Mengenang Guru Besar, FH UI Resmikan Ruang Bhenyamin Hoessein
Berita

Mengenang Guru Besar, FH UI Resmikan Ruang Bhenyamin Hoessein

Prof. Bhen dikenang sebagai sosok teladan, akademisi tulen yang mengabdi hingga akhir hayat.

Oleh:
Norman Edwin Elnizar
Bacaan 2 Menit
Peresmian ruangan Prof. Bhenyamin Hoessein di FH UI. Foto: NEE
Peresmian ruangan Prof. Bhenyamin Hoessein di FH UI. Foto: NEE

Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) meresmikan satu lagi ruangan baru di FH UI yang diberi nama sesuai nama seorang Guru Besar. Kali ini nama  Bhenyamin Hoessein, seorang Guru Besar Hukum Administrasi Negara, yang diabadikan. Sosoknya dikenang sebagai seorang perfeksionis, disiplin, sistematis, namun rendah hati namun humoris.

 

Tradisi yang lazim di berbagai kampus kelas dunia untuk mengenang Guru Besar ini tidak lepas dari dukungan para alumni. Kali ini Alumni FH UI Angkatan 1990 yang menjadi penyumbang pembangunan ruangan. Jumat (15/12) menjadi momen peresmian ruangan di FH UI yang baru selesai direnovasi dan diberi nama Ruang Prof. Bhenyamin Hoessein.

 

Guru Besar yang menggeluti ilmu bidang pemerintahan daerah ini tutup usia pada Februari 2016 lalu di usia 76 tahun. Namun kenangan dan karya-karya Prof Bhen—begitu ia biasa disapa para muridnya—selalu hidup dalam lintasan sejarah dunia hukum dan ketatanegaraan Republik Indonesia. Salah satu karya pentingnya ialah ikut menyusun berbagai payung hukum pemerintahan daerah mulai dari UU No.5 Tahun 1974, UU No.22 Tahun 1999, hingga UU No.32 Tahun 2004.  

 

Prof.Bhen yang terlahir dari keluarga keturunan Arab bermarga Bawazier dilahirkan dan tumbuh di Tegal sebelum pindah ke Jakarta sejak SMA. Mengawali karir sebagai pegawai negeri di Lembaga Pertahanan Nasional, Bhen memilih melanjutkan karir sebagai akademisi sejak 1971 selepas meraih gelar sarjana hukum di FH UI. “Kita bersyukur pernah diajar Prof.Bhen, banyak sekali ilmu yang kita dapatkan dari Prof.Bhen,” ujar Dekan menjabat FH UI, Topo Santoso dalam sambutan pembuka dari pimpinan FH UI.

 

(Baca juga: Selamat Jalan Profesor Bhen).

 

Di angkatan 1990 FH UI sendiri ada anak bungsu Prof.Bhen yang pernah mengalami diajar sosoknya sebagai dosen. Fahmy Hoessein menceritakan kepada hukumonline bahwa meskipun diajar ayahnya sendiri, ia tetap diperlakukan seperti mahasiswa lainnya. Fahmy menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang gemar membaca dan menulis. “Kalau kita lagi duduk, dia mungkin bisa dua halaman nulis sambil bicara. Dari dalam hatinya memang seorang akademisi,” katanya. Fahmy juga mengaku bahwa sosok ayahnya yang mencintai ilmu menjadi dorongan baginya menuntaskan pendidikan hingga selesai doktoral di FH UI.

 

(Baca juga: Transaksi Berkembang, Perlindungan Investor Perlu Diperkuat).

 

Salah satu karya Bhen tentang pemerintahan daerah yang merekam perjalanan pemikiran, pandangan dan ilmu yang dia ajarkan adalah Perubahan Model, Pola, dan Bentuk Pemerintahan Daerah: dari Era Orde Baru ke Era Reformasi. Buku ini merekam dinamika kebijakan pemerintahan daerah sejak 1974 hingga 2004. Selama rentang waktu itu pula Bhen terlibat langsung dalam penyusunan payung hukum pemerintahan daerah, UU No. 5 Tahun 1974, UU No. 22 Tahun 1999, dan UU No. 32 Tahun 2004. Ia juga berkali-kali diundang sebagai narasumber dalam pembahasan RUU lain.

 

Istri Bhen, Seha, turut hadir dalam peresmian ruangan yang mengabadikan nama suaminya ini. Kepada hukumonline ia menceritakan secuplik kesan mendampingi sosok Prof.Bhen selama 47 tahun. Menurut wanita lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) jurusan pendidikan administrasi ini, suaminya orang yang mencintai ilmu.

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait