Selasa, 13 Maret 2018
Kiat Partner Law Firm Ternama Bertahan Puluhan Tahun Sebagai Corporate Lawyer
Tidak banyak yang bertahan dengan beratnya rutinitas pekerjaan sebagai corporate lawyer. Lain halnya dengan 3 partner law firm ternama ini yang justru menikmati dan selalu tertantang setiap kali dihadapkan dengan persoalan baru.
CR-25
0
Kiat Partner Law Firm Ternama Bertahan Puluhan Tahun Sebagai Corporate Lawyer
Ilustrasi foto: HGW

Review berkas bertumpuk-tumpuk, selalu dikejar deadline, mendadak meeting dengan klien dengan materi yang harus sudah terkuasai, siap sedia kapanpun dan di manapun dibutuhkan klien, bekerja tanpa pandang waktu, dan sebagainya. Hal-hal tersebut yang identik dengan pekerjaan sehari-hari yang harus dihadapi oleh seorang corporate lawyer. Maka tak heran jika banyak lawyer baru yang hanya bertahan dalam hitungan tahun, bulan bahkan hari untuk bekerja di profesi dengan tingkat stres yang tinggi ini.

 

Namun demikian, banyak lawyer yang tidak hanya sukses, tapi juga menikmati kesibukan mereka sebagai corporate lawyer hingga puluhan tahun. Salah satunya yakni Ira Andhara Eddymurthy, partner pendiri SSEK Law Firm. Kepada hukumonline, Ira menceritakan bahwa ia telah bergelut dengan profesi ini semenjak 1984. Ira mengaku hingga saat ini belum pernah bosan dengan profesi ini. Bagi Ira, menjadi corporate lawyer justru adalah hal yang menantang.

 

Layaknya Ira, alih-alih merasa bosan dengan rutinitas sebagai corporate lawyer, partner pendiri firma hukum Roosdiono & Partner, Anangga Roosdiono, yang juga telah menjajaki dunia corporate lawyer sejak era 80-an ini, justru merasa tertantang setiap ada perkara baru dari klien. Bertemu dengan klien baru dengan latar belakang yang berbeda, baik dari pemerintahan (BUMN), klien swasta hingga klien asing dari berbagai negara menjadi tantangan tersendiri bagi Ira maupun Anangga.

 

Sementara itu, partner pendiri Ginting & Reksodiputro, Harun Reksodiputro tidak menampik bahwa memang dunia law firm itu tidak untuk semua orang. Ada orang yang memang suka dengan pekerjaan seperti itu ada juga yang tidak suka. Hal terpenting yang harus dimiliki seorang corporate lawyer untuk bertahan, kata Harun, adalah passion atau minat bekerja dan jangan menganggap pekerjaan ini hanya sebatas rutinitas, tapi pandanglah melalui pekerjaan ini kita bisa banyak membantu orang lain menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.

 

“Ketika kita berhasil membantu orang lain memecahkan permasalahannya, maka akan ada kepuasan tersendiri. Rasa kepuasan itulah yang saya pikir membuat orang bisa bertahan di profesi ini,” ungkap Harun kepada hukumonline, Selasa (13/3).

 

Seringkali lawyer-lawyer baru, kata Harun, tidak betah dengan profesi corporate lawyer karena memandang pekerjaan yang mereka lakukan hanya sebatas rutinitas pekerjaan administratif. Tapi sebetulnya pekerjaan administratif itulah yang merupakan bagian dari seluruh solusi yang dicari, karena pekerjaan ini ibaratkan memecahkan sebuah teka-teki. Ketika pekerjaan tersebut terasa semakin sulit dan semakin kompleks, di situlah justru akan jadi banyak belajar.

 

(Baca Juga: Bekal Penting Sarjana Hukum untuk Bekerja di Bidang Korporasi)

 

Ada beberapa skill yang harus dimiliki orang seseorang yang ingin menikmati bekerja di bidang ini, yakni di antaranya skill berkomunikasi. “That’s number one,” kata Anangga Roosdiono. Menurut Anangga, sebagai lawyer kita tidak hanya dituntut untuk pintar berbicara, tetapi gaya berkomunikasi dapat menuntun advokat memahami klien dan mendapatkan jawaban terbaik dari klien, terlebih jika berhadapan dengan pemerintah.

 

Harun Reksodiputro menjabarkan ada 2 jenis skill komunikasi yang harus dimiliki seorang lawyer, yakni skill berkomunikasi secara lisan maupun komunikasi tertulis. Hal ini penting mengingat seorang lawyer bukan hanya harus bisa membuat analisa yang bagus secara tertulis, namun dituntut harus mampu menjelaskan analisa yang sudah ia tulis dengan bahasa yang mudah dipahami.

 

Menurutnya, percuma jika seorang lawyer punya ide yang brillian tapi tidak bisa menyampaikannya. Padahal, ia menambahkan, tujuan lawyer berbicara dengan klien maupun internal tim adalah agar bisa dimengerti. “Skill komunikasi bisa menjelaskan hal-hal yang kompleks secara sederhana,” terang Harun.

 

(Baca Juga: Tips Menyusun CV untuk Melamar di Corporate Law Firm)

 

Skill berkomunikasi tersebut, kata Ira, biasanya banyak didapatkan para mahasiswa saat mengikuti berbagai organisasi di kampus-kampus. Bahkan tak jarang mahasiswa baru yang direkrut SSEK adalah mahasiswa yang dulunya aktif di organisasi kampus, seperti mengikuti moot court misalnya. Jika terus aktif di organisasi, maka rasa kepercayaan diri kita akan tumbuh dan kemampuan berbicara akan semakin terasah.

 

“Anak-anak yang dulunya aktif di moot court saat di kampus itu biasanya communication dan analytical skill mereka luar biasa,” jelas Ira kepada hukumonline, Senin (12/3).

 

Setuju dengan Ira, Anangga juga berpendapat mahasiswa yang dulunya aktif di organisasi memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, namun Anangga menggaris bawahi bukan berarti dia harus berkecimpung secara politik.

 

Selain communication skill, Anangga berpendapat bahwa legal analytical skill menjadi skill lain yang harus dimiliki lawyer agar dapat menikmati profesi ini. Legal skill, kata Anangga, bukan berarti hanya tahu rumusan hukum, tapi yang terpenting adalah dapat memberikan analisa yang tepat terhadap suatu permasalahan hukum.

 

“Jadi tidak hanya terpaku pada aturan yang berlaku, namun harus mampu menganalisa betul bagaimana kasusnya,” ujar Anangga, Selasa (13/3).

 

Harun menambahkan, bahwa sekadar menguasai aturan tidaklah cukup untuk menikmati profesi corporate lawyer, melainkan harus mampu menerapkan pengetahuan itu dalam konteks nyata, mengingat dalam kasus-kasus dan situasi tertentu dibutuhkan kemampuan analisa yang tinggi. Analisa itu, kata Harun, berujung pada solusi, tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa tindakan yang dilakukan klien dilarang.

 

(Baca Juga: Mau Jadi Lawyer Capital Market? Ini Gambaran yang Perlu Diketahui Lulusan Hukum)

 

“Orang kalau datang ke law firm yang dicari adalah solusi, tidak mungkin hanya untuk ngobrol-ngobrol ini dilarang atau tidak, dia pasti meminta kita untuk memecahkan persoalan yang dia hadapi melalui solusi-solusi,” kata Harun.

 

Setiap kali berhasil membantu klien memecahkan persoalan yang mereka hadapi, kata Harun, rasa cinta dengan profesi ini akan tumbuh. Sehingga setiap kali merasa bosan, seorang advokat akan teringat dengan tujuan awal berkecimpung di profesi ini, yakni untuk membantu memecahkan persoalan orang lain.

 

“Itulah alasan mengapa saya tetap bertahan di profesi ini selama bertahun-tahun,” pungkas Harun.

 

Alasan lain yang seringkali membuat orang tidak bertahan menjadi corporate lawyer adalah soal kesehatan, terkurasnya waktu dan tenaga membuat waktu untuk berolahraga menjadi berkurang. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut Anangga, selain harus bekerja keras, tapi juga wajib memikirkan kesehatan. Anangga mengaku selalu menyediakan waktu untuk berolahraga, bahkan saat lebih muda dari saat ini, Anangga tetap melakukan jogging dan golf.

 

Senada dengan Anangga dan Harun, Ira pun selalu menyediakan waktu untuk relax dan tetap berolahraga. Kiat Ira untuk menjaga kebugaran di tengah padatnya rutinitas adalah dengan memperbanyak berjalan kaki, bagi Ira berjalan adalah olahraga yang paling mudah dan murah untuk dilaksanakan.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.