Kamis, 04 Januari 2018
Pejuang Keadilan dari Surabaya
​​​​​​​Trimoelja D. Soerjadi, Pengacara Pedesaan Berjiwa Merdeka
Salah seorang advokat kawakan Indonesia yang lebih memilih tetap berkantor di luar Jakarta adalah Trimoelja D. Soerjadi. Sebagian dari kiprahnya di dunia advokat Indonesia akan disajikan dalam beberapa tulisan.
Muhammad Yasin
     0 
​​​​​​​Trimoelja D. Soerjadi, Pengacara Pedesaan Berjiwa Merdeka
Trimoelja D Soerjadi. Foto: NEE

Keinginan untuk menuliskan kiprah Trimoelja D Soerjadi di dunia advokat sudah lama dibahas di rapat redaksi hukumonline. Ada banyak pertimbangan yang mengemuka, dan banyak pula sudut pandang yang disampaikan. Trimoelja adalah salah seorang advokat kawakan Indonesia yang kiprahnya dikenal dan dikenang banyak orang.

 

Keinginan itu semakin bertambah ketika Pak Tri –begitu Trimoleja disapa kolega dan teman—menjadi ketua Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika, sebuah tim pengacara Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kala itu, Basuki sebagai Gubernur DKI Jakarta, didakwa melakukan tindak pidana dan diproses di Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang bersidang di auditorium Kementerian Pertanian.

 

Beberapa kali awak redaksi hukumonline menyambangi Pak Tri sebelum atau sesudah sidang untuk mengajukan satu dua pertanyaan. Selaku ketua tim pengacara Pak Tri memang banyak dicari jurnalis dan menjadi narasumber utama untuk menjelaskan kasus Basuki itu dari perspektif penasihat hukum.

 

(Baca juga: Tim Pengacara Ahok Beragam Latar, Ini Daftarnya)

 

Perkara Ahok bukan kasus pertama yang melambungkan namanya ke pentas nasional. Jauh sebelumnya, Trimoelja sudah dikenal sebagai advokat yang menangani kasus-kasus yang menarik perhatian publik. Kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah salah satunya. Kasus pembunuhan ini menjadi perhatian nasional dan internasional karena memperlihatkan represi kekuasaan terhadap aktivitas gerakan buruh.

 

Kali lain, Trimoelja menunjukkan komitmennya untuk membela kasus-kasus yang menimpa kalangan pers. Ia, misalnya, menjadi pengacara yang mengadvokasi gugatan terhadap keputusan Menteri Penerangan Harmoko. Sebaliknya, ia tak menolak mewakili tentara untuk menggugat media massa. Begitulah, sejarah mencatat sebagian dari kiprah kepengacaraan Pak Tri.

 

 

Untuk menuliskan sebagian dari kisah perjalanan hidup Pak Tri itu, redaksi juga harus membuka kembali dokumen-dokumen dan literatur lama mengenai perkara-perkara yang pernah ditangani Trimoelja. Tentu saja, dokumen yang paling banyak membantu adalah buku 65 Tahun Trimoleja D Soerjadi, Kendala Menegakkan Keadilan dan Kebenaran, dan buku Trimoelja D Soerjadi Manusia Merdeka: Sebuah Memoar (2014). Buku pertama dirilis bersamaan dengan ulang tahun ke-65 Trimoelja, sedangkan buku kedua dipersembahkan untuk ulang tahunnya yang ke-75.

 

Trimoelja dilahirkan di Surabaya 7 Januari 1939 dari keluarga yang menggeluti dunia hukum. Bapaknya, Mr. R Soerjadi, adalah pensiunan hakim (pernah menjadi Ketua Pengadilan Negeri Bondowoso) yang kemudian menjalankan profesi advokat. Ibunya, RA Soemarti Rajoeng Wulan. Keluarga memanggil Pak Tri sebagai Waras, nama yang diberikan dokter sebagai ‘doa’ agar Trimoelja sembuh dari sakit-sakitan waktu kecil.

 

Jika tidak ada aral melintang, pada 7 Januari 2018 Trimoelja memasuki usia 79 tahun. Usia itu menunjukkan pula lamanya kiprahnya di dunia advokat Indonesia. Ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, Trimoelja magang di kantor advokat bapaknya. Ia juga pernah menjadi anggota legislatif di DPRD Jawa Timur. Ia berhasil menyelesaikan studi hukumnya dalam waktu 22 tahun.

 

Rencana penulisan sedikit terhambat karena setelah sidang Ahok selesai (berkekuatan hukum tetap), Pak Tri kembali menjalani rutinitas sebagai advokat di Surabaya. Meskipun namanya sudah menasional, Pak Tri tetap enggan memindahkan kantor hukumnya ke Jakarta. Pada September lalu, ia menghabiskan waktu 15 hari di rumah sakit untuk menjalani opname. Kondisi Pak Tri terbaring di rumah sakit sempat beredar di media sosial, dan melahirkan simpati teman dan koleganya.

 

Redaksi hukumonline menunggu kondisi Pak Tri membaik untuk meminta waktu wawancara khusus. Gayung bersambut. Lewat Komunikasi telepon genggam, Pak Tri bersedia meluangkan waktu untuk wawancara di kantor hukumnya di Surabaya. Kepada jurnalis hukumonline, Pak Tri menyebut dirinya sebagai advokat pedesaan. Banyak bercerita yang disampaikan Pak Tri tentang perjalanan hidupnya sebagai advokat dan menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi kepengacaraan Indonesia saat ini. “Kan kelihatan saya kurus ya,” ujar Trimoelja ketika disambangi jurnalis hukumonline.

 

Hasil beberapa kali wawancara itulah yang kami sajikan menjadi beberapa tulisan. Tentu saja hasil wawancara itu masih harus ditambah wawancara dengan orang-orang yang selama ini pernah bekerja bersama, ditambah sejumlah dokumen atau literatur. Jadilah serial tulisan pendek mengenai advokat senior Trimoelja D. Soerjadi. Ia menyebut dirinya sebagai advokat pedesaan dan dalam menjalankan profesinya berpikir merdeka seperti tertuang dalam memoar yang diterbitkan 2014 lalu.

 

Tulisan semacam ini dilandasi harapan agar perjuangan, spirit, dan bagian-bagian hidup yang mengilhami dari tokoh-tokoh hukum bisa diteladani. Dalam konteks itu pula, sebelumnya redaksi hukumonline telah menyajikan serangkaian tulisan tentang tokoh dunia peradilan Bismar Siregar, dan akademisi yang telah menghasilkan puluhan karya di bidang hukum perdata, J. Satrio. Ke depan, tokoh-tokoh lain juga akan mendapatkan porsi sesuai dengan momentum dan ketersediaan bahan.

 

Selamat membaca!

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.