Selasa, 23 February 2016
Lantaran Sakit Hati, Bocah 12 Tahun 'Ceraikan' Orang Tua
Memutuskan hubungan hukum agar orang tua kandungnya tak bisa membatalkan adopsi dan meminta hak asuh kembali.
KAR
Dibaca: 31542 Tanggapan: 0
Lantaran Sakit Hati, Bocah 12 Tahun 'Ceraikan' Orang Tua
Ilustrasi: BAS
Gregory Kingsley, bocah berusia dua belas tahun asal Kansas, Amerika Serikat, mengajukan gugatan ke Pengadilan Orlando. Ia meminta majelis hakim untuk memutuskan hubungannya dari orang tua kandungnya, sehingga tak ada lagi hubungan hukum antara dia dengan kedua orang tua biologisnya itu.
 
Gugatan itu lahir dari rasa sakit hati Gregory terhadap ayah dan ibunya. Ia merasa diabaikan dan tidak diharapkan lahir ke dunia. Pasalnya, setelah kedua orang tuanya bercerai, Gregory harus hidup bersama dengan ayahnya yang pecandu berat alkohol. Ayahnya yang merupakan teknisi AC itu tak punya pekerjaan tetap. Akibatnya, bersama dua saudara kandungnya dan pacar ayahnya, Gregory harus hidup berpindah rumah dari satu kota ke kota lain. Sementara itu, ibunya sangat sulit dihubungi.
 
Puncaknya, Gregory dikirim ke boys ranch, pertanian besar yang merupakan tempat pengasuhan anak-anak rentan. Namun, rupanya dari tempat itulah titik balik hidup Gregory datang. Ia bertemu dengan pengacara yang juga pembela hak anak, George Russ, yang mengundang Gregory untuk datang ke rumahnya. George sudah memiliki delapan anak. Namun, ia meyakini dirinya harus berbuat sesuatu bagi Gregory. Karenanya, George pun menawarkan diri untuk mengadopsi Gregory.
 
Setelah diadopsi oleh George, Gregory belajar untuk mencintai dirinya dan optimisme mulai bersemi dalan hidupnya. George memang senantiasa memberinya pengertian agar tidak minder meskipun kemiskinan membuat ia tak bisa melakukan hal-hal yang banyak dilakukan anak lain di sekitarnya, seperti bermain sepeda. Perlahan, hidup Gregory mulai berwarna. Ia mengikuti kursus tenis dan saxofon, dan gemar mengikuti kegiatan kepanduan.
 
Namun, di saat dirinya mulai menikmati kehidupan bersama keluarga barunya, tiba-tiba ibu kandung Gregory, Rachel Kingsley, ingin mengasuhnya kembali. “Ini gila! Sebelumnya, ibu saya sendiri yang tidak menginginkan saya sebagai anaknya,” ujar Gregory sebagaimana disadur dari dailymail.
 
Pada saat usianya masih sebelas tahun, Gregory pun mengajukan gugatan kepada pengadilan Orlando. Gugatan itu ia layangkan agar dirinya bisa tetap hidup bersama orang tua adopsinya. Sebab, Gregory meyakini orang tua adopsinya bisa member warna bahagia dalam kehidupannya.
 
Pada tahun 1992, pengadilan Orlando mengabulkan gugatan Gregory. Ia pun “bercerai” dari kedua orang tua kandungnya. Dengan demikian, tak ada lagi hubungan hukum di antara mereka. Sehingga ibu kandung Grgeory tak berhak untuk mencabut adopsi dan meminta Gregory di bawah pengasuhannya kembali.
 
Tak lama setelah mendengar putusan pengadilan, ayah Gregory, Ralph Kingsley, melakukan bunuh diri. Ia menembak perutnya sendiri dengan pistol. Menurut pengacaranya, Bill Sheaffer, Ralph memang sudah depresi. Beberapa hari sebelum bunuh diri, Ralph baru saja mendengar kabar dari dokter bahwa dia harus melakukan tranplantasi hati akibat tabiatnya menenggak alkohol.
 
Sementara itu, Gregory menyambut baik putusan tersebut. Ia pun mengganti namanya menjadi Shawn dan menyandang nama belakang dari keluarga barunya, Russ. Kini Gregory Kingsley berubah menjadi Shawn Russ.
 
Akan tetapi, pada kenyataannya nama baru belum bisa menghilangkan sepenuhnya luka Shawn sebagai anak yang menginginkan kehangatan keluarga. Saat beranjak dewasa, Shawn dikeluarkan dari kampusnya. Bahkan, dua kali ia mendekam di hotel prodeo lantaran mengonsumsi ganja.
 
“Sebenarnya saya hanya ingin seperti anak lain. Tetapi, keluarga Russ tidak pernah meninggalkan saya. Mereka selalu ada saat saya butuhkan. Sehingga, pada akhirnya saya mengerti apa arti keluarga sesungguhnya,” ujar Shawn.
 
Kini Shawn sadar, setiap anak punya luka kehidupan. Di saat usianya menginjak 32 tahun, kini ia mulai melupakan masa lalunya yang kelam. Shawn bertekad untuk menjadi pria baik-baik, dan mencari pendamping hidup agar kelak dirinya bisa membangun keluarga harmonis yang bahagia.
 
Saat ibu kandungnya meninggal, Shawn mengaku menyesal tak pernah menyapa dan mengobrol dengannya selama persidangan beberapa tahun lalu. Ia mengatakan, telah lama hatinya memaafkan ibunya itu. Dia pun berharap sang ibu bisa beristirahat dengan tenang. “Dia hanya manusia biasa yang memiliki kesalahan,” ungkapnya.

 
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.