Kamis, 20 Oktober 2016
Hakim yang Juga Pengadil Jessica Disebut Berterima Kasih Saat Dijanjikan Uang oleh Advokat
Advokat Raoul mengaku menyesal, meski merasa tidak semua isi dakwaan benar.
Novrieza Rahmi
Dibaca: 22770 Tanggapan: 0
Hakim yang Juga Pengadil Jessica Disebut Berterima Kasih Saat Dijanjikan Uang oleh Advokat
Raoul Adithya Wiranatakusumah, tersangka suap panitera PN Jakarta Pusat usai diperiksa sebagai saksi di KPK. Foto: NOV
Penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Iskandar Marwanto mendakwa advokat Raoul Adithya Wiranatakusumah memberikan atau menjanjikan uang sejumlah Sing$28 ribu kepada dua hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Casmaya dan Partahi Tulus Hutapea, yang diserahkan melalui seorang panitera pengganti PN Jakarta Pusat, Muhammad Santoso.

"Dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara gugatan perdata Nomor: 503/PDT.G/2015/PN.JKT.PST antara PT Mitra Maju Sukses (MMS) sebagai penggugat, melawan PT Kapuas Tunggal Persada, Wiryo Triyono, dan Carey Ticoalu sebagai tergugat," katanya saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (19/10).

Iskandar mengatakan, perkara gugatan tersebut diadili oleh Partahi dan Casmaya, masing-masing selaku ketua dan anggota majelis hakim. Pemberian uang itu dimaksudkan agar putusannya memenangkan kepentingan Raoul, advokat pada Firma Hukum Wiranatakusumah Advocate & Legal Consultant, yang merupakan kuasa hukum ketiga tergugat.

Dalam uraian dakwaan yang dipaparkan penuntut umum, terungkap bahwa Raoul pernah bertemu Partahi dan Casmaya untuk membicarakan perkara gugatan yang ditanganinya. Bahkan, Raoul sempat menyampaikan kepada Partahi akan memberikan Sing$25 ribu untuk majelis hakim. Atas penyampaian Raoul, Partahi mengucapkan "terima kasih".

Sebagaimana diketahui, Partahi yang menjadi ketua majelis dalam perkara gugatan PT MMS juga merupakan salah satu anggota majelis hakim perkara pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala. Sementara, Casmaya adalah hakim PN Jakarta Pusat yang juga banyak menangani perkara korupsi.

Peristiwa ini bermula dari gugatan PT MMS melawan PT KTP, Wiryo, dan Carey. Setelah beberapa kali mengalami perubahan anggota majelis hakim, hingga akhirnya ditetapkan Partahi selaku ketua majelis hakim, Casmaya dan Agustinus Setia Wahyu selaku anggota majelis, serta Santoso selaku panitera pengganti.

Iskandar menyatakan, ketika sidang masuk dalam tahap pembuktian, pada 4 April 2016, Raoul menghubungi Santoso dan menyampaikan keinginannya memenangkan perkara itu. Santoso lalu menyarankan agar Raoul menemui Partahi. Berselang beberapa hari, pada 13 April 2016, Raoul datang ke PN Jakarta Pusat untuk menemui Partahi.

Namun, Partahi tidak berada di ruangan, sehingga Raoul menemui Casmaya. Pada 15 April 2016, Raoul kembali ke PN Jakarta Pusat dan berhasil menemui Partahi dan Casmaya di ruangan hakim, lantai 4 Gedung PN Jakarta Pusat. Lantas, Raoul bersama dua hakim tersebut membicarakan perkara gugatan PT MMS melawan PT KTP, Wiryo, dan Carey.

Selanjutnya, pada awal Juni 2016, Raoul memperkenalkan stafnya, Ahmad Yani kepada Santoso. Raoul juga meminta Yani untuk berkomunikasi dengan Santoso terkait perkembangan perkara dan melaporkan hasilnya kepada Raoul. Saat bertemu Santoso pada 17 Juni 2016, Raoul menyampaikan akan memberikan Sing$25 ribu untuk majelis hakim dan Sing$3000 untuk Santoso.

Iskandar mengungkapkan, pada 20 Juni 2016, Santoso memberitahukan sikap majelis kepada Raoul melalui SMS. "Isinya, 'Ang 1 sdh ok tinggal musy besok sy ke ang 2'. Terdakwa menegaskan kembali mengenai sikap ketua majelis dengan menanyakan, 'siap' 'km ok?' dan dijawab 'ok' oleh Santoso," ujarnya.

Sehari kemudian, Yani menyampaikan keinginan Raoul untuk bertemu majelis hakim kepada Santoso. Santoso pun menyampaikan kepada Casmaya bahwa Raoul akan datang menghadap pada 22 Juni 2016, serta menyampaikan janji Raoul yang akan memberikan uang Sing$25 ribu untuk majelis hakim. Saat itu, Casmaya menanggapi, majelis baru akan menggelar musyawarah.

Masih di hari yang sama, sekitar pukul 19.36 WIB, Santoso melalui SMS memberitahukan hasil pembicaraannya dengan Casmaya kepada Raoul. "Yang dibalas oleh terdakwa, 'siap beh jam 9 saya hadir', lalu dijawab oleh Santoso, 'langsung ke bos ya nanti sy intip dulu'," demikian isi komunikasi SMS Santoso dan Raoul.

Setelah uang disiapkan, Raoul memerintahkan Yani memisahkan uang untuk majelis dan Santoso ke dalam amplop putih. Amplop putih bertuliskan "HK" berisi uang sejumlah Sing$25 ribu dipertuntukan bagi majelis hakim dan amplop bertuliskan "SAN" berisi uang Sing$3000 untuk Santoso. Sementara, sisanya, dipisahkan dalam dua amplop yang distaples nota pembelian dollar Singapura sejumlah Rp3 juta dan amplop cokelat berisi uang Sing$2000.

Alhasil, pada 30 Juni 2016, Yani melaporkan perkembangan putusan gugatan. Majelis hakim yang diketuai Partahi, serta beranggotakan Casmaya dan Agustinus melalui putusan Nomor : 503/PDT.G/2015/PN.JKT.PST menyatakan gugatan penggugat (PT MMS) tidak dapat diterima.

Menurut Iskandar, pasca pembacaan putusan, Santoso yang sebelumnya sudah berkomunikasi dengan Raoul, bertemu Casmaya saat mengantri absen pulang. Ketika itu, Casmaya menanyakan kepada Santoso mengenai rencana pemberian uang oleh Raoul. (Baca Juga: Advokat Raoul Wiranatakusumah Ditahan, KPK Buka Peluang Pengembangan Kasus)

"'Bagaimana itu Raoul?' dan dijawab Santoso, 'besok pak'. Selanjutnya, Santoso menghubungi Yani menanyakan kapan uang untuk majelis hakim dan dirinya dapat diambil, dengan mengatakan, 'Undian kapan sy ambil'. Atas pertanyaan Santoso, Yani melaporkannya kepada terdakwa melalui Whatsapp, dan dijawab, 'jalanin sesuai rencana'," terangnya.

Menindaklanjuti perintah Raoul, Yani menyerahkan amplop berisi Sing25 ribu untuk Partahi dan Casmaya melalui Santoso, serta amplop berisi Sing$3000 kepasa Santoso. Raoul juga memerintahkan kepada Yani agar amplop berisi Sing$2000 dimasukan ke rekening miliknya di Bank Niaga sejumlah Sing$1000, sedangkan sisanya, Sing$1000 diberikan Raoul kepada Yani.

Iskandar menambahkan, sesaat setelah penyerahan uang, Yani, Santoso, beserta barang bukti diamankan petugas KPK untuk proses hukum lebih lanjut. Atas perbuatannya, Raoul didakwa dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, subsidair Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, lebih subsidair Pasal 13 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Menanggapi dakwaan penuntut umum, Raoul dan tim pengacaranya tidak mengajukan nota keberatan (eksepsi). Raoul mengaku menyesal atas kejadian yang menimpanya. "Meski tidak semua isi dakwaan benar. Masalah ini memisahkan saya dengan keluarga dan anak saya yang masih kecil. Saya berharap persidangan dapat dilanjutkan dengan sebaik-baiknya," tuturnya.

 
Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.