Kamis, 08 Maret 2018
Mantan GM Jasa Marga Divonis 1,5 Tahun
Setia Budi menerima vonis ini. Sedangkan penuntut umum KPK menyatakan pikir-pikir.
Aji Prasetyo
0
Mantan GM Jasa Marga Divonis 1,5 Tahun
Setia Budi (berdiri), mantan GM Jasa Marga Cabang Purbaleunyi saat mendengarkan vonis Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (8/3). Foto: AJI

Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menghukum mantan General Manager (GM) PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Setia Budi dengan pidana penjara selama 1,5 tahun. Selain itu Setia Budi juga diminta membayar denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan dengan perintah tetap berada di dalam tahanan.

 

Menurut majelis, ia terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan memberi satu unit Harley Davidson seharga Rp115 juta kepada Sigit Yugoharto selaku Ketua Tim Pemeriksa BPK yang melaksanakan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu (PDTT) atas pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya dan kegiatan investasi pada PT Jasa Marga.

 

Selain itu, Setia Budi terbukti memberikan fasilitas hiburan malam berupa karaoke sebanyak dua kali dengan nilai masing-masing Rp32,156 juta dan Rp34 juta kepada Sigit dan anggota Tim Pemeriksa lainnya seperti Epi Sopian, Roy Steven, Imam Sutaya, Bernat S. Turnit, Andry Yustono dan Kurnia Setiawan Sutarto.

 

"Mengadili, menyatakan terdakwa Setia Budi telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut sesuai dengan dakwaan pertama. Menjatuhkan pidana oleh karenanya selama 1 tahun, 6 bulan dan denda 50 juta apabila tidak dibayar diganti kurungan 2 bulan," ujar Hakim Ketua Ni Made Sudani dalam amar putusannya, Kamis (8/3/2018).

 

Pemberian tersebut dikarenakan Sigit selaku Ketua Tim BPK yang melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya dan kegiatan investasi pada PT Jasa Marga (Persero) Tbk, telah merubah hasil temuan sementara tim pemeriksa BPK atas temuan PDTT tahun 2015 dan 2016, pada PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi dari sekitar Rp12 miliar menjadi hanya Rp800 juta.

 

Dalam putusan ini, majelis juga mempertimbangkan hal memberatkan dan meringankan. Untuk memberatkan, perbuatan yang dilakukannya bertentangan dengan program pemerintah yang sedang giat memberantas tindak pidana korupsi.

 

"Terdakwa bersikap sopan dan berterus terang, terdakwa tidak pernah dipidana, sudah tidak berpenghasilan dan menjadi tulang punggung keluarga," ujar hakim anggota Agus Salim.

 

Analisa yuridis

Dalam analisa yuridisnya majelis hakim menyatakan berdasarkan Surat Tugas Anggota VII Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Nomor: 34/ST/IX-XX.2/03/2017 tanggal 15 Maret 2017, Tim Pemeriksa BPK yang terdiri dari Dadang Ahmad Rifa'i (Penanggung jawab), Epi Sopian (Pengendali Teknis), Sigit Yugiharto (Ketua Tim), Kurnia Setiawan Sutarto dan Imam Sutaya (masing-masing selaku Ketua Subtim), serta Roy Steven, M. Zakky Fathany, Fahsin Pratama, Andry Yustono, Bernat S. Turnip dan Caecilia Ajeng (masing-masing selaku Anggota Tim) ditugaskan untuk melakukan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) atas pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya dan kegiatan investasi PT Jasa Marga (Persero) Tbk tahun 2015 dan 2016.

 

Pada tanggal 8 Mei 2017 s/d tanggal 10 Mei 2017, Tim Pemeriksa BPK melakukan pemeriksaan terhadap PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi dan selama proses pemeriksaan tersebut menerima fasilitas menginap selama 3 hari di Hotel Santika Bandung yang seluruhnya sebesar Rp7,090 juta dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

 

Pada 31 Juli 2017, PT Jasa Marga (Persero) Tbk melalui Laviana Sri Hardini menerima draft hasil pemeriksaan dari Sigit untuk PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi pada tahun 2015 terdapat temuan berupa Pekerjaan pemeliharaan periodik, rekonstruksi jalan dan pengecatan marka jalan pada cabang Purbaleunyi tidak sesuai ketentuan sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran sekitar Rp3.144.080.373,90 (lebih dari Rp3 miliar).

 

Ada juga item pekerjaan patching (patchroc) jalan tipe 2 tidak dapat diyakini kewajarannya dan berindikasi merugikan perusahaan senilai Rp4.653.147.400,00 (lebih dari Rp4 miliar). Dan pada tahun 2016 terdapat temuan berupa pekerjaan pemeliharaan periodik rekonstruksi jalan dan pengecatan marka jalan tidak sesuai ketentuan sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran sebesar Rp5.942.107.041,00 (lebih dari Rp5 miliar).

 

Kemudian Laviana memberitahukan temuan tersebut kepada Setia Budi yang langsung direspon dengan meminta Saga Hayyu menemui Laviana untuk mengklarifikasi temuan tersebut. Setelah berkoordinasi dengan pihak internal, sejumlah pejabat PT Jasa Marga melakukan pertemuan dengan Tim Pemeriksa BPK.

 

Hasilnya dalam pertemuan itu, Tim Pemeriksa BPK menjelaskan mengenai temuan kelebihan pembayaran dalam pelaksanaan SFO PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi tahun 2015 dan 2016, kemudian meminta PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi memberikan tanggapan beserta dokumen pendukungnya.

 

Dalam sebuah pertemuan, Setia Budi selaku General Manager memberikan arahan kepada anak buahnya agar tidak ada lagi temuan itu dan meminta untuk mengawal hasil temuan termasuk dukungan dana kepada Tim Pemeriksa BPK. Salah satu buah Setia Budi, Saga Hayyu menerima telepon dari Kurnia Setiawan yang merupakan salah satu Tim Pemeriksa untuk meminta fasilitas hiburan malam dan langsung disanggupi dengan meminta bantuan dana dari PT 3M sebesar Rp200 juta.

 

Pihak Jasa Marga Cabang Purbaleunyi kembali melakukan pertemuan dengan Tim Pemeriksa untuk menyerahkan konsep tanggapan atas temuan tersebut. Dan malam harinya, permintaan fasilitas hiburan malam yang diminta sebelumnya pun dipenuhi dengan memakan biaya sebesar Rp32,156 juta.

 

Pada 10 Agustus 2017, bertempat di Hotel Best Western Premier The Hive Jakarta Timur, Setia Budi dan Saga Hayyu melakukan klarifikasi kepada Tim Pemeriksa BPK, namun klarifikasi tersebut belum dapat diterima. Menindaklanjuti hal itu Setia Budi ingin melakukan pertemuan dengan Epi Sopian, namun ia tidak berada ditempat akhirnya bertemu Sigit di food court Hotel Best Western Premier The Hive Jakarta Timur, untuk membicarakan tentang klarifikasi yang telah dilakukan PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi dan merencanakan pertemuan “rapat malam” di Karaoke Las Vegas Plaza Semanggi pada keesokan harinya.

 

Bahwa benar pada tanggal 11 Agustus 2017, Setia Budi menerima pesan Whatsapp dari Saga Hayyu yang menyampaikan keinginan SIGIT YUGOHARTO membeli 1unit sepeda motor Harley Davidson tipe Sportster seharga Rp95 juta di belakang Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Arcamanik Bandung. Selanjutnya pada akhir kegiatan konsinyering di Hotel Best Western Premier The Hive Jakarta Timur, Sigit memberikan draf temuan hasil pemeriksaan sementara Tim Pemeriksa BPK dengan surat No.14/S/PDTT/JM/TIM/8/2017 kepada Laviana.

 

"Dimana dalam draft tersebut sudah terdapat perubahan pada nilai kelebihan pembayaran atas pekerjaan pemeliharaan periodik rekonstruksi jalan dan pengecatan marka jalan yang dilaksanakan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi pada tahun 2015 sebesar Rp526.488.192,00 (lebih dari Rp500 juta) dan pada 2016 sebesar Rp316.476.390,00 (lebih dari Rp300 juta). Padahal draft temuan tersebut belum dibahas/divalidasi oleh Penanggung Jawab maupun Pengendali Tekhnis Tim BPK dan perubahan tersebut juga diketahui oleh Terdakwa," tutur Hakim Agus.

 

Kemudian Setia Budi bersama sejumlah anak buahnya menuju Karaoke Las Vegas Plaza Semanggi Jakarta Pusat menemui Tim Pemeriksa BPK menemui Tim Pemeriksa BPK yang biayanya mencapai Rp34 juta. "Di ruang karaoke tersebut, Terdakwa menanyakan hal-hal yang perlu diklarifikasi lagi oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi terkait jumlah kelebihan pembayaran yang berubah nilainya pada temuan Tim Pemeriksa BPK, kemudian Epi Sopian menjelaskan bahwa apabila pihak penyedia jasa dapat mengembalikan kelebihan bayar, maka temuan dapat menjadi 'close'," pungkas Hakim.

 

Pada 18 Agustus 2017, Sigit Yugoharto bertemu dengan Setia Budi bersama Saga Hayyu dan Cucup Sutisna di Restoran Mai Suki Pasir Kaliki Bandung dan di Cafe Three Bear Pasir Kaliki Bandung yang membahas permintaan untuk membeli 1 unit sepeda motor Harley Davidson Sportster 883 Tahun 2000 warna hitam Nopol B 5662 JS dengan harga sebesar Rp115 jutamilik Indra Kharisma Rahardi yang beralamat di Riung Bandung.

 

Lalu, Sigit meminta Setia Budi membayar motor tersebut. Setelah itu Setia Budi dan anak buahnya kembali ke kantor PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Purbaleunyi dan memberikan uang Rp115 juta untuk membeli motor Harley Davidson yang diminta Sigit sambil memberikan alamat lengkap penjualnya.

 

Putusan ini sendiri sedikit lebih rendah dari tuntutan Jaksa yang meminta Setia Budi dihukum selama 2 tahun, denda Rp100 juta subsider 3 bulan. Atas putusan ini tim kuasa hukum Setia Budi langsung menerima. "Kami atas nama Terdakwa menerima putusan ini Yang Mulia," ujar salah satu tim kuasa hukum. Sementara itu penuntut umum KPK menyatakan pikir-pikir atas putusan ini.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.