Sabtu, 13 Januari 2018
Pesan Lawyer Agar Komika Tak Terjerat Masalah Hukum
Sebaiknya hal-hal sensitif, terutama yang berbau agama tidak dijadikan bahan lelucon.
M-26
0
Pesan Lawyer Agar Komika Tak Terjerat Masalah Hukum
Arry Wibowo. Foto: Dokumen Pribadi

Arry Wibowo, pengacara dan juga seorang komika turut menanggapi kasus Joshua Suherman dan Genrifinadi Pamungkas. Menurutnya, terlalu jauh jika mereka berdua dianggap melakukan penodaan agama. Hal ini dikatakan Arry kepada hukumonline via pesan elektronik, Sabtu (13/1).

 

“Mungkin iya jika jokes mereka dianggap membuat sekelompok orang merasa tersinggung, tapi untuk jadi penghinaan, penistaan, atau penodaan agama, harus dilihat apakah unsur-unsurnya terpenuhi,” katanya.  

 

Arry menegaskan, ia membela bukan karena sesama komika. Tapi ia mengajak semua untuk mencermati kembali materi yang disampaikan oleh dua komika yang tersandung persoalan hukum tersebut.  

 

“Kalau kita lihat konteksnya secara utuh, itu sebenarnya jokes tentang tokoh politik atau tokoh agama? Jadi jika ada yang tersinggung, saya juga belum tahu mereka tersinggung karena merasa agamanya dihina atau tokoh politiknya yang dihina,” kata Arry soal materi Ge Pamungkas dalam acara stand up commedy yang berujung laporan kepada polisi.

 

Sementara, materi Joshua, menurut Arry, memang terkesan lebih tendensius. “Materi jokes-nya tentang agama yang berbeda dari agama dia. Selain kesimpulan yang diambil kurang tepat dan bias, apakah benar bahwa pemeluk agama mayoritas punya jaminan lebih sukses berkarir dari pemeluk agama minoritas, sampai mengalahkan bakat?,” tanyanya.

 

Sebagai sesama komika, Arry merasa khawatir dengan adanya kejadian ini. Ia lebih melihat kejadian ini sebagai bahan evaluasi. “Yang bikin khawatir adalah jika situasi seperti ini sengaja terus digoreng, diprovokasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu, malah jadinya menyuburkan sikap intoleransi,” ujarnya.

 

(Baca Juga: Baper Lawyer, Pengacara Ber-Stand Up Lewat Buku)

 

Guna menghindari kejadian serupa terulang kembali, Arry memberi masukan sebaiknya para komika harus tahu batasnya. Namun ‘tahu batasnya’ ini memiliki cakupan luas, misalnya, komika harus sadar terlebih dahulu apakah materi jokes agama akan beneran lucu? Soalnya, banyak jokes tentang agama yang sebenarnya tidak lucu atau bahkan bikin penonton tidak nyaman.

 

“Tapi komikanya tidak sadar. Komika malah merasa keren karena ngebawain jokes yang berat,” ucapnya.

 

Kemudian, Arry menyarankan agar si komika menyadari terlebih dahulu apakah jokes soal agama yang dibawakannya membuat pemeluk agama lain tersinggung atau sebaliknya. Arry sendiri mengaku memiliki beberapa jokes tentang agama yang terpaksa tidak pernah dibawakan dikarenakan kekhawatiran ada unsur-unsur pasal penghinaan atau penistaan agama di dalamnya.

 

“Apalagi agama saya sendiri mengajarkan bahwa ayat-ayat suci, hadits, atau nabi itu memang sebaiknya jangan dibuat becandaan,” ujarnya.

 

Di samping itu, memasuki tahun politik, Arry mengingatkan memang bisa saja ada kelompok-kelompok tertentu yang senang memprovokasi, memelintir, atau menggoreng isu apa saja untuk kepentingan mereka. Namun bukan berarti Arry melarang orang lain, terutama komika untuk menyampaikan materi stand up yang ada unsur agamanya. Lantas, bagaimana caranya membuat materi yang kritis, lucu, ada unsur agamanya tapi tidak menyinggung dan menimbulkan persoalan hukum?

 

(Baca Juga: Ketika Stand Up Comedian ‘Ngoceh’ Soal Hukum)

 

Pertama, komika harus lebih sensitif dan bijak dengan konten jokes-nya. Mereka harus sadar ada tanggungjawab dan konsekuensi dari setiap materi yang disampaikan. “Ini memang tidak gampang, jadi komika juga jangan sekadar ngejar lucu. Kalau ngejar lucu itu gampang, nyeleneh sedikit soal Nabi/Rasul, ayat suci atau agama, kesannya pasti langsung lucu. Tapi apa iya orang lain tidak tersinggung?” katanya.

 

Di sisi lain, lanjut Arry, banyak juga komika lain yang membahas materi agama, lucu, dan aman-aman saja. Misalnya, pengalaman si komika menahan kentut ketika sholat, atau salah jadi imam, dan lain-lain. “Itu pengalaman yang jujur, natural, dan banyak orang lain mengalami hal serupa, jadi relevan dan sah-sah saja,” ujarnya.

 

Jadi ia menyimpulkan, rumus pertama soal materi agama, jangan membicarakan agama orang lain. Bila si komika itu non-Muslim, jangan mengkritik agama Islam atau umat Muslim karena bisa dinilai tendensius. Hal ini berlaku pula bagi yang Muslim.

 

Kedua, buka wawasan. Khusus konten agama, komika harus pintar bermain dengan benefit of the doubt. Misalnya,  bila membawa isu minoritas sebagai non-Muslim, tapi mengabaikan fakta bahwa di banyak hal dan banyak tempat sebenarnya kaum muslim juga menjadi minoritas. Termasuk mengabaikan fakta bahwa umat Muslim Indonesia jauh lebih toleran daripada umat non-Muslim di belahan dunia lain.

 

“Artinya, fakta jokes yang disampaikan harus bisa dianggap benar atau terjustifikasi, karena tidak bisa dibuktikan sebaliknya,” tutupnya.  

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.