
Seorang mediator andal juga harus mampu membangun atau membuka komunikasi yang tersumbat dari para pihak. Sebab, pada umumnya pihak-pihak yang tengah berkonflik mengalami komunikasi yang tidak lancar. “Kita sebagai penengah harus bisa membangun kembali komunikasi di antara para pihak agar mereka mau bernegosiasi dan memahami keuntungan penyelesaian sengketa melalui mediasi yang mengedepankan win-win solution,” kata Diah.
 
5. Membangun Kepercayaan  
Tak kalah penting, sikap mediator harus berupaya membangun kepercayaan dari para pihak. Kalau para pihak sudah merasa percaya terhadap mediator akan lebih memudahkan tahapan-tahapan bermediasi. Dapat dipastikan, ujungnya proses bermediasi dapat menemukan titik penyelesaian. Namun, dia mengingatkan satu hal terpenting, semuanya dibutuhkan iktikad baik para pihak.
 
“Sehebat apapun mediator kalau salah satu pihaknya tidak beriktikad baik, mediasi tidak akan mungkin berhasil,” ujar peraih Peace Prize Award 2016 dari Presiden Asociation Asia Pacific Mediation Forum (APMF) saat berlangsungnya konferensi Mediasi Asia Pasifik itu.
           
6. Komitmen Mencintai Perdamaian
Satu hal lagi, menurut Mohammad Noor seorang mediator mesti berkomitmen mencintai perdamaian. Mediator juga dituntut terus belajar terutama menyangkut teknis bermediasi. “Mediator harus terus berefleksi diri, ketika mediasi berhasil (damai), setelah itu apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan mediator. Atau ketika mediasi gagal pun sama, apa yang salah?” ujar salah satu Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Mediasi MA ini.

Misalnya, secara teknis output keberhasilan mediasi adalah kesepakatan perdamaian yang difasilitasi mediator dengan cara mencabut gugatan di pengadilan. Pilihan lain, bisa saja kesepakatan perdamaian itu dimohonkan ke pengadilan untuk mendapatkan putusan akta perdamaian yang ditandatangani para pihak dan hakim pemeriksa.
 
“Putusan akta perdamaian ini memiliki kekuatan eksekutorial dan mengikat untuk dilaksanakan. Nantinya, para pihak cukup mengajukan permohonan eksekusi (ke pengadilan) mengenai isi akta perdamaian itu,” tambah Mohammad Noor.
 
Anda sudah bersiap menjalankan kiat-kiat ala hakim ini? Para advokat sudah menyuarakan pentingnya sosialisasi.

 
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.