Minggu, 30 Oktober 2016
Lawyer Ini Gemar Mengoleksi dan Belajar dari Karakter Action Figure
Pertarungan antar action figure dengan musuh-musuhnya sama seperti dunia lawyer yang penuh tantangan, sehingga dibutuhkan kemampuan untuk menghadapi tekanan.
Hasyry Agustin
Dibaca: 13292 Tanggapan: 0
Lawyer Ini Gemar Mengoleksi dan Belajar dari Karakter Action Figure
Alfin Sulaiman, lawyer yang gemar mengoleksi dan belajar dari karakteristik action figure. Foto: RES
Batman, Superman, Spiderman, Satria Baja Hitam, Goggle Five, merupakan tokoh-tokoh kartun yang mengisi masa kecil. Kini, tokoh-tokoh (action figure) super hero itu dibuat berbentuk lego yang bisa kita temukan di toko mainan anak-anak.

Selain disukai anak-anak, ternyata ada juga lawyer yang hobi mengumpulkan lego action figure sebagai hobi. Selain penghilang stres, karakter para action figure itu dijadikan sebagai pemcau semangat ketika bekerja sebagai lawyer.  

Adalah Alfin Sulaiman, Partner dari Sulaiman & Herling yang mengaku suka mengumpulkan lego action figure dari film-film semasa ia masih kecil. Dia mengaku terhibur dan bahagia dengan mengoleksi lego-lego action figure tersebut.

“Ada prinsipsurround yourself with your world, kelilingilah disekitarmu dengan duniamu. Dan saya merasa bahwa action figure ini memang dunia saya dan sangat saya senangi,” katanya kepada hukumonline di kantornya, di Bilangan Mega Kuningan. (Baca Juga: Syamsul Arief, Hakim yang “Kecanduan” Olahraga Lari)

Bukan hanya senang dan terhibur melihat lego action figure, terkadang Alfin menyempatkan diri untuk memainkannya. Lego-lego action figure itu biasa Alfin simpan di kamar, bahkan ada yang dia bawa ke kantor untuk pajangan. Alfin mengaku mulai gemar mengumpulkan action figure sejak duduk di bangku SMP. Sampai saat ini, ia sudah mengoleksi 100 karakter action figure.

“Dengan melihatnya saja kalau sedang stres, langsung hilang stresnya,” ujarnya sambil tertawa.
Namun ternyata hobi Alfin tersebut banyak mendapatkan pertanyaan dari orang-orang sekitar. Mereka menanyakan apakah ada manfaat dengan mengumpulkan action figure tersebut, apalagi hobinya itu bisa dikatakan sebagai sebuah pemborosan atau menghambur-hamburkan uang.  

“Banyak yang bertanya, buat apa buang-buang duit untuk beli mainan seperti ini. Saya juga bingung jawabnya apa, tapi saya sangat bahagia dengan mengumpulkan mereka,” kata Alfin. (Baca Juga: Advokat Ini Temukan Sensasi Lewat Hobi Memancing)

Menurut Alfin, dirinya tidak memiliki budget bulanan untuk membeli lego action figure. Akan tetapi, bila sewaktu-waktu ia menemukan lego action figure yang bagus di jalan, biasanya dia langsung membelinya.
Lego action figure paling fantastis yang dia beli dengan harga Rp3,5juta ketika jalan-jalan ke Negeri Sakura, Jepang. Menurutnya, harga lego action figure di Jepang bisa lebih murah dibanding di Indonesia yang harganya bisa dua kali lipat.

“Dapat yang paling mahal dari seluruh koleksi saya dan juga yang paling jauh dari Jepang dengan kategori Real Action Hero,” kata Alfin.

Batman dan Robin adalah action figure favorit Alfin. Menurutnya, Batman dan Robin hanya mengandalkan kemampuan fisik dan kecerdasan yang dimiliki sebagai seorang manusia. Dengan melihat dua action figure tersebut, dia merasa termotivasi untuk bekerja sebagai seorang lawyer. (Baca Juga: Lawyer-Lawyer ini Hobi Selami Keindahan Bawah Laut)

Alfin menyamakan pertarungan antar action figure dengan musuh-musuhnya sama seperti dunia lawyer yang penuh tantangan, sehingga dibutuhkan kemampuan untuk menghadapi tekanan. Inti dari semuanya, kata Alfin, adalah tantangan.

“Kalau kita tonton di waktu kecil, boleh dibilang jagoannya tidak pernah kalah tiap episode. Sebenarnya di situ ada pesan khusus bahwa karakter yang ideal harus bisa mengatasi keadaan apapun dalam setiap kondisi, begitu juga dengan lawyer, saya harus seperti itu,” ujarnya.

 
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.