Selasa, 13 Maret 2018
Ini SE Dirjen Perhubungan Udara Soal Ketentuan Power Bank yang Bisa Dibawa ke Pesawat
Dirjen Perhubungan Udara menginstruksikan kepada Kantor Otoritas Bandar Udara untuk melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan Surat Edaran.
M. Agus Yozami
0
Ini SE Dirjen Perhubungan Udara Soal Ketentuan Power Bank yang Bisa Dibawa ke Pesawat
Foto: Setkab

Berkaitan dengan adanya potensi risiko meledak/kebakaran pada Power Bank atau Baterai Lithium Cadangan, maka pada 9 Maret 2018, Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso, telah menandatangani Surat Edaran (SE) Nomor: SE. 015/Tahun 2018 tentang Ketentuan Membawa Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) dan Baterai Lithium Cadangan Pada Pesawat Udara.

 

Seperti dilansir situs Setkab, Selasa (13/3), melalui SE itu, Dirjen Perhubungan Udara memerintahkan kepada Badan Usaha Angkutan Udara dan Perusahaan Angkutan Udara Asing untuk: 1) menanyakan kepada setiap penumpang pada saat proses lapor diri (check-in) terkait kepemilikan pengisi baterai portabel (Power Bank) atau Baterai Lithium Cadangan.

 

2) memastikan bahwa pengisi baterai portabel (Power Bank) atau Baterai Lithium Cadangan yang dibawa penumpang dan personel pesawat harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) atau Baterai Lithium Cadangan tidak terhubung dengan perangkat elektronik lain;

 

b. Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) atau Baterai Lithium Cadangan harus ditempatkan pada bagasi cabin, dan dilarang pada bagasi tercatat; c. Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) atau Baterai Lithium Cadangan yang mempunyai daya jam (Watt-Hour) tidak lebih dari 100 Wh dapat dibawa oleh penumpang;

 

d. Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) atau Baterai Lithium Cadangan yang mempunyai daya jam (Watt-Hour) lebih dari 100 Wh, tetapi tidak lebih dari 16 Wh harus mendapatkan persetujuan dari Badan Usaha Angkutan Udara dan Perusahaan Angkutan Udara Asing dan diperbolehkan untuk dibawa penumpang maksimal 2 (dua) unit per penumpang;

 

e. Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) atau Baterai Lithium Cadangan yang mempunyai daya jam lebih dari 160 Wh atau besarnya daya jam (Watt Hour) tidak dapat diidentifikasi dilarang dibawa ke pesawat udara.

 

Dalam SE itu, Dirjen Perhubungan Udara juga memerintahkan kepada Badan Usaha Angkutan Udara dan Perusahaan Angkutan Udara Asing untuk: 3) bertanggung jawab untuk menyimpan Power Bank yang diserahkan oleh pemilik pada check in counter karena tidak memenuhi ketentuan; dan 4) melarang penumpang dan personel pesawat udara melakukan pengisian daya dengan menggunakan Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) pada saat penerbangan.

 

Melalui SE itu juga, Dirjen Perhubungan Udara menginstruksikan kepada Kantor Otoritas Bandar Udara untuk melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan Surat Edaran ini. “Demikian, untuk dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab,” bunyi akhir Surat Edaran tersebut.

 

Surat Edaran tersebut ditujukan kepada: 1. Para Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara; 2. Para Kepala Unit Penyelenggara Bandara Udara; 3. Para Pimpinan Badan Usaha Angkutan Udara; 4. Para Pimpinan Kantor Perwakilan Perusahaan Angkutan Udara Asing; 5. Para Pimpinan Usaha Bandar Udara; dan 6. Para Pimpinan Penyelenggara Badan Usaha Khusus.

 

(Baca Juga: Ketentuan Power Bank Boleh Masuk Kabin Pesawat)

 

Untuk diketahui, aturan terkait power bank dikeluarkan oleh IATA. Asosiasi maskapai internasional tersebut menyatakan bahwa penyimpan daya (power bank) yang mempunyai kapasitas di bawah 100Wh dapat dibawa dalam bagasi kabin.

 

Sedangkan power bank berkapasitas 100Wh-160Wh harus melalui persetujuan maskapai yang bersangkutan dan power bank dengan kapasitas lebih dari 160Wh sama sekali dilarang dalam penerbangan. Kapasitas 100Wh jika dikonversi dalam mAh (biasa tertulis dalam kemasan power bank) adalah sebesar 27.000mAh. Jadi power bank yang bisa dibawa bebas ke dalam kabin adalah yang berkapasitas di bawah 27.000mAh dengan voltase 3.6V - 3.85V.

 

(Baca Juga: Lima Kasus Maskapai Penerbangan yang Dibawa ke Pengadilan)

 

Surat edaran ini muncul sebagai upaya nyata perlindungan keselamatan dalam penerbangan di Indonesia, mengingat baru-baru ini terjadi ledakan kebakaran power bank akibat meledaknya power bank di tas jinjing yang diletakkan di hatrack dalam sebuah penerbangan di China oleh maskapai penerbangan China, yang menjadi alarm seluruh dunia terhadap potensi ancaman keselamatan penerbangan dengan adanya perkembangan teknology dan kebiasaan sosial penumpang pesawat membawa powerbank ke mana-mana.

 

Menurut Agus, dikeluarkannya SE Nomor 015 Tahun 2018 berkaitan dengan adanya potensi resiko bahaya meledak/kebakaran pada powerbank atau baterai lithium cadangan yang membahayakan keselamatan selama penerbangan. Seperti yang baru-baru ini terjadi dalam sebuah penerbangan di China, yang menjadi alarm seluruh dunia terhadap potensi ancaman keselamatan penerbangan dengan adanya perkembangan teknologi dan kebiasaan sosial orang membawa power bank ke mana-mana.

 

"Mencegah lebih baik daripada mengobati. Surat Edaran ini untuk mencegah agar hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Mengingat sudah adanya kejadian dan kajian terkait bahayanya membawa powerbank dan baterai lithium cadangan dengan ukuran daya tertentu pada penerbangan. Jadi kami mengawasi dari awal terutama terkait besaran daya dari peralatan-peralatan tersebut. Hanya peralatan dengan daya yang besar yang kami tangkal, yang kecil silahkan saja dengan perlakuan tertentu sesuai aturan, hal ini juga mulai diatur diberbagai negara maju dalam hal penerbangan, yang selalu responsif demi menjaga keselamatan penerbangan" ujar Agus.



Agus berpendapat, pencegahan ini sangat perlu karena terkait dengan keselamatan penerbangan yang tidak bisa ditawar. Dengan adanya Surat Edaran ini, petugas regulator dan operator di lapangan mempunyai pegangan terhadap penanganan barang-barang tersebut baik di bandara maupun di saat penerbangan. Agus berharap SE ini dapat dilaksanakan dengan baik, kontinyu dan penuh tanggung jawab. Petugas di lapangan harus dilatih dan diinformasikan terkait surat edaran ini dengan baik. Termasuk di antaranya juga dengan memberi informasi yang jelas kepada para penumpang dan melakukan pemeriksaan tetap dengan simpatik.

 

Di sisi lain, Agus juga menghimbau para penumpang untuk mengikuti dan mematuhi ketentuan dalam aturan tersebut serta bekerjasama dengan petugas terkait segala sesuatu pengaturan dalam SE ini demi keselamatan dan keamanan penerbangan. Karena keselamatan dan keamanan penerbangan adalah tanggung jawab bersama semua pihak, baik regulator, operator maupun penumpang.

 

Sebelumnya, Antara memberitakan belum lama ini warganet dikagetkan dengan video yang menunjukkan penumpang tengah ditahan petugas berwajib setelah diketahui merokok. Video itu menjadi viral setelah diunggah oleh @motulz. Video berdurasi 1 menit 58 detik milik Manuel Buchacher itu telah dilihat lebih dari 22.000 kali dengan dikirim ulang sebanyak 560 kali dan mendapat 190 tanda hati.

 

 

Tak sedikit warganet yang mengomentari video itu. "Biasa naik truk kali ya," kicau @TrisnaKSasmita. Ada pula yang mencuit, "Harusnya biar pesawatnya terbang dulu. Nyampe atas, baru penumpang gila itu diturunin," tulis @benariskandar.

 

VP Communication Citilink, Benny Siga Butarbutar, mengatakan peristiwa itu terjadi pada Minggu (25/2) sesaat sebelum pesawat penerbangan terakhir Citilink Indonesia dengan kode penerbangan QG 156 tujuan Bandara Internasional Halim Perdanakusuma-Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dengan jadwal penerbangan pukul 21.35 WIB tinggal landas.

 

"Menurut laporan yang kami terima, saat keluar dari boarding gate menuju pesawat terbang, penumpang yang bersangkutan terlihat merokok bahkan diteruskan saat menaiki tangga pesawat," ujar Butarbutar saat dihubungi Antara.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.