Rabu, 12 Oktober 2016
Dua Pengacara Didakwa Menyuap Dua Hakim PN Jakarta Pusat
Salah satu hakim yang dimaksud merupakan anggota majelis hakim dalam perkara terdakwa Jessica Kumala Wongso -terdakwa yang dituntut 20 tahun penjara karena dalam kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin.
ANT | Sandy Indra Pratama
Dibaca: 4780 Tanggapan: 0
Dua Pengacara Didakwa Menyuap Dua Hakim PN Jakarta Pusat
Advokat Raoul Adhitya Wiranatakusumah yang menjadi tersangka suap panitera PN Jakarta Pusat menjalani pemeriksaan di KPK, Rabu (10/8).

Ahmad Yani dan Raoul Adhitya Wiranatakusumah yang merupakan pengacara di kantor Wiranatakusumah Legal and Consultant didakwa memberi atau menjanjikan uang sejumlah 28 ribu dolar Singapura kepada dua hakim PN Jakarta Pusat.
 
"Terdakwa Ahmad Yani bersama-sama dengan Raoul Adhitya Wiranatakusumah memberi atau menjanjikan sesuatu yaitu seluruhnya 28 ribu dolar Singapura kepada hakim Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya melalui Muhammad Santoso dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili," kata Jaksa Penuntut Umum KPK Pulung Rinandoro di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Rabu (12/10).
 
Partahi Tulus Hutapea diketahui adalah anggota majelis hakim dalam perkara terdakwa Jessica Kumala Wongso -terdakwa yang dituntut 20 tahun penjara karena dalam kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin- sedangkan hakim Casmaya adalah hakim yang juga banyak menangani perkara korupsi salah satunya anggota majelis hakim dalam perkara suap kepada Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta Sudung Situmorang dan Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati DKI Jakarta Tomo Sitepu.
 
Uang itu diberikan agar Partahi selaku ketua majelis hakim dan Casmaya selaku hakim anggota majelis memenangkan pihak tergugat dalam perkara perdata yang diwakili Raoul Adhitya Wiranatakusumah yaitu PT Kapuas Tunggal Persada (KTP), Wiryo Triyono dan Carey Ticoalu melawan pihak penggugat PT Mitra Maju Sukses (MMS). Satu anggota majelis hakim yang lain adalah Agustinus Setya Wahyu dengan panitera pengganti Muhammad Santoso. (Baca: Advokat Raoul Diperiksa KPK dalam Kasus yang Melilitnya)
 
Setelah beberapa persidangan, pada 4 April 2016, Raoul menghubungi Santoso dan menyampaikan keingian untuk memenangkan perkara tersebut yaitu agar majelis hakim menolak gugatan PT MMS.
 
"Muhammad Santoso lalu menyarankan agar Raoul menemui Partahi Tulus Hutapea selaku hakim ketua majelis perkara tersebut," kata jaksa Pulung.
 
Pada 13 April 2016, Raoul datang ke PN Jakpus untuk menemui Partahi, namun karena tidak ada di ruangannya maka Raoul menemui Casmaya. Selanjutnya pada 15 April 2016, Raoul baru berhasil menemui Partahi dan Casmaya di ruangan hakim lantai 4 PN Jakpus untuk membicarakan perkara tersebut.
 
Pada Juni 2016, Ahmad Yani diajak Raoul ke PN Jakpus dan diperkenalkan dengan Santoso dan berkomunikasi terkait perkembangan perkara itu karena Raoul berencana pergi keluar negeri.
 
Pada 17 Juni 2016, Raoul menemui Santoso di PN Jakpus dan menjanjikan uang sebesar 25 ribu dolar Singapura agar majelis menolak gugatan. Uang untuk majelis itu rencananya akan diserahkan melalui Santoso sehingga Santoso akan mendapatkan imbalan 3.000 dolar Singapura. Ahmad Yani ditugaskan untuk menegaskan janji pemberian uang itu.
 
"Muhammad Santoso mengatakan 'ya udah oke' dan kemudian menyampaikan hal ini kepada Casmaya selaku salah satu anggota majelis hakim," tambah jaksa Pulung. (Baca juga: Ini Profil Tersangka Advokat yang Dicari KPK)
 
Pertemuan selanjutnya terjadi pada 22 Juni 2016 dengan Raoul datang menemui majelis hakim yaitu Partahi Hutapea dan Casmaya di ruang kerjanya di PN Jakpus.
 
Uang diambil di Bank CIMB Niaga cabang Thamrin pada 24 Juni 2016 sebesar Rp300 juta oleh Raoul ditemani Ahmad Yani. Selanjutnya Ahmad Yani ditugaskan menukar uang ke mata uang dolar Singapura menjadi 30 ribu dolar Singapura terdiri dari pecahan 1000 dolar Singapura dan sisanya Rp3 juta.
 
Raol kemudian minta Ahmad Yani memisahkan uang untuk Partahi dan Casmaya selaku majelis ke amplop putih dengan tulisan "HK" berisi 25 ribu olar Singapura dan bagian Santoso dalam amplop putih tulisan "SAN" berisi uang 3.000 dolar Singapura, sedangkan sisa uang yang ditukarkan disimpan.
 
Hasilnya, pada 30 Juni 2016, majelis hakim yang diketuai Partahi Tulus Hutapea, beranggotakan Casmaya serta Agustinus Setya Wahyu membeirkan putusan gugatan penggugat yaitu PT MMS tidak dapat diterima. Setelah pembacaan, Ahmad Yani dihubungi Santoso yang memberitahukan perkara telah dimenangkan.
 
"Karena itu Santoso meminta uang yang telah dijanjikan sebelumnya sebab salah satu anggota majelis hakim yaitu Casmaya juga menanyakan hal itu kepadanya," ungkap jaksa Pulung.
 
Uang disepakati diambil oleh Santoso di kantor Wiranatakusumah Legal and Consultant di Menteng. Santoso tiba di lokasi pada sore hari dan menerima uang 28 ribu dolar Singapura dari Ahmad Yani.
 
Atas dakwaan tersebut, Ahmad Yani didakwa berdasarkan pasal 6 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.
 
Pasal tersebut mengenai memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; dengan ancaman pidana paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp750 juta.
 
Atas dakwaan tersebut, Ahmad Yani tidak mengajukan eksepsi (nota keberatan).


 
Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.