Senin, 10 October 2016
Polisi Yakin Bisa Rampungkan Penyidikan Kasus Korupsi SKK Migas
Pengusutan kasus telah berjalan setahun lebih tapi belum juga naik ke tahap penuntutan. Bahkan sejak kasus ini terkuak pada Mei 2015, Kepala Bareskrim sudah mengalami pergantian tiga kali.
ANT | Sandy Indra Pratama
Dibaca: 2813 Tanggapan: 0
Polisi Yakin Bisa Rampungkan Penyidikan Kasus Korupsi SKK Migas
SKK Migas. Foto: www.skkmigas.go.id

Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto masih optimistis bisa merampungkan penyidikan kasus korupsi dan pencucian uang dalam penjualan kondensat yang melibatkan PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI) dan SKK Migas pada 2009.
 
"Masih proses, kasus kondensat tinggal sedikit lagi. Ini masih menunggu hasil audit tambahan," kata Ari Dono di Jakarta, kemarin.
 
Pengusutan kasus ini telah berjalan setahun lebih tapi belum juga naik ke tahap penuntutan. Bahkan sejak kasus ini terkuak pada Mei 2015, Kepala Bareskrim sudah mengalami pergantian tiga kali yakni dari Komjen Budi Waseso, Komjen (Purn) Anang Iskandar, terakhir Komjen Ari Dono.
 
Ari menyebut, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah menyelesaikan perhitungan perkiraan kerugian negara (PKN) kasus ini sebesar 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp35 triliun.
 
Kendati demikian, perhitungan PKN harus direvisi karena kemungkinan adanya tambahan kerugian negara.
 
"Hasil pengolahan kondensat kan ada yang menjadi aromatik dan ini dijual. Makanya perlu audit tambahan," katanya.
 
Sebelumnya, berkas kasus ini sudah diserahkan tahap pertama ke Kejaksaan Agung pada Selasa (29/3/2016). Namun dikembalikan dengan disertai petunjuk jaksa untuk dipenuhi penyidik Bareskrim.
 
Berkas yang diserahkan ke Kejagung tersebut adalah berkas ketiga tersangka yakni mantan kepala BP Migas Raden Priyono, mantan deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono dan mantan dirut TPPI Honggo Wendratno.
 
Dari tiga tersangka itu, dua tersangka yakni Raden Priyono dan Djoko Harsono sempat ditahan di Bareskrim. Namun akhirnya penahanan keduanya ditangguhkan dengan alasan sakit.
 
Sedangkan Honggo masih berada di Singapura usai menjalani operasi jantung pada 2015.
 
Pihak Bareskrim telah mengeluarkan daftar pencarian orang (DPO) bagi Honggo.
 
Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 2 dan atau Pasal 3 UU Pemberantasan Tipikor dan atau Pasal 3 dan Pasal 6 UU Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.


 
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.