Kamis, 21 September 2017
Tips dari In House Counsel Bank Dunia untuk Mahasiswa Hukum
Kata perempuan berdarah Nigeria itu, sukses berkarir perlu dirintis sejak di bangku perkuliahan.
Norman Edwin Elnizar
Dibaca: 2853 Tanggapan: 0
Tips dari In House Counsel Bank Dunia untuk Mahasiswa Hukum
Sandie Okoro (tengah) in house counsel Bank Dunia, bersama jurnalis hukumonline (kanan) di Jakarta, Rabu (20/9). Foto: ISTIMEWA
Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera yang didirikan dengan visi pembaruan hukum kembali menerima kunjungan tokoh inspiratif bagi para mahasiswanya. Rabu (20/9) siang, mereka kedatangan Sandie Okoro, Senior Vice President and Group General Counsel di Bank Dunia (World Bank). Didampingi stafnya dari kantor perwakilan di Indonesia, Sandie berbagi tips dari pengalamannya meniti karir di profesi hukum kepada para mahasiswa hukum.
 
Perempuan berdarah Nigeria yang dilahirkan di London, Inggris itu punya cita-cita besar sejak kecil. Ia yang tumbuh di masa ketika rasisme dan intoleransi masih sangat kental di Barat terdorong untuk mengambil kuliah hukum dan menjadi seorang hakim. Meskipun mendapat cibiran dari sebagian temannya, Sandie tidak menyerah. “Bercita-cita yang besar dan percayai insting Anda,” katanya bersemangat di hadapan mahasiswa dan dosen yang hadir menyimak.
 
Sandie awalnya diminta berbincang mengenai tantangan yang dihadapi profesi hukum di tingkat global, namun ia memilih berbagi pembelajaran dari pengalamannya hingga menjadi petinggi di Bank Dunia saat ini dengan mengepalai bagian hukum. “Saya tidak akan membicarakan hal-hal yang besar atau tentang Bank Dunia. Saya akan membicarakan perjalanan saya sejak masih seperti Anda duduk di sana, hingga akhirnya duduk di sini di hadapan Anda,” ujarnya mengawali diskusi.
 
(Baca juga: Pembaharu Hukum Harus Berani Ambil Keputusan Cermat Bagi Kemajuan Bangsa).
 
Berdasarkan pengalamannya, Sandie berbagi tips kepada para mahasiswa STHI Jentera agar sukses meniti karir. Hal pertama yang harus dipegang, menurut dia, selalu percaya pada insting. Betapapun banyak cemoohan, Sandie menceritakan keyakinannya untuk mengikuti insting telah menjadi kunci keberhasilannya hingga sekarang. “Ikuti insting Anda. Ini tentang hidup Anda dan bukan mereka. Jangan takut dan lakukan apa yang benar-benar Anda inginkan. Titik!” katanya.
 
Menurut Sandie, menjadi sukses dalam bidang apapun termasuk karir di profesi hukum membutuhkan keinginan dan keyakinan yang kuat. Oleh karena itu, jika insting diikuti dengan percaya diri akan menggiring siapapun pada puncak kesuksesannya. Kalaupun akan menggiring pada hal yang sulit, insting akan selalu menggiring pada hal-hal besar.
 
“Kita terlalu banyak menampung informasi sampai lupa mengambil pelajaran dari insting hewan saat mereka bisa menyelamatkan diri dengan benar dari ancaman, hanya dengan instingnya,” lanjutnya.
 
Tips kedua, percaya pada kemampuan diri sendiri. Pengalaman Sandie, dalam perjalanan karir yang semakin tinggi pada akhirnya seseorang akan dipercaya bukan karena kemampuannya mengerjakan suatu hal namun kepribadian yang teruji dalam rekam jejak profesionalnya.
 
(Baca juga: 4 Tips Kepemimpinan ala Bupati untuk Mahasiswa Hukum).
 
Sebagai in house counsel di Bank Dunia yang mengepalai bagian hukum, ia mengakui pekerjaan teknis dikerjakan oleh tim, sementara ia mengawasi dan memotivasi. Namun ia ditunjuk untuk memimpin karena semua rekam jejak yang pernah dibuktikannya sepanjang karir. Dan hal itu diawali dengan kepercayaan dirinya dalam setiap pekerjaan yang ditangani. Untuk itu, setelah mengikuti insting tentang hal apa yang harus dilakukan maka dibutuhkan kepercayaan diri dalam menuntaskannya. Kalaupun ada kesulitan di perjalanan, kepercayaan diri serta kenyamanan hati karena sudah mengikuti insting akan membuat seseorang berpikiran positif hingga selalu membawa pada jalan keluar. “Pada akhirnya saya menjadi pejabat dengan posisi hakim, dan saya terus berkarir hingga sekarang di Bank Dunia,” ungkapnya.
 
Capaian Sandie sangat sulit dibayangkan bagi perempuan yang kala itu masih banyak mengalami diskriminasi Barat terlebih statusnya sebagai ras berkulit hitam. “Jangan pernah menyerah, selalu bangkit,” ujarnya lagi.
 
Tips lain yang dibagikan Sandie adalah membangun hubungan baik kepada siapapun sejak di bangku perkuliahan. Bersikap rendah hati dan banyak membantu rekan-rekan adalah modal berharga sebagai investasi jangka panjang dalam karir. “Teman-teman belajar Anda saat ini akan menjadi rekan dalam karir hukum di masa yang akan datang, bahkan mungkin orang yang mewawancarai Anda untuk rekrutmen kerja. Buat kesan dan kenangan yang baik karena ingatan tidak akan terhapus,” kata Sandie.
 
(Baca juga: 6 Tips Kuliah Hukum yang Asyik).
 
Menurutnya, jika mampu membangun hubungan baik dengan siapapun sejak masa muda akan menjadi modal relasi untuk mencapai sukses. Hubungan baik ini dibangun dengan integritas. “Integritas adalah brand anda, sekali hilang tidak akan pernah kembali lagi, bangun sekarang juga,” tambahnya.
 
Di era internet saat ini Sandie menambahkan bahwa semua informasi tentang seseorang bisa ditelusuri melalui media sosialnya. “Mereka pasti akan mencari tahu soal anda dari google,” katanya lagi. Bahkan dalam merekrut timnya di Bank Dunia, Sandie mengakui bahwa hal pertama yang dilakukan adalah mencari tahu sebanyak mungkin informasi para kandidat lewat internet.

Oleh karena itu hubungan baik dan integritas yang tulus harus dibangun sejak muda. “Bersikaplah bahwa saat ini anda adalah seorang Hakim Agung yang berwibawa misalnya,” selorohnya. Karena tidak satupun yang mengetahui perjalanan karir di masa depan, membangun hubungan baik dengan penuh integritas harus dilakukan sebaik mungkin sejak dini.
 
Membicarakan karir dalam bidang hukum dimana para lawyer memiliki kekuasaan besar untuk mempengaruhi hidup banyak orang dengan pekerjaannya, Sandie mengingatkan pula agar mahasiswa hukum harus siap memikul tanggung jawab besar, karena kekuasaan besar datang bersama-sama dengan tanggung jawab besar.
 
Ketika ditanya untuk memilih antara menjadi idealis atau realistis, Sandie meyakinkan untuk selalu bersikap idealis. Karena idealis adalah optimisme sementara realistis seringkali didorong pesimisme. Bagi Sandie, optimisme adalah hal gratis yang jangan dibuang betapapun sulitnya.
 
“Lakukan apa yang ingin anda lakukan, ikuti passion  serta cita-cita Anda bersamaan. Ini bukan soal memilih salah satunya, jalankan keduanya, dan Anda akan sukses,” pungkasnya.
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.