Senin, 28 Maret 2016
Mengintip Ragam Hobi Dosen Hukum
Dari nge-trail sampai travelling.
M Akbar Nursasmita/M Faisal Haris/Reza Galuh (ManifesT FH Brawijaya)
     0 
Mengintip Ragam Hobi Dosen Hukum
Searah jarum jam: Ardi Ferdian, Diah Pawestri Maharani, Muhammad Dahlan. Foto: Istimewa
Di tengah tuntutan pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, menjalankan hobi ibarat menemukan oase di padang pasir. Perasaan tersebut juga dirasakan juga oleh para dosen yang notabene selalu dituntut untuk tampil prima dan berpengetahuan luas agar tidak kalah dari mahasiswanya.
 
Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) Muhammad Dahlan mengamini hal tersebut.“Dosen kan juga manusia. Pasti pernah merasa penat dan butuh refreshing,” curhat Dahlan, saat diwawancarai Lembaga Pers Mahasiswa ManifesT di sela-sela jam kosong, Rabu (23/3).
 
Lalu apa yang dilakukan oleh Dahlan saat rasa suntuk datang melandanya? Dahlan mengatakan, ia mengatasi situasi tersebut dengan mengendarai motor trail kesayangannya. Dosen Hukum Tata Negara ini akan berkendara di jalan bergelombang dan berlumpur – atau dikenal dengan off road – untuk menyegarkan pikiran dari rutinitas sehari-hari.
 
Bersama dengan dosen FH UB lain yang memiliki kecintaan yang sama terhadap motor trail, Dahlan memiliki komunitas bernama Justicial Trail Club. “Awal bertemunya pada 2011. Saat itu sayamembawa motor trail ke kampus, kemudian jadi ketemu juga sama dosen yang suka motor trail. Ya sudahakhirnya kita ngobrol-ngobrolkarena sama hobinya, dan jadi sering pergi adventure  bareng deh”, cerita Dahlan.
 
Satu kisah menarik datang saat mereka berkendara ke Gunung Bromo, Malang. Di tengah-tengah perjalanan menuju gunung yang memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu, mereka bertemu pengendara motor trail lain yang tak lain adalah mahasiswa mereka sendiri.
 
“Pernah dulu saya dan beberapa teman dosen pergi ke Gunung Bromo. Ketika itu kami bertemu dengan pengendara lain. Eh ternyata itu mahasiswa Brawijaya dan semuanya adalah mahasiswa Fakultas Hukum. Sekarang jadi anggota JTC itu ada mahasiswa dan alumni juga,” ujar Dahlan.
 
Bercampurnya anggota JTC ini kelak membawa lebih beragam cerita. Ditemui terpisah, Dosen FH UB lainnya yang tergabung dalam JTC, Ardi Ferdian, mengatakan ia pernah diminta tolong menjaga mahasiswa yang hendak ikut off road, oleh orang tuanya. “Sebelum berangkat,mereka (orang tua mahasiswa) datang mengatakan menitipkan anaknyakepada saya,” ungkap Ardi.
 
“Mereka mengatakan anaknya belum pernah ikut nge-trail sebelumnya. Tetapi ya mungkin karena ada dosen yang ikut, jadi merasa ada yang bisa menjaga anaknya makanya diizinkan,” imbuhnya.
 
Ardi memang memiliki hobi yang hampir serupa dengan Dahlan. Namun lingkupnya lebih luas lagi. Dosen pengajar mata kuliah hukum pidana ini tak hanya suka berkendara dengan motor, tetapi juga sepeda dan mobil. Selain JTC, Ardi tergabung di Komunitas VolksWagen dan Toyota Rush Indonesia.
 
Memulai kecintaan terhadap kendaraan beroda sejak SMP, Ardi bersyukur bahwa menjadi dosen tidak menghalanginya hobinya yang satu itu. Ia mengatakan tidak ada masalah terkait pembagian waktu antara hobi dan pekerjaan karena kegiatan belajar mengajar di kampus libur pada hari Sabtu dan Minggu.
 
“Kalau urusan membagi waktu sebenarnya malah sekarang urusannya dengan keluarga. Anak saya yang sering menuntut saya kalau jarang ada waktu sama dia. Kalau dulu saya bisa  setiap minggu sekalimenjalani hobi di akhir pekan, tapi sekarang mungkin hanya sebulan sekali atau bahkan malah lebih lama,” tutur Ardi, Kamis (24/3).
 
Berbeda dengan dua pria di atas, dosen cantik Diah Pawestri Maharani memiliki cukup banyak hobi untuk membantunya menghalau rasa bosan. Di antaranya Diah suka membuat roti, menjahit, menyanyi, dan menciptakan lagu. Baru-baru ini, hobi Diah pun bertambah, yaitu berkelana atau travelling.
 
Berawal dari kesempatan yang datang untuk mengunjungi berbagai tempat sejak menjadi dosen, kecintaan Diah untuk travelling mulai muncul. Awalnya memang “jalan-jalan” ini sebatas dibiayai dana tugas perjalanan, tetapi sekarang tak jarang Diah juga harus merogoh kantongnya sendiri untuk bisa menekuni hobi tersebut.
 
Namun, ia tak mau melewatkan kesempatan mendatangi berbagai tempat hanya untuk jalan-jalan atau berfoto-foto. Dosen hukum perdata yang tergolong dosen muda ini menerapkan konsep academic travelling setiap ia berkunjung ke tempat-tempat yang baru ia datangi.
 
“Saya merasa dengan traveling saya bisa mempelajari budaya, lifestyle, dan mengetahui aturan negara lain. Hal itu kan bisa menambah wawasan kitayaselain kemampuan saya dalam membaca peta juga semakin terasah,”ucap Diah yang juga sering melakukan studi banding informal ke sekolah-sekolah dan universitas di luar negeri.
 
Berkaitan dengan hukum adat sebagai ilmu yang didalaminya, perempuan yang menyebut dirinya sebagai academic traveler di akun instagram @diahpawestrimaharaniini, ia berharap bisa menemukan lebih banyak juga pengetahuan terkait masalah masyarakat adat di Indonesia dan di luar negeri.
 
**Artikel ini merupakan bagian dari Program Rechtschool yang dilaksanakan oleh Hukumonline berkolaborasi dengan para Mitra Rechtshool yang terdiri dari lima organisasi pers fakultas hukum ternama di Indonesia yakni Mahkamah FH Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Vonis FH Universitas Padjadjaran (Bandung), LPM FH Universitas Sriwijaya (Palembang), LPMH Eksepsi FH Universitas Hasanuddin (Makassar), dan Manifest FH Universitas Brawijaya (Malang).
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.